BADAN Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkenalkan teknologi BioReKarst 3S (Reklamasi Tiga Strata Bermikoriza) sebagai inovasi bioreklamasi yang mendukung praktik reklamasi lahan bekas tambang berbasis bioteknologi.
Inovasi yang dikembangkan Pusat Riset Mikrobiologi Terapan BRIN ini mengombinasikan revegetasi tiga strata dengan pemanfaatan fungi mikoriza arbuskular (FMA) melalui pupuk hayati Isomik MK1. Pendekatan tersebut dirancang untuk mendukung pemulihan kondisi tanah dan ekosistem lahan bekas tambang sekaligus mengurangi penggunaan bahan kimia sintetis dalam proses reklamasi.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Mikrobiologi Terapan BRIN, Retno Prayudyaningsih, mengatakan lahan bekas tambang umumnya mengalami kerusakan fisik, kimia, dan biologi tanah, kehilangan lapisan tanah atas (topsoil), serta memiliki kondisi yang sangat sulit ditumbuhi vegetasi.
"Teknologi yang kami hasilkan adalah BioReKarst 3S, reklamasi tiga strata bermikoriza dari tambang menjadi hutan. Jantung dari teknologi ini adalah Isomik MK1, yaitu pupuk hayati berbasis fungi mikoriza arbuskular yang kami isolasi dari kawasan karst terdegradasi," ujar Retno melalui keterangan tertulis, Rabu, 29 Juli 2026.
Retno mengatakan Isomik MK1 diaplikasikan sebanyak 5 gram pada setiap lubang tanam saat pembibitan. Fungi mikoriza kemudian membentuk simbiosis dengan akar tanaman sehingga memperluas daerah perakaran dan meningkatkan kemampuan tanaman menyerap unsur hara, terutama fosfat yang umumnya terbatas pada lahan bekas tambang. Kondisi tersebut berkontribusi terhadap peningkatan tingkat kelangsungan hidup dan pertumbuhan tanaman.
Teknologi BioReKarst 3S tidak hanya berfokus pada penanaman vegetasi, tetapi juga mendorong pemulihan kehidupan biologis tanah. Berdasarkan hasil penelitian yang dipaparkan, penerapan teknologi tersebut meningkatkan populasi bakteri dan jamur tanah dalam kurun waktu sekitar 12 bulan sehingga mendukung proses pembentukan tanah yang lebih sehat.
"Dalam kurun waktu 12 bulan setelah aplikasi revegetasi dan Isomik MK1, populasi bakteri maupun jamur tanah meningkat. Mikroba tanah berperan penting dalam pembentukan tanah dan kesuburannya sehingga pemulihan kehidupan biologis menjadi bagian penting dari proses reklamasi," kata Retno.
Pendekatan revegetasi dilakukan secara bertahap dengan mengadopsi proses suksesi alami. Tahap awal dimulai dengan penanaman cover crop untuk melindungi permukaan tanah dan membantu memperbaiki struktur awal tanah, dilanjutkan dengan penanaman pohon pionir guna meningkatkan biomassa dan bahan organik, kemudian diakhiri dengan penanaman pohon berumur panjang untuk membentuk ekosistem hutan yang permanen.
Selain memanfaatkan bioteknologi, BioReKarst 3S juga mengintegrasikan rekayasa tapak melalui pembuatan lubang tanam menggunakan alat mekanis serta penggunaan hidrogel untuk meningkatkan retensi air. Penggunaan hidrogel tersebut membantu mengurangi frekuensi penyiraman pada musim kemarau sekaligus mendukung pertumbuhan tanaman pada lahan karst yang berbatu.
Retno menambahkan bahwa berdasarkan hasil penelitian, penerapan teknologi tersebut turut meningkatkan kandungan bahan organik, memperbaiki sifat kimia tanah, serta mendukung keberlanjutan ketersediaan nutrisi secara alami tanpa penggunaan bahan kimia sintetis.
"Kami mengadopsi proses suksesi alami sehingga ekosistem dipacu berkembang secara bertahap. Terjadi peningkatan bahan organik, perbaikan kondisi tanah, dan keberlanjutan nutrisi secara alami tanpa adanya input bahan kimia sintetis," kata Retno.
BRIN juga membuka peluang pengembangan BioReKarst 3S melalui produksi massal inokulum fungi mikoriza, penyusunan standar operasional penerapan di lapangan, serta replikasi teknologi pada berbagai kawasan tambang. Dalam jangka panjang, menurut dia, teknologi ini berpotensi dimanfaatkan untuk rehabilitasi kawasan terdegradasi serta membuka peluang penerapan skema carbon offset atau kredit karbon berbasis biomassa hutan.
Teknologi BioReKarst 3S ditujukan untuk mendukung kegiatan reklamasi pada berbagai sektor pertambangan. "Selain itu, teknologi ini juga berpotensi mendukung program rehabilitasi lahan yang dijalankan berbagai pemangku kepentingan dalam upaya pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan," ujarnya.
















































