Dalam beberapa pekan terakhir, cuaca udara pada malam hingga pagi hari di sejumlah wilayah di Indonesia, khususnya Pulau Jawa, terasa lebih dingin dibandingkan biasanya. Kondisi ini dikenal dalam bahasa Jawa sebagai bediding.
Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, Givo Alsepan, menegaskan bahwa bediding tidak secara langsung disebabkan oleh perubahan iklim. Fenomena ini merupakan bagian dari dinamika iklim musiman yang hampir selalu terjadi pada periode Juni hingga September.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Meski demikian, perubahan iklim tetap dapat memengaruhi karakteristik bediding, misalnya waktu awal musim kemarau, tingkat kelembapan udara, frekuensi malam yang cerah, hingga lamanya suhu dingin bertahan.
“Bediding merupakan fenomena atmosfer yang normal terjadi selama musim kemarau. Ia tidak berdiri sendiri, melainkan manifestasi dari proses fisik atmosfer. Kondisi ini terjadi ketika suhu minimum harian turun cukup signifikan akibat pendinginan radiasi yang berlangsung sangat efektif," kata dia melalui keterangan tertulis, Senin, 27 Juli 2026.
Ia menerangkan, salah satu penyebab utama bediding adalah langit yang cenderung cerah pada malam hari. “Minimnya tutupan awan membuat panas yang diserap permukaan bumi pada siang hari lebih mudah dipancarkan kembali ke atmosfer dan luar angkasa saat malam sehingga suhu udara di dekat permukaan turun lebih cepat,” ungkapnya.
Selain itu, udara pada musim kemarau umumnya lebih kering dibandingkan musim hujan. Berkurangnya kandungan uap air di atmosfer membuat panas tidak banyak tertahan sehingga proses pendinginan berlangsung semakin efektif.
"Ketika udara lebih kering, pelepasan panas dari permukaan bumi berlangsung lebih efektif. Akibatnya, udara pada malam hingga pagi hari terasa jauh lebih dingin," ujarnya.
Menurut Givo, kondisi tersebut akan terasa lebih nyata di daerah pegunungan dan dataran tinggi. Selain dipengaruhi elevasi yang lebih tinggi, udara dingin juga cenderung mengalir dan berkumpul di lembah. Bahkan, di kawasan seperti dataran tinggi Dieng, kondisi ini dapat memicu terbentuknya embun beku atau embun upas.
Faktor lain yang turut memperkuat bediding adalah pengaruh angin monsun Australia. Pada periode musim kemarau, Australia sedang mengalami musim dingin sehingga massa udara yang bergerak menuju Indonesia membawa karakter udara yang lebih sejuk dan kering, terutama ke wilayah selatan khatulistiwa seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
“Indonesia saat ini berada pada musim kemarau yang dipengaruhi monsun Australia, sedangkan Eropa, Amerika Utara, maupun sebagian Asia Timur sedang memasuki musim panas,” katanya.
Menurutnya, fenomena El Nino yang sedang berkembang juga berpotensi memperkuat kondisi kemarau di Indonesia. Curah hujan yang lebih rendah, kelembapan udara yang menurun, serta langit yang lebih sering cerah pada malam hari membuat proses pendinginan radiasi berlangsung lebih optimal sehingga peluang terjadinya bediding meningkat.
Selama fenomena ini berlangsung, masyarakat diimbau tetap menjaga kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan. Udara yang dingin dan kering dapat memperburuk gejala influenza, asma, maupun infeksi saluran pernapasan.
Masyarakat juga perlu tetap mencukupi kebutuhan cairan tubuh meskipun cuaca terasa dingin, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan yang cenderung meningkat pada musim kemarau.
Givo memperkirakan fenomena ini berpotensi berlangsung hingga puncak musim kemarau, yakni sekitar akhir Juli hingga Agustus, bahkan di beberapa wilayah dapat berlanjut hingga awal September, bergantung pada perkembangan kondisi atmosfer.
"Masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan karena bediding merupakan bagian dari siklus iklim musiman. Yang terpenting adalah terus mengikuti informasi prakiraan cuaca dan iklim dari BMKG agar dapat mengantisipasi perubahan kondisi cuaca secara lebih baik," ucap dia.

















































