Fondasi Tumbuh Kembang Anak Dimulai dari Sensori

7 hours ago 12

TUMBUH kembang merupakan dua kewajiban utama yang harus dipenuhi dengan parameter berbeda. Tumbuh berkaitan dengan kenaikan fisik yang sesuai usia anak, sementara berkembang berkaitan dengan kemampuan fungsional seperti berdiri dan bicara. Namun, di balik kemampuan tersebut, terdapat fondasi yang sering kali luput dari perhatian orang tua yaitu sistem sensori.

Sebanyak 80 persen kehidupan berasal dari tumbuh kembang anak. Dokter Spesialis Anak Lucky Yogasatria, menjelaskan konsep perkembangan ini melalui analogi Pyramid of Learning atau Piramida Pembelajaran. Seperti membangun sebuah rumah, target utama orang tua biasanya berada di puncak piramida, yakni kemampuan kognitif, akademik, kemandirian, serta perilaku yang baik.

Sistem Sensori yang Lengkap

Namun, piramida ini tidak akan berdiri kokoh tanpa fondasi yang kuat di bagian dasar, yaitu sistem saraf pusat yang didukung oleh sistem sensori yang lengkap. "Kalau kita mau bikin rumah, kita selalu mulai dari fondasinya. Kalau fondasinya bagus, maka rumahnya akan naik ke atas. Kalau fondasinya bermasalah, rumahnya akan goyang," kata Lucky di Jakarta, 6 Mei 2026.

Sensori terdiri dari cahaya, suara, aroma, hingga sistem vestibuler (keseimbangan) dan proporiosptif (posisi otot). Aktivitas sederhana seperti berguling, merangkang, hingga melompat sebelum usia dua tahun adalah cara anak untuk memperkokoh fondasi tersebut.

Dokter Spesialis Anak Lucky Yogasatria menjelaskan pentingnya kebebasan eksplorasi untuk mendukung perkembangan anank di kawasan Cipete, Jakarta, 6 Mei 2026. Tempo/Imanda Zahwa

Masalah perilaku seperti sulit fokus atau anak yang tidak bisa diam, sering kali berakar pada sistem sensori yang belum tuntas terstimulasi atau bahkan terlalu sensitif. Terkadang terjadi pula sensory seeking, di mana anak suka menggigit-gigit karena area mulutnya hiposensitif sehingga dia terus mencari rangsangan sensorik.

Lucky juga menyoroti eksplorasi sensori saat makan. Menurut dia, picky eater (pilih-pilih makanan) tidak melulu soal faktor keturunan. Sering kali, hal ini terjadi karena kurangnya variasi. Secara teori, seorang anak butuh dikenalkan pada jenis makanan atau tektur baru sebanyak 15 hingga 17 kali sebelum mereka benar-benar bisa menerimanya. Sayangnya, banyak orang tua sudah menyerah dan menilai anak sebagai pemilih makanan hanya dalam beberapa kali percobaan.

Kesalahan umum lainnya adalah membiarkan anak makan sambil menonton televisi atau gawai. "Anak itu tidak bisa multitasking seperti orang dewasa. Kalau mereka fokus menonton, mulutnya cuma diam atau mengemut karena perhatiannya tersedot sepenuhnya ke layar," kata dr. Lucky. Solusinya, terapkan feeding rules yang ketat seperti duduk manis, tanpa distraksi gadget, dan biarkan tangan mungil mereka berkesplorasi menyentuh tekstur makanan meski harus berantakan.

Risiko Fisik Eksplorasi di Alam Terbuka

Sementara itu, saat berkeksplorasi di alam terbuka, orang tua perlu memahami risiko fisik. Beberapa langkah yang perlu diterapkan merujuk pada protokl "4C", yaitu calm, celan, disinfect dan cover. Reaksi pertama orang tua sangat menentukan mentalitas anak. Jika orang tua panik, hal itu justru memicu trauma anak. Orang tua harus hadir sebagai penenang dan memberikan ruang bagi anak untuk memproses kejadian tersebut.

Selanjutnya, membasuh luka dengan air mengalir untuk membersihkan kotoran. Setelah bersih, saat proses disinfect Lucky mewanti-wanti agar tidak menggunakan alkohol yang memberikan efek panas dan perih ekstrem. Sebagai gantinya, pilihlah antiseptik dengan kandungan Octenidine yang ampuh mematikan kuman serta Allantoin yang mampu menjaga kelembapan luka. Ini karena kulit anak cenderung lebih tipis dan mudah iritasi (dermatitis atopik). Terakhir, menutup luka menggunakan plester atau kasa yang diganti secara rutin.

Imanda Zahwa berkontribusi dalam penulisan artikel ini

Pilihan editor: Kesehatan Pencernaan Kunci Pertumbuhan Anak

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |