Inisiasi Suara Nusantara, Cahaya Manthovani Bikin Generasi Penerus Jatuh Cinta Lagi dengan Cerita Rakyat

3 hours ago 20

CANTIKA.COM, Jakarta - Berbekal pengalaman hidup dan pendidikan di Hong Kong hingga Korea Selatan, Cahaya Manthovani Managing Director Navaswara menyadari betapa besarnya kekuatan soft selling budaya dalam memperkenalkan sebuah bangsa ke kancah global.

Kesadaran tersebut mendorong ia untuk balik ke Tanah Air dan melakukan aksi nyata agar generasi penerus Indonesia semakin in to dengan budayanya sendiri, sekaligus memperjuangkan kesetaraan bagi kelompok disabilitas.

Melalui inisiatif Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara dan Yayasan Inklusi Pelita Bangsa, perempuan 27 tahun ini merajut aksi nyata yang berdampak mulai dari pelestarian cerita rakyat Nusantara lewat dongeng hingga program gizi gratis untuk sekolah berkebutuhan khusus.

Berikut petikan wawancara eksklusif Cantika bersama Cahaya Manthovani mengenai ikhtiarnya melestarikan nilai-nilai budaya bangsa, perjalanan hidup yang membentuk gaya leadership saat ini, dan kepedulian sosial yang terus dirawatnya.

Apa yang melatarbelakangi lahirnya Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara?

Cahaya Manthovani: Dari SMA sampai kuliah saya tumbuh di Hong Kong dan Korea Selatan. Di Kyungsung University Korea Selatan, saya belajar architectural design selama empat tahun, enam bulan mencari kerja dan bekerja di Seoul sebagai arsitek. Selama tinggal di kedua negara tersebut, saya mengenal budaya mereka.

Dari sana, saya semakin yakin bahwa budaya adalah sarana soft selling yang sangat tinggi untuk mempromosikan sebuah negara. Namun, saya cukup prihatin ketika melihat generasi penerus lebih akrab dengan drakor ketimbang budaya Indonesia sendiri.

Bukan karena mereka tidak tertarik, tapi karena ruang untuk mengenal cerita itu memang semakin sempit. Dari situ saya berpikir, literasi bukan hanya soal kemampuan membaca, tapi juga soal apa yang dibaca dan diwariskan.

Dari keresahan itu, saya melangkah secara bertahap di akar rumput. Saat melakukan riset kecil-kecilan di Perpustakaan Jakarta Taman Ismail Marzuki dan bertanya kepada anak-anak apakah mereka tahu cerita rakyat Indonesia, jawaban mereka justru Harry Potter, Spiderman, atau Avengers. Kita terlalu banyak mengonsumsi budaya luar.

Karena itu, Suara Nusantara lahir di 2025 dalam bentuk perlombaan mendongeng cerita rakyat. Gerakan ini bukan cuma sebagai wadah ekspresi anak-anak dan orang dewasa, melainkan juga ikhtiar saya dan tim untuk belajar lebih dalam tentang budaya Indonesia dan membuat generasi penerus lebih peka terhadap nilai-nilai budaya kita.

Apa tantangan terbesar yang dihadapi selama mempersiapkan festival mendongeng cerita rakyat di 2025?

Cahaya Manthovani: Persiapan dilakukan selama satu bulan dengan koordinasi yang sangat intensif. Salah satu tantangan saya saat itu adalah menambah ilmu cara berdiskusi langsung dengan para pejabat publik.

Ada tata cara komunikasi dan gaya diskusi tersendiri yang harus saya pelajari. Saya melakukan audiensi ke Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Indonesia Teuku Riefky Harsya untuk meminta dukungan sosialisasi.

Alhamdulillah, kami juga mendapat dukungan fasilitas tempat dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) saat acara di Jakarta tahun lalu. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, pun turut hadir.

Rasanya merasa berguna melihat peserta bahagia dan banyak pihak mengapresiasi. Bahkan gerakan kecil kami ini turut menginspirasi pejabat publik lain untuk menggelar acara serupa di tingkat nasional maupun daerah.

Cahaya Manthovani, Managing Director Navaswara, di Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara. Foto: Dok. Navaswara

Bagaimana respons masyarakat dan cakupan wilayah pelaksanaan Suara Nusantara sejauh ini?

Cahaya Manthovani: Alhamdulillah, antusiasme peserta sangat positif. Gelaran pertama di Jakarta diikuti oleh 300 peserta, kemudian di Banten sekitar 500 peserta, dan di Bogor mencapai 1.120 peserta.

Rentang usia peserta cukup beragam, mulai dari 7 hingga 55 tahun. Peserta terbagi dalam empat kategori, yaitu SD, SMP, SMA, serta Perguruan Tinggi/Umum.

Pada gelaran pertama di Jakarta, kategori Perguruan Tinggi/Umum belum dibuka dan peserta hanya diperuntukkan bagi guru. Namun, karena banyaknya permintaan yang disampaikan melalui kolom komentar media sosial, akhirnya kategori tersebut dibuka untuk umum.

Responsnya pun sangat luar biasa. Bahkan, banyak ibu rumah tangga yang turut mendaftarkan diri sebagai peserta.

Apa momen yang paling menyentuh bagi kamu selama perjalanan Suara Nusantara?

Cahaya Manthovani: Ada satu momen yang selalu saya ingat, saat seorang anak yang tadinya sangat pemalu akhirnya berani naik ke panggung dan menceritakan ulang legenda daerahnya dengan cara ia sendiri, lengkap dengan gaya bicara dan gerak tubuh yang ia buat sendiri.

Ekspresi bangga di wajahnya, juga di wajah orang tuanya yang menonton dari bawah panggung, mengingatkan saya bahwa yang kami bangun bukan sekadar festival, melainkan kepercayaan diri yang akan terus mereka bawa jauh setelah panggung itu selesai.

Ada juga momen lain yang justru datang dari anak-anak yang belum menjadi pemenang. Beberapa dari mereka mendatangi saya atau dewan juri, bertanya dengan sungguh-sungguh apa kekurangan mereka dan bagian mana yang perlu diperbaiki. Bukan dengan nada kecewa, melainkan dengan rasa ingin tahu yang besar.

Bagi saya, itu semangat berprestasi yang luar biasa, karena mereka tidak berhenti di kata belum menang, tapi menjadikannya bahan untuk terus tumbuh. Anak-anak seperti itulah yang membuat saya semakin yakin bahwa nilai sebenarnya dari Suara Nusantara bukan pada trofi, melainkan pada karakter yang terbentuk sepanjang prosesnya.

Yang membuat saya semakin yakin gerakan ini bermakna adalah melihat apa yang terjadi setelahnya. Beberapa juara Suara Nusantara dari periode sebelumnya kini mulai diundang sebagai bintang tamu di berbagai acara mendongeng serupa, bahkan mendapat kesempatan tampil di acara Cerita dari Bawah Laut, Sea World Ancol dan di panggung Cultural Fair, Pagelaran Sabang Merauke 2026.

Mereka semakin dikenal, dan yang lebih penting, mereka menemukan bahwa kemampuan bercerita yang mereka latih di panggung kecil kami ternyata bisa membawa mereka jauh lebih jauh dari yang mereka bayangkan.

Cahaya Manthovani, Managing Director Navaswara, di Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara. Foto: Dok. Navaswara

Bagaimana pendekatan Suara Nusantara dalam mengajak masyarakat melestarikan cerita rakyat?

Cahaya Manthovani: Selain lomba mendongeng yang bersifat individu, di babak semifinal, kami mengadakan workshop gratis berkolaborasi dengan Ayo Dongeng Indonesia yang bertindak sebagai juri sekaligus mentor.

Di sana, para mentor mengajarkan teknik artikulasi yang baik dan penggunaan properti secara bijak, seperti utamakan fungsional, relevan dengan cerita, dan mampu menarik perhatian penonton.

Selain lomba mendongeng, inovasi apa lagi yang dihadirkan dalam kegiatan Suara Nusantara?

Cahaya Manthovani: Kami mencoba mengemas dongeng dalam bentuk teknologi modern seperti animasi berbasis kecerdasan buatan (AI animation). Walaupun prosesnya cukup menantang, kami sudah membuat animasi cerita Si Kabayan, Asal-usul Curug Citambur, hingga berkolaborasi dengan Kajari Purwakarta untuk cerita Prabu Siliwangi.

Selain itu, saat acara di Banten, kami berkolaborasi dengan UMKM lokal untuk mempromosikan kriya dan makanan khas, serta menyediakan booth foto AI dengan baju daerah setempat agar masyarakat lebih mengenal pesona budaya dalam busana.

Kami juga bekerja sama dengan Kemendikdasmen untuk membagikan tiga buku gambar dwi bahasa Indonesia dan daerah secara gratis kepada setiap anak yang hadir.

Cahaya Manthovani, Managing Director Navaswara, di Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara. Foto: Dok. Navaswara

Ke mana arah perjalanan Suara Nusantara selanjutnya?

Cahaya Manthovani: Kami menerapkan prinsip belajar bertahap dari wilayah terdekat terlebih dahulu untuk memperkaya pengalaman soal anggaran dan operasional. Setelah Jakarta, Banten, dan Bogor, rencana selanjutnya kami ingin ke Solo, Jawa Tengah. Dan, menambah kategori untuk teman-teman disabilitas.

Karena di Solo terdapat headquarters National Paralympic Committee (NPC) yang memiliki jejaring komunitas disabilitas lebih luas, sehingga kami bisa berkolaborasi memberikan ruang bagi mereka. Selain Solo, kami juga mempertimbangkan Yogyakarta.

Selain Suara Nusantara, kamu juga aktif sebagai Ketua Harian di Yayasan Inklusi Pelita Bangsa. Apa fokus utama dari yayasan ini?

Cahaya Manthovani: Keluarga saya selalu mengajarkan bahwa empati harus terus ada, dan itu tidak cukup hanya dari melihat, tetapi harus ada tindakan nyata dengan turun langsung ke lapangan.

Menurut saya, saat ini atensi dan fasilitas untuk sekolah berkebutuhan khusus masih sangat kurang. Yayasan Inklusi Pelita Bangsa berupaya untuk mendorong para atlet disabilitas dan siswa di sekolah berkebutuhan khusus mendapatkan hak dan fasilitas yang memadai.

Salah satu program yang kami jalankan adalah Makan Bergizi Gratis (MBG) swasta untuk mayoritas sekolah berkebutuhan khusus. Program ini telah menjangkau 5.235 penerima manfaat baik siswa maupun guru.

Lokasinya di 12 kota atau kabupaten yang tersebar di wilayah Banten, Kudus, dan Yogyakarta. Di Banten sendiri, mencakup 12 sekolah di kawasan Tangerang Raya dan Serang.

Bagaimana skema pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tersebut di lapangan?

Cahaya Manthovani: Awalnya pihak orang tua murid sempat skeptis. Namun, kepala sekolah dan guru membantu meyakinkan dan menunya pun dipilih langsung oleh guru dengan pengawasan dari Dinas Kesehatan dan ahli gizi.

Pengolahan makanan melibatkan sebanyak 34 mitra UMKM dapur sekitar yang lokasinya tidak boleh lebih dari 5 km dari sekolah. Setiap dapur UMKM biasanya mempekerjakan hingga 200 orang, termasuk ibu-ibu lansia yang berinisiatif mengajukan diri.

Pengirimannya memanfaatkan jasa pengemudi ojek online, yang alhamdulillah berdampak meningkatkan pendapatan mereka sebesar 30-40 persen, begitu pula para UMKM dapur.

Untuk menjaga kualitas makanan, jika UMKM melanggar SOP sebanyak tiga kali berdasarkan pantauan CCTV dan pemantauan foto harian, kami akan menggantinya.

Pengalaman hidup membentuk fondasi leadership setiap orang. Bisakah menceritakan perjalanan hidup yang membuat value kemandirian kamu?

Cahaya Manthovani: Sikap mandiri salah satu bekal yang membentuk karakter saya saat ini. Sejak usia 14 tahun saya sudah belajar mandiri dan memecahkan masalah sendiri. Saya pernah mencari dan mendaftar sekolah sendiri, serta mengalami bullying di sekolah negeri di Hong Kong.

Saat pindah ke Korea Selatan, ketika teman-teman lain mengalami homesick, alhamdulillah saya bisa beradaptasi dalam seminggu. Saya mempersiapkan diri dengan belajar bahasanya selama enam bulan sebelum pindah.

Dari pengalaman saya, tingkat rasisme di sana cukup tinggi. Cara saya menghadapinya membangun jejaring (networking) lewat makanan. Saya bersama tiga orang sahabat membuat sekitar 100 kue kecil yang diberi inisial nama saya, Haya, lalu membagikannya kepada teman-teman dari kelas 1 sampai kelas 5, ketua himpunan, hingga para profesor. Akhirnya, kami semakin dekat dan support each others.

Pengalaman sebagai penerima dua beasiswa dan iklim kerja di Korea yang serba cepat turut membentuk karakter dan cara berpikir saya menjadi lebih taktis.

Cahaya Manthovani, Managing Director Navaswara. Foto:Cantika/Hendy Mulia Suprapto

Seperti apa gaya kepemimpinan yang kamu terapkan saat ini setelah melewati berbagai pengalaman kerja?

Cahaya Manthovani: Saya pernah mencoba berbagai bidang kerja, mulai dari konstruksi, desain interior, IT UI/UX, hingga terlibat dalam desain e-sport championship sampai art fair di Surabaya.

Namun, saya baru menemukan titik balik ketika di Yayasan Inklusi Pelita Bangsa. Di sana, saya merasa berguna untuk orang lain dan bisa menambah jaringan tanpa terkurung dalam bubble sendiri.

Dari seluruh pembelajaran itu, salah satu gaya kepemimpinan yang saya terapkan adalah menciptakan kenyamanan bagi tim. Singkatnya, memanusiakan manusia.

Saya berupaya untuk mengenal tim lebih jauh dan selalu mengedepankan gaya komunikasi yang sopan dan tidak ragu menggunakan kata "tolong" dalam setiap deadline pekerjaan termasuk saat mendesak.

SILVY RIANA PUTRI

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |