Kebakaran Hutan Terjang Perbukitan Bantul dan Gunungkidul

2 hours ago 10

MUSIM kemarau panjang diwarnai maraknya bencana kebakaran hutan dan lahan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Pekan ini, dalam dari tiga hari saja, si jago merah diperkirakan melahap lebih dari 10 hektare kawasan hutan perbukitan di Kabupaten Bantul dan Kabupaten Gunungkidul.

Bencana kebakaran pertama melanda dua kawasan perbukitan di Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, pada Minggu, 26 Juli 2026. Sedangkan kejadian terbaru di Hutan Blondo, Kecamatan Paliyan, Kabupaten Gunungkidul pada Selasa malam, 28 Juli 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Kebakaran di Bantul disebut menghanguskan sedikitnya delapan hektare lahan yang tersebar di delapan titik hutan yang masuk wilayah Kalurahan Selopamioro dan Kalurahan Wukirsari.

Kepala Seksi Humas Polres Bantul Inspektur Satu Rita Hidayanto mengatakan amukan api pertama kali muncul di kawasan perbukitan Dusun Putat, Kalurahan Selopamioro, sekitar pukul 15.00 WIB. Api lalu cepat menjalar dan membakar sekitar lima hektare tanah Sultan Ground yang letaknya terisolasi dari permukiman.

"Pada peristiwa di Selopamioro luas lahan yang terbakar sekitar lima hektare dan seluruhnya merupakan tanah Sultan Ground yang berada di kawasan perbukitan, jauh dari permukiman warga," ujar Rita, Selasa.

Tak berselang lama, sekitar pukul 16.00 WIB, titik api baru kembali menyala di perbukitan Kalurahan Wukirsari dan membakar tiga hektare lahan warga serta lahan Sultan Ground. Medan perbukitan yang amat curam memaksa petugas, relawan, dan warga memadamkan api secara manual dengan memutus jalur rambatan karena armada pemadam tidak sanggup menjangkau titik lokasi.

Kondisi lahan yang terbakar dipenuhi ranting, dedaunan kering, serta vegetasi berupa pohon jati, bambu, dan sono sehingga api cukup mudah merambat. "Untuk penyebab kebakaran hingga saat ini masih dalam penyelidikan," kata Rita.

Adapun kebakaran Hutan Blondo yang berlokasi di Kalurahan Karangduwet, Kecamatan Paliyan,  Kabupaten Gunungkidul dilaporkan pada Selasa malam, 28 Juli 2026. Kebakaran itu diperkirakan menjangkau lebih dari satu hektare lahan.

Peristiwa di Gunungkidul tersebut pertama kali diketahui oleh seorang aparat BPBD Gunungkidul Riski Firmansyah saat melintas di sekitar kawasan Hutan Blondo pada pukul 18.05 WIB. Dia menyaksikan kepulan asap tebal dan kobaran api membesar di tengah kegelapan malam dan langsung menghubungi Unit Pemadam Kebakaran Gunungkidul yang langsung menuju lokasi.

Regu III Damkarmat Gunungkidul bersama lima personel TRC BPBD dan dua unit mobil pemadam bergerak menembus jalur perbukitan Paliyan. Meski sempat terkendala medan terjal dan kemacetan, tim gabungan berhasil mengendalikan serta memadamkan api sepenuhnya dalam kurun waktu 15 hingga 20 menit.

Sementara Kepala Stasiun Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta Reni Kraningtyas mengimbau masyarakat lebih waspada terkait lebih tingginya potensi kebakaran hutan dan lahan pada musim kemarau kali ini.

Ia menjelaskan bahwa fenomena El Nino tingkat moderat diprediksi bertahan hingga September 2026, ditambahi Dipole Mode Positif yang membuat musim kemarau tahun ini jauh lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologisnya (Bawah Normal). Fenomena El Nino moderat dengan peluang 98 persen ini dapat memicu kekeringan ekstrem mulai bulan Juli hingga Oktober 2026, di mana puncak kemarau diprediksi terjadi pada Agustus.

Reni mengimbau seluruh pihak untuk lebih siap dan antisipatif terhadap dampak kekeringan meteorologis yang berpotensi memicu kebakaran lahan lebih masif, serta mengancam ketersediaan air bersih di wilayah Yogyakarta.

"Masyarakat dan pemerintah daerah perlu lebih siap dan antisipatif terhadap dampak musim kemarau, terutama di wilayah yang rentan terhadap bencana kekeringan meteorologis seperti kebakaran hutan dan lahan," kata dia.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |