Keunggulan RCP, Inovasi BRIN untuk Perlintasan Kereta

6 hours ago 19

BADAN Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengenalkan inovasi Rubber Crossing Plate (RCP), pelat perlintasan kereta berbahan dasar karet yang dirancang menggantikan material konvensional seperti beton dan aspal. Inovasi ini disarankan sebagai salah satu respons terhadap kecelakaan di perlintasan sebidang, termasuk insiden di Bekasi Timur pada April lalu.

Perekayasa Ahli Madya Pusat Riset Komposit dan Biomaterial BRIN, Ade Sholeh Hidayat, mengatakan berbagai kecelakaan di perlintasan sebidang tidak hanya dipicu faktor manusia, tapi juga kondisi teknis lintasan yang belum optimal. Permukaan tidak rata, licin saat hujan, hingga getaran tinggi dapat membuat kendaraan tersangkut atau kehilangan kendali ketika melintas di atas rel.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Ade mengatakan Kelompok Riset Karet Teknologi Tinggi BRIN telah mengembangkan teknologi RCP yang kini memasuki tahap kesiapan implementasi. Material tersebut dibuat dari karet alam yang dipadukan dengan aditif kompatibiliser dan filler khusus sehingga menghasilkan pelat yang elastis, mampu meredam getaran tinggi, tahan terhadap beban statis maupun dinamis, serta tahan cuaca ekstrem dan keausan.

“Kalau kita bicara ilmu material, khususnya karet, RCP itu memang dibuat dari katakanlah hampir 90 persen natural rubber yang dimodifikasi, dibentuk, didesain sehingga memiliki elastisitas yang sangat baik,” kata Ade dalam acara diskusi di kantor BRIN B.J. Habibie, Jakarta, Rabu, 13 Mei 2026.

Ia menyebut material itu memiliki kemampuan menyerap getaran tinggi, lebih tahan terhadap beban berulang, serta dapat didesain agar tidak licin. Menurut dia, karakter tersebut membuat kendaraan dapat melintas lebih stabil dan nyaman di area perlintasan.

“Kan, perlintasan itu jalan raya yang terus menerus kena beban. Nah, material karet ini akan lebih tahan terhadap beban seperti itu dibandingkan material konvensional seperti kayu, beton, atau baja,” tuturnya. 

“Karakteristik yang terpenting dari RCP itu tentu harus memiliki elastisitas yang tinggi supaya bisa menyesuaikan terhadap beban yang ada di antara perlintasan, kemudian juga bisa menyerap vibrasi dari kendaraan yang lewat, dan kemudian yang tadi kita contohkan antislip,” kata Ade menambahkan.

Ade mengatakan, berbeda dengan material konvensional seperti kayu, beton, atau baja yang rentan mengalami retak mikro akibat tekanan berulang, material karet pada RCP dapat kembali ke bentuk semula setelah menerima beban. Sistem pemasangannya juga dibuat modular sehingga memudahkan perawatan dan penggantian bagian tertentu tanpa harus membongkar seluruh pelat.

Selain itu, BRIN menilai Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan teknologi tersebut karena ketersediaan bahan baku karet alam yang melimpah. Ade menyebut riset RCP telah memasuki tahap akhir, desain dan formulanya sudah terdaftar hak kekayaan intelektual (HKI). 

“Tapi untuk implementasi secara nasional tentunya kami juga sudah berkomunikasi dengan PT KAI waktu itu dan rencananya mau uji coba di rel Serpong. Akan tetapi karena ada satu dan lain hal, sampai saat ini belum terlaksana,” ucapnya. 

Ade memperkirakan RCP memiliki usia pakai sekitar 15 hingga 20 tahun, meski ketahanannya tetap bergantung pada kelas jalan dan kondisi cuaca di wilayah pemasangan. Ia juga mengatakan penggunaan pelat perlintasan berbahan karet sudah banyak diterapkan di negara maju, terutama di kawasan perkotaan, karena dinilai mampu meningkatkan keselamatan di perlintasan sebidang. 

“Pada saat mau mengimplementasikan secara nasional, semua stakeholder itu perlu bicara bareng-bareng sesuai kebutuhan dan wilayah,” ujarnya.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |