PBB: 1 dari 5 Warga Gaza yang Diamputasi adalah Anak-anak

2 hours ago 5

PERSERIKATAN Bangsa-Bangsa (PBB) pada Senin 4 Mei 2026 mengingatkan bahwa satu dari lima penderita amputasi di Jalur Gaza merupakan anak-anak. Kekurangan dokter spesialis prostetik dan pembatasan masuknya material ke Jalur Gaza menyebabkan ribuan orang tak mendapatkan perawatan yang memadai. 

PBB seperti dilaporkan Anadolu mengkhawatirkan anak-anak di Jalur Gaza terjangkit beragam masalah medis. “Mengenai kesehatan, kekhawatiran tetap ada berkaitan penyakit kulit dan masalah medis lainnya berhubungan dengan hama serta hewan pengerat,”.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Juru bicara PPB Stephen Dujarric menambahkan bahwa lebih dari 6.600 orang membutuhkan perawatan prostetik dan rehabilitasi. “Sejak 2023 ribuan orang telah menjalani amputasi, namun hanya delapan delapan tenaga medis yang tersedia untuk menangani masalah itu”.

Ia juga memperingatkan bahwa dengan kekurangan dokter spesialis dan terbatasnya pasokan bahan prostetik, dibutuhkan waktu lima tahun bahkan lebih untuk memenuhi kebutuhan saat ini. 

Ia menekankan bahwa “tenaga medis internasional sangat dibutuhkan, begitu pula dengan masuknya pasokan bahan prostetik yang terhambat sehubungan dengan pembatasan oleh otoritas Israel”.

Sebelumnya, Israel telah memberlakukan blokade yang melumpuhkan Jalur Gaza sejak 2007, menyebabkan 2,4 juta jiwa wilayah tersebut berada diambang krisis kelaparan.

Israel telah melancarkan serangan brutal selama dua tahun ke Gaza pada Oktober 2023. Genosida Israel menewaskan lebih dari 72.000 warga Palestina, serta melukai lebih dari 172.000 orang. Serangan itu juga menyebabkan kehancuran Jalur Gaza yang terkepung otoritas Israel. 

Korban Tewas di Gaza Terus Bertambah

Menurut laporan Anadolu meski di tengah gencatan senjata jumlah korban tewas di Gaza terus bertambah.

Tercatat sejak serangan Oktober 2023 hingga kini mencapai 72.612 orang tewas. Sementara itu, Kementerian Kesehatan Gaza juga menyebut total korban luka mencapai 172.457 orang sejak dimulainya serangan perdana. 

Sejakan diberlakukan gencatan senjata pada 10 Oktober 2025, tercatat 832 orang tewas dan 2.345 orang luka-luka akibat serangan Israel.

Selain itu, ada 767 jenazah berhasil ditemukan di bawah puing-puing bangunan. Otoritas di Gaza juga meyakini masih terdapat ribuan korban yang belum dievakuasi dari reruntuhan. 

Adapun serangan terbaru Israel menyasar beberapa wilayah di antaranya, wilayah Atatira, Beit Lahiya, dan Gaza Utara. Serangan di Atatira menewaskan pria berusia 42 tahun akibat tembakan pasukan Israel dan sejumlah lainnya terluka. 

Sementara itu, serangan drone Israel di Kamp Pengungsi Bureij di Gaza Tengah dan di kawasan Jalan 10 di Gaza menewaskan satu orang.

Lebih lanjut, Korps Artileri Israel juga dilaporkan melakukan serangan beruntun ke sejumlah titik di Gaza Timur, sementara kendaraan taktis Israel melepaskan tembakan intensif di wilayah timur Khan Younis.

Sikap Uni Eropa Terhadap Palestina

Uni Eropa melalui juru bicara hubungan luar negeri, Anouar Al Anouni, menegaskan bahwa pihaknya menolak perubahan teritorial apa pun di Gaza. Ini sejalan dengan resolusi Dewan Keamanan PBB. Anouar menekankan pentingnya fusi Tepi Barat dan Gaza di bawah otoritas Palestina dan meminta percepatan implementasi rencana perdamaian.

Sumber tersebut menambahkan Uni Eropa mendesak Israel segera membuka akses bantuan kemanusiaan secara luas tanpa hambatan. Israel disebut terus mempersempit ruang gerak warga sipil di Gaza melalui kebijakan pembatasan wilayah, termasuk penerapan garis pembatas baru yang memperluas area kontrolnya.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |