Peluang El Nino Super Bukan Tahun Ini, tapi Tahun Depan?

8 hours ago 21

BADAN Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan kecil peluang El Nino 2026 untuk memicu kekeringan esktrem di Indonesia. Meski begitu disampaikan pula bahwa musim kemarau tahun ini bakal berlangsung lebih lama dengan curah hujan yang berada di bawah rata-rata klimatologis.

“El Nino 2026 diperkirakan tidak akan mencapai tingkat ekstrem, namun musim kemarau diprediksi berlangsung lebih lama dengan curah hujan yang berada di bawah rata-rata klimatologis,” kata

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Keterangan itu disampaikan Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Albertus Sulaiman, dalam laporan perkembangan El Nino 2026. Menurutnya, masyarakat tidak perlu panik menghadapi isu kemunculan El Niño ekstrem tahun ini.

Albertus merujuk hasil analisis berbagai model iklim dunia yang menunjukkan bahwa kondisi iklim global saat ini lebih mengarah pada El Nino kategori moderat dengan peluang sekitar 27 persen. "Kondisi ini berbeda dengan El Nino super kuat atau Godzilla El Nino yang pernah terjadi pada 1997 dan 2015," katanya seperti dilansir di website BRIN kemarin.

Penyebabnya ada beberapa faktor. Antara lain kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) yang saat ini berada pada fase posisi normal atau netral diprediksi hingga April 2027. Fenomena IOD merupakan penyimpangan suhu muka laut di Samudra Hindia yang dapat menyebabkan perubahan pergerakan atmosfer atau massa udara.

IOD positif artinya suhu muka laut di Samudera Hindia bagian barat menghangat dan sebaliknya di bagian timur-tenggara. Kondisi ini menyebabkan curah hujan di Indonesia berkurang. 

Selain itu, menurut Albertus, Indonesia dan kawasan Pasifik baru saja mengalami El Nino kuat pada periode 2023–2024. “Sehingga secara fisik lautan belum memiliki cukup energi untuk kembali membentuk El Nino super ekstrem dalam waktu yang berdekatan,” katanya. 

Walau begitu, Albertus menambahkan, BRIN menemukan adanya sinyal peningkatan risiko El Nino ekstrem pada periode akhir 2027 hingga pertengahan 2028. Melalui pendekatan analisis stokastik menggunakan Persamaan Fokker-Planck, dia menerangkan, peluang kemunculan Godzilla El Niño pada periode tersebut bakal meningkat hingga mendekati 40 persen.

“Temuan ini menjadi peringatan dini bagi pemerintah untuk mulai menyiapkan strategi mitigasi jangka menengah,” ujarnya.

Terkait dengan musim kemarau, berdasarkan prediksi BRIN, puncaknya pada tahun ini diperkirakan terjadi pada Agustus. Sejumlah wilayah di Pulau Jawa, khususnya Jawa Barat seperti Bekasi, Cirebon, Kuningan, dan Kota Bandung, berpotensi mengalami kondisi sangat kering. “Secara keseluruhan, peluang terjadinya kemarau yang lebih panjang mencapai sekitar 81 persen,” katanya.

Untuk menghadapi dampak kemarau panjang, BRIN telah mengembangkan berbagai teknologi mitigasi berbasis riset. Salah satunya adalah sistem pemantauan lahan gambut secara real time melalui platform Ina-Carbon, yang mampu memonitor tinggi muka air tanah, kelembapan tanah, curah hujan, dan kualitas udara. Sistem ini dapat mendeteksi kondisi kritis lahan gambut satu hingga dua minggu sebelum kebakaran hutan dan lahan terjadi.

Selain itu kata Albertus, BRIN juga mengembangkan teknologi drone pemadam kebakaran yang dapat menjangkau lokasi-lokasi terpencil yang sulit diakses petugas lapangan. Teknologi tersebut dirancang untuk mendukung upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan yang umumnya meningkat saat musim kemarau panjang akibat El Nino.

Di sektor pangan, BRIN menyiapkan berbagai teknologi adaptasi untuk mengurangi risiko gagal panen. Teknologi tersebut mencakup sistem irigasi hemat air, pengelolaan sumber daya air yang lebih efisien, hingga pemanfaatan lahan suboptimal seperti rawa lebak yang dapat menjadi alternatif produksi pangan saat lahan pertanian konvensional mengalami kekurangan air.

Albertus menekankan bahwa keberhasilan menghadapi El Niño tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar anomali iklim yang terjadi, tetapi juga oleh kesiapan teknologi dan strategi adaptasi yang diterapkan sejak dini. "Dengan mitigasi dan adaptasi yang tepat, dampak El Nino dapat ditekan seminimal mungkin,” kata Albertus.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |