Sastrawan L. K. Ara Terima Penghargaan Di Hari Puisi 2026

1 hour ago 19

Penyair asal Aceh, Lesik Kati (L.K.) Ara, 89 tahun, mendapatkan penghargaan Anugrah Kepenyairan Adiluhung 2026 dari Yayasan Hari Puisi dalam acara Perayaan Hari Puisi 2026 di Hall Utama Gedung A Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakata Pusat pada 26 Juli 2026. Penghargaan ini diberikan atas dedikasi dan kontribusinya dalam perkembangan sastra Indonesia.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Menurut anggota Dewan Juri Ahmadun Yosi Herfanda, bersama anggota Dewan Juri lainnya yakni Rida K. Liamsi dan Sutarji Calzoum Bachri memilih L.K. Ara karena kesetiaan dan dedikasinya yang luar biasa bagi dunia perpuisian Indonesia. “Dedikasinya pada dunia puisi Indonesia sangat panjang sejak ia muda hingga kini,” ujar Ahmadun ketika membacakan pengumuman di di  Hall Utama Gedung A Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakata Pusat pada 26 Juli 2026.

Anugerah ini sudah mulai diberikan sejak 2020, dan untuk pertama kalinya diberikan kepada penyair Sapardi Djoko Damono. Selanjutnya pada 2021 diberikan kepada presiden penyair Sutardji Calzoum Bachri. Pada dua tahun berikutnya, 2023, anugerah serupa diberikan kepada penyair sufi Abdul Hadi WM. Kemudian, pada 2024 diberikan kepada penyair Madura D. Zawawi Imron.

Dedikasi Hingga Usia Senja

Ara Lahir pada 12 November 1937, di Takengon, Aceh Tengah. Ia telah menghasilkan lebih dari 40 buku, sebagian merupakan buku kumpulan puisi. Ara juga dikenal sebagai pembaca puisi yang menarik dan berkarakter. Biasanya dengan didampingi penyanyi tradisional Aceh, yang membawakan puisi dengan dinyanyikan dan diselingi pembacaan puisi oleh L.K. Ara.

Debut kepenyairannya dimulai   pada 1969 dengan menerbitkan buku kumpulan puisi Angin Laut Tawar (Balai Pustaka, 1969). Setelahnya ia banyak menulis buku sastra. Melalui Yayasan Nusantara bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Aceh, dia menjadi editor bersama Taufik Ismail dan Hasyim K.S. untuk terbitnya antologi sastra budayawan Aceh Seulawah (1995). Dia juga menjadi penyunting buku antologi  puisi penyair Aceh Jabal Ghafur 86 dan Aceh dalam Puisi (2003). Ia juga menulis buku puisi dan buku cerita anak, satu hal yang tak banyak dilakukan sastrawan Indonesia.

L.K. Ara juga dikenal aktif dalam seni pentas. Menurut Ahmadun, ketika di Balai Pustaka bersama Rusman Sutiasumarga dan M. Taslim, Ara ikut mendirikan Teater Balai Pustaka pada 1967. Dia juga dikenal sebagai penaja yang pernah membawa dan memperkenalkan Toet seorang pedendang lagu "Gayo" sebuah kesenian dari Aceh. Ia menampilkan Toet yang memperkenalkan lagu Gayo kepada publik, antara lain di Taman Ismail Marzuki, Jakarta; Banda Aceh, Medan, Padang, Palangkaraya, dan Bandung.

Selain itu, juga tercatat sebagai ketua Asosiasi Kesenian Gayo (ASG). Mulai 2005 LK Ara menjadi motor penerbitan buku-buku di Bangka Belitung (Babel) dengan Penerbit Yayasan Nusantara Jakarta (YNJ). Karya-karya yang dihasilkan, antara lain, Bunga Rampai Bangka Barat (bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Bangka Barat), Antologi Puisi Lingkungan Hidup Kelekak (bekerja sama dengan Dewan Kesenian Kota Pangkalpinang), Antologi Pantun Melayu Bangka Pucuk Pauh (bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Bangka Induk), dan Bangka Belitung Bercahaya dalam Pantun dan Puisi (bekerja sama dengan PLN Bangka Belitung, dan Dewan Kesenian Kota Pangkalpinang).

Buku Puisi dan Sastra Karya L.K. Ara

Beberapa buku kumpulan puisinya lahir mulai kurun waktu 1970 hingga 2000-an. Buku-buku itu  antara lain Namaku Bunga (Balai Pustaka, 1980), Kur Lak Lak (Balai Pustaka, 1982), Pohon Pohon Sahabat Kita (Balai Pustaka, 1984), Catatan Pada Daun (Balai Pustaka, 1986), Kening Bulan (1986). Dalam Mawar (Balai Pustaka, 1988), Ucap Gemercik Air (2017), Jejak Kata (2021).Ara juga menulis puisi-puisi berbahasa Gayo, dan diterbitkan dengan judul Junjani (Jakarta, 197l), Loyang Sekam (Jakarta, 1971), dan Buntul Kubu (Jakarta, 1971).

Buku kumpulan puisi anak yang sudah terbit adalah Anggrek Berbunga (1982), Buah-buahan di Kebun (1982), dan Senandung Burung-Burung (1982). Kumpulan karangan berupa bacaan anak, yaitu Senjata Pustaka Kita (1983), Umbi-Umbi Kami (1983), Biografi Saefuddin Kadir Tokoh Drama Gayo (1971).

Ada pula buku Berkelana dengan Sastrawan Indonesia dari Aceh (1997) yang menghimpun biografi singkat dan perkenalan karya 14 pengarang Aceh dari Abdul Rauf hingga Maskirbi, Syair Tsunami dan Ekspresi Puitis Aceh (2006), Menghadapi Musibah (2006), dan catatan perjalanan ketika naik haji dalam buku berjudul Perjalanan Arafah (1974).

Sastrawan Helvi Tiana Rosa membacakan puisi dalam acara perayaan Hari Puisi Indonesia 2026 di Gedung A Kementerian Pendidikan Dasar RI, Jakarta, 26 Juli 2026/Dian Yuliastuti

Perayaan Hari Puisi Dimeriahkan Sastrawan Dalam dan Luar Negeri

Perayaan Hari Puisi 2026 ke-14 diramaikan dengan pembacaan puisi oleh para sastrawan dan diskusi tentang sastra di Indonesia. Mereka yang akan tampil adalah Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh  Ekuador untuk Indonesia Luis Guellermo Arellano Jibaja, pegiat seni budaya religi Neno Warisman, novelis dan penyair Helvy Tiana Rosa, penyair yang juga Staf Ahli Menteri Nissa Rengganis, penyair Hasan Aspahani, peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional Sastri Sunarti Sweeney, istri Wakil Gubernur Provinsi Maluku Rohani Vanath.

Dari kalangan generasi  sandwich dan generasi  Z tampil Duta Baca Kota Bogor Tiara Ratna dan Fahri Hidayatullah, penari cilik Shakira dan Fakheera, serta dari “generasi opa dan oma”  yang lebih tua akan tampil kritikus sastra dan feminis Soenardjati Djajanegara  (92 tahun) dan L.K. Ara, dan Presiden Penyair Sutardji Calzoum Bachri (85 tahun)

Selain itu, melalui rekaman video, akan bergantian menyampaikan ucapan Selamat Hari Puisi Indonesia  sejumlah penyair dari mancanegara. Mereka berasal dari  Amerika Serikat, India, Serbia, Kroasia, Yunani, Bangladesh, Beirut, Bulgaanuria, Nigeria, dan Puerto Rico.

Ketua Panitia Pelaksana Hari Puisi Indonesia 2026 Ariyani Isnamurti mengatakan perayaan Hari Puisi Indonesia kali ini mengusung tema utama “Menebalkan Makna pada Segala”.  Tema ini memberi pesan  untuk  merenungkan kembali hakikat puisi. Bahwa puisi tidak hanya lahir dari kata-kata-kata indah mendayu namun dari keberanian mencerna dan memberi makna pada kehidupan sehari-hari.

Menurut Ariyani, di tengah derasnya arus informasi di era digital dan perubahan yang begitu cepat --sehingga kita seperti tidak sempat lagi memilah dan memilih mana informasi sampah dan mana yang bermanfaat, mana informasi yang penting dan tidak penting, puisi hadir sebagai ruang untuk mendengar suara hati ,merawat nurani ,dan mengokohkan kemanusiaan, kearifan, dan keberagaman.“Puisi mengingatkan kita bahwa di balik setiap peristiwa selalu ada pesan dan nilai yang layak direnungkan, dirawat, dan diwariskan,” ujarnya.

Duta Besar Ekuador untuk Indonesia, Luis Guillermo Arellano Jibaja (kiri). Tempo/Dian Yuliastuti

Wakil Ketua Yayasan Hari Puisi, Danny Santoso, menyampaikan bahwa Perayaan Hari Puisi Indonesia 2026 memiliki makna istimewa karena menjadi perayaan pertama sejak Hari Puisi Indonesia memperoleh pengakuan resmi dari negara. Menurutnya, perjuangan yang telah dilakukan selama lebih dari 13 tahun bukan semata untuk kepentingan yayasan, melainkan sebagai ikhtiar memuliakan puisi sebagai salah satu mahkota kebudayaan bangsa.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon, menyatakan Kementerian Kebudayaan mendukung penuh penyelenggaraan Hari Puisi Indonesia sebagai bentuk penghormatan kepada para penyair, sekaligus momentum memperkuat sastra sebagai bagian penting dari pemajuan kebudayaan nasional. Menurutnya, peringatan yang diselenggarakan setiap 26 Juli ini juga menjadi pengingat atas kontribusi besar Chairil Anwar terhadap perkembangan sastra modern Indonesia.

Ia juga menyampaikan kementeriannya terus memperkuat ekosistem sastra melalui berbagai program, antara lain laboratorium penerjemahan sastra, laboratorium promotor sastra, penerjemahan karya sastra Indonesia ke bahasa asing, penguatan festival dan komunitas sastra, manajemen talenta nasional bidang sastra, pengembangan sastra berbasis IP, serta promosi sastra Indonesia di tingkat internasional.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |