Setelah Venezuela dan Iran, Kini Kuba? Trump: Mungkin Saja

9 hours ago 18

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ketika ditanya apakah Amerika Serikat dapat melakukan operasi militer terhadap Kuba, Presiden Donald Trump tidak menjawab dengan penolakan tegas. Ia justru memberikan jawaban yang membuat banyak pihak menoleh ke arah Laut Karibia.

"Mungkin, mungkin saja," kata Trump dalam wawancara dengan Axios, Jumat (19/6).

Kalimat itu singkat. Namun gaungnya menjalar jauh melampaui Washington.

Sebab yang dipertanyakan bukan negara sembarangan. Kuba adalah pulau yang hanya berjarak sekitar 150 kilometer dari pesisir Florida dan selama lebih dari enam dekade menjadi simbol perlawanan terhadap tekanan Amerika Serikat.

Mengapa Trump tiba-tiba membuka kemungkinan operasi militer terhadap Havana?

Pertanyaan itu muncul karena hubungan kedua negara selama ini memang tidak pernah benar-benar normal. Namun kali ini konteksnya berbeda. Pernyataan Trump muncul hanya beberapa bulan setelah pemerintahannya meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Kuba dan memperluas langkah-langkah yang mempersempit ruang gerak negara komunis tersebut.

Namun itu belum menjelaskan semuanya.

Trump juga mengungkapkan bahwa Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio akan "sangat" terlibat dalam isu Kuba. Pada saat yang sama, ia mengeklaim bahwa Kuba "sangat ingin" berdialog dengan Amerika Serikat.

Di sinilah cerita mulai berubah.

Jika Kuba benar-benar ingin berbicara dengan Washington, mengapa justru muncul ancaman tindakan militer? Dan jika ancaman itu hanya alat tekanan diplomatik, apa yang sebenarnya sedang dicari Amerika?

Petunjuk pertama muncul dari kebijakan yang diambil Washington pada awal tahun ini.

Pada akhir Januari, pemerintah AS menetapkan tarif impor terhadap negara-negara yang memasok minyak ke Kuba. Langkah itu disertai deklarasi keadaan darurat dengan alasan adanya ancaman Kuba terhadap keamanan Amerika Serikat.

Di atas kertas, kebijakan tersebut tampak seperti tekanan ekonomi biasa.

Namun dampaknya terasa langsung di jalan-jalan Kuba.

Pasokan bahan bakar semakin langka. Listrik bergilir menjadi lebih sering. Bus-bus kesulitan beroperasi. Produksi pangan terganggu. Rumah sakit dan sekolah ikut terkena dampaknya.

Kuba menuding Washington sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar memberikan sanksi.

Pemerintah di Havana menuduh Amerika memanfaatkan embargo energi untuk "mencekik" ekonomi negara pulau itu dan memperburuk kehidupan masyarakat sehari-hari.

Tetapi tekanan ekonomi ternyata bukan satu-satunya medan pertarungan.

Pada pertengahan Mei, Departemen Kehakiman AS mendakwa mantan Presiden Kuba Raul Castro bersama lima personel militer Kuba terkait insiden penembakan dua pesawat yang berafiliasi dengan kelompok eksil Kuba di Miami, Brothers to the Rescue.

Kasus itu membawa kembali luka lama yang belum pernah benar-benar sembuh.

Bagi Washington, insiden tersebut adalah persoalan hukum yang harus dipertanggungjawabkan. Namun bagi Havana, dakwaan itu dianggap sebagai provokasi politik yang sengaja dihidupkan kembali untuk menambah tekanan terhadap pemerintah Kuba.

sumber : Antara

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |