Tantangan Berat Bahan Bakar CNG Masuk Dapur Rumah Tangga

4 hours ago 15

BAHAN bakar gas alam terkompresi atau compressed natural gas (CNG) bakal menghadapi tantangan untuk masuk ke dapur rumah tangga sebagai pengganti gas elpiji atau LPG. Menurut dosen Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung (ITB) Yuli Setyo Indartono, tabung CNG harus lebih kuat dari liquid petroleum gas atau LPG, yang berkonsekuensi pada ketebalan dan berat tabung.

“Kalau CNG kecil seukuran gas melon LPG 3 kilogram tantangannya berat, sulit dan tidak ekonomis atau mahal,” katanya, Senin, 4 Mei 2026. 

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Yuli mengatakan tabung CNG bertekanan hingga sekitar 200 bar atau jauh lebih tinggi daripada LPG yang sekitar 8 bar. Adapun sebagian besar isi CNG adalah gas metana, sedangkan LPG dari propana dan butana. Kedua jenis bahan bakar itu bisa dipakai untuk memasak.

“Karena tekanan di tabung CNG sangat tinggi, maka diperlukan sistem penurun tekanan (pressure reduction system) sebelum gas mencapai nosel kompor,” ujarnya. Nozzel atau nosel merupakan alat pengatur aliran gas ke kompor. 

Yuli mengatakan tabung CNG akan lebih berat jika menggunakan bahan baja, atau bisa lebih mahal kalau dibuat dari material komposit. Sistem penurun tekanan gas juga akan menjadi tambahan biaya jika CNG disimpan dalam tabung ukuran kecil. Selain itu, kompor yang biasa digunakan untuk LPG dinilai tidak optimal jika bahan bakarnya dialihkan ke CNG sehingga perlu ada kit konversi karena karakteristik gasnya berbeda.

“Jika dibuat sistem komunal, satu tabung CNG berukuran besar untuk dialirkan ke beberapa rumah maka secara ekonomi menjadi lebih efisien,” kata dosen di Kelompok Keahlian Ilmu dan Rekayasa Termal ITB itu. 

Menurut Yuli, dari penggunaan CNG yang dilihatnya di Jepang, gas dialirkan lewat pipa menuju rumah, apartemen, gedung, hotel, dan tempat lain. Sementara di daerah yang tidak terjangkau pipa CNG, warganya menggunakan tabung LPG. 

“CNG itu gas alam yg dikompresi pada tekanan tinggi agar densitasnya tinggi sehingga isinya bisa muat banyak dalam tabung,” ujarnya.

Menurutnya, Indonesia merupakan produsen gas alam yang cukup besar, antara lain di Kalimantan Timur, Sumatera Selatan, Papua Barat, Aceh, Maluku, Kepulauan Riau, dan Natuna. CNG bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi di industri, gedung, hingga pembuatan pupuk urea.

Sebelumnya Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah mengembangkan CNG dalam kemasan tabung 3 kilogram sebagai alternatif pengganti LPG. “Untuk yang 3 kilogramnya ini baru mau dibuat. Dan ini ongkosnya lebih murah 30–40 persen,” katanya saat menghadiri acara Himpunan Alumni IPB di Jakarta, Sabtu, 2 Mei 2026, seperti dikutip Antara.

Menurut Bahlil penggunaan CNG saat ini telah diterapkan di sejumlah hotel, restoran, hingga beberapa dapur program makan bergizi gratis (MBG). 

Chief Engineer Hotel Grand Preanger Bandung Casriko mengatakan pihaknya telah menggunakan CNG sejak 2020. Keputusan menggunakan CNG setelah mendapat informasi dari beberapa pemasok gas yang datang menawarkan serta hotel lain yang telah memakai CNG. Kini tabung-tabung gas CNG itu ditempatkan di ruang khusus disertai instalasi komponennya untuk berbagai keperluan.

“Gasnya untuk kompor, rice cooker, oven, water heater untuk air panas di kamar mandi tamu,” katanya, Senin, 4 Mei 2026. Minimal pengisian ulang gasnya oleh pemasok dilakukan setiap dua jam. 

Pada penggunaan di dapur hotel, menurut Casriko, gas CNG tidak berbau. Indikasi terjadi kebocoran gas diketahui dari tekanan CNG yang menurun. Adapun saat dipakai untuk memasak, api dari gas CNG berwarna biru.

Namun, sebelum bisa digunakan untuk memasak, kompor yang sebelumnya memakai gas LPG harus dimodifikasi pada bagian nozzle atau nosel dan bagian penyaluran api atau burner diganti. “Hasilnya dipakai masak seperti pakai gas LPG,” ujarnya. Menurut  Casriko, pemakaian CNG bisa menghemat sekitar 20 persen dari sebelumnya memakai LPG.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |