
Oleh: HANIAH, Petugas Haji, Alumnus Al Azhar Kairo, Ketua Program Studi Pascasarjana Pendidikan Bahasa Arab UIN Alauddin Makassar
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di antara jutaan manusia yang berkumpul di Padang Arafah setiap musim haji, sesungguhnya tidak ada yang benar-benar datang dengan membawa kesempurnaan.
Mereka datang dengan tubuh yang lelah, wajah yang dipenuhi harapan dan hati yang memikul dosa serta penyesalan hidup. Di tempat itulah manusia perlahan menyadari satu kenyataan penting: bahwa sehebat apa pun kehidupan dunia yang pernah dijalani, pada akhirnya manusia hanyalah hamba kecil yang sangat membutuhkan ampunan Tuhannya.
Arafah bukan sekadar titik geografis dalam rangkaian manasik haji. Ia adalah ruang kontemplasi terbesar dalam kehidupan seorang muslim. Sebuah padang luas yang seolah menghadirkan miniatur Padang Mahsyar. Jutaan manusia berdiri dengan pakaian sederhana tanpa simbol jabatan, kekuasaan, dan status sosial.
Tidak ada perbedaan antara pejabat dan rakyat biasa, antara orang kaya dan miskin. Semua datang dengan kebutuhan yang sama: berharap rahmat Allah dan takut terhadap dosa-dosanya sendiri.
Dalam suasana seperti itu, manusia "dipaksa" untuk berdamai dengan dirinya. Hiruk-pikuk dunia yang selama ini memenuhi kepala, mendadak terasa jauh dan tidak penting. Target-target duniawi yang selama ini dikejar dengan penuh ambisi tiba-tiba tampak kecil ketika berdiri di bawah langit Arafah. Yang tersisa hanyalah kesadaran tentang betapa singkatnya hidup dan perjalanan menuju akhirat.
Mungkin karena itu Arafah selalu melahirkan air mata. Ada yang menangis karena mengingat orang tua yang telah wafat. Ada yang menyesal pernah menyakiti pasangan dan keluarganya.
Ada pula yang baru menyadari bahwa selama ini hidupnya terlalu sibuk mengejar dunia, tetapi miskin dan minim kedekatan kepada Allah. Arafah menjadi ruang, manusia tidak lagi sibuk mempertahankan citra dirinya di hadapan orang lain. Di hadapan Allah, semua topeng kehidupan runtuh begitu saja.
Di era modern hari ini, ketika manusia semakin terobsesi pada pencitraan dan pengakuan sosial, Arafah menghadirkan pelajaran yang sangat relevan. Dunia digital telah membuat manusia terbiasa menunjukkan kebahagiaan, keberhasilan, dan kesempurnaan dirinya kepada publik. Namun, Arafah justru mengajarkan kebalikannya: bahwa kemuliaan sejati lahir dari kerendahan hati dan pengakuan atas kelemahan diri di hadapan Allah.
Ironisnya, ada yang datang ke Tanah Suci tetapi gagal menangkap makna spiritual Arafah. Sebagian terlalu sibuk mengabadikan momen dengan kamera, sebagian lain tetap tenggelam dalam percakapan duniawi, bahkan ada yang masih memelihara amarah dan ego di tengah perjalanan ibadahnya.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

9 hours ago
19
















































