Masyarakat diimbau berhati-hati sebelum membawa hewan tertentu melintas batas negara.
REPUBLIKA.CO.ID, ENTIKONG -- Bea Cukai Entikong bersama personel Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Kalimantan Barat menggagalkan upaya pembawaan lima ekor ikan Arwana Super Red di jalur keberangkatan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong pada Jumat (22/5/2026).
Petugas menemukan ikan arwana dalam kondisi hidup tersebut saat melakukan pengawasan rutin terhadap pelintas batas menuju Malaysia. Saat pengawasan, petugas mencurigai sebuah mobil yang melintas dan melaksanakan pemeriksaan mendalam terhadap barang bawaan penumpang berinisial NL.
"Dari hasil pemeriksaan, petugas menemukan lima ekor Arwana Super Red atau Scleropages formosus yang dikemas di dalam koper. Satwa ini diketahui termasuk yang dilindungi dan masuk daftar Appendix I CITES karena terancam punah," ungkap Kepala Kantor Bea Cukai Entikong, Rudi Endro Pratikto yang dikutip Rabu (3/6/2026).
Ia menuturkan, kepada petugas, NL mengaku membeli ikan tersebut di Pontianak dengan total harga sekitar Rp 4 juta untuk dipelihara sendiri, bukan untuk diperjualbelikan.
‘’Pelaku juga mengaku baru pertama kali membawa ikan Arwana ke luar negeri dan tidak mengetahui bahwa pengeluarannya dari Indonesia memerlukan izin khusus," lanjutnya. Atas temuan tersebut, petugas melakukan penindakan dan menerbitkan Surat Bukti Penindakan terhadap barang hasil penindakan.
Selanjutnya, lima ekor ikan Arwana tersebut diserahterimakan kepada Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Kalimantan Barat Satuan Pelayanan PLBN Entikong untuk penanganan lebih lanjut.
Bea Cukai Entikong mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati dan memahami ketentuan yang berlaku sebelum membawa hewan maupun barang tertentu melintas batas negara.
"Selain terkait aturan kepabeanan, pengeluaran satwa tertentu tanpa dokumen dan izin resmi dapat mengancam kelestarian satwa yang dilindungi. Kepatuhan terhadap prosedur menjadi langkah penting untuk mencegah pelanggaran hukum sekaligus mendukung upaya perlindungan sumber daya hayati Indonesia," tutup Rudi.

12 hours ago
14
















































