UNIVERSITAS Padjadjaran atau Unpad akan memimpin penelitian Vaksin Tuberkulosis (TB) buatan dalam negeri. Dalam skenario yang ideal dan optimistis, Vaksin TB bisa dihasilkan dalam waktu lima tahun. “Target ini cukup realistis,” kata peneliti tuberkulosis di Unpad, Bachti Alisjahbana, kepada Tempo, Rabu 22 Juli 2026.
Menurutnya, semua peneliti akan bekerja secepatnya untuk bisa menghasilkan kandidat vaksin yang potensial. Sementara dalam pengembangan vaksin, penelitiannya membutuhkan berbagai tahapan, termasuk pengembangan keilmuan tentang respons imunologis manusia pada infeksi tuberkulosis yang kompleks.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
“Penelitian mengenai respons inang pada infeksi TB saat ini sebenarnya sudah kami mulai dan berjalan terus secara berkesinambungan,” ujar Bachti.
Tim peneliti dari Unpad sebelumnya terlibat dalam proses validasi klinis berbagai vaksin TB. Dalam upaya validasi itu tim juga mempelajari respons imun tubuh manusia menghadapi kuman TB. Penelitian yang telah dilakukan seperti efek re-Vaksinasi BCG (Bacillus Calmette-Guérin), kemudian uji klinis Vaksin M72/AS01e yang dikembangkan oleh sebuah perusahaan farmasi multinasional.
Pengalaman tim Unpad yang paling dekat dengan vaksin, Bachti menambahkan, yaitu pengembangan Vaksin TB berbasis mRNA. “Uji praklinis pada hewan coba sudah dilakukan dan rencananya akan diteruskan pengembangannya ke uji pada manusia,” kata Ketua Pusat Penelitian untuk Perawatan dan Pengendalian Penyakit Menular (RC3ID) Unpad itu.
Bachti mengatakan rencana riset terbaru Vaksin TB buatan dalam negeri yang dipimpin Unpad tidak dimulai dari nol melainkan dari sebuah kandidat vaksin. Peneliti dari tim Unpad telah memulai pengembangan vaksin bersama The Jenner Institute di University of Oxford.
“Di sana telah dikembangkan kandidat vaksin mRNA yang berhasil menunjukkan respons yang baik pada mencit,” katanya. Harapannya, berbagai hasil penelitian yang telah ada dapat menjadi landasan untuk mempercepat proses pengembangan Vaksin TB dalam negeri yang bermanfaat dan dapat disebarkan.
Sebelumnya diberitakan, berdasarkan hasil Rapat Koordinasi Nasional Pengentasan TB di Indonesia di Gedung Rektorat Unpad Jatinangor pada Selasa 14 Juli 2026, Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus meminta Unpad a untuk memimpin penelitian dan pengembangan vaksin TB dalam negeri. Rapat itu diikuti pula oleh Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas, Pungkas Bahjuri Ali, Rektor Unpad Arief S. Kartasasmita, Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN Indi Dharmayanti, perwakilan Biofarma, dan sejumlah peneliti dari berbagai lembaga.
“Saat mendengar Unpad akan buat vaksin TB, saya senang sekali. Saya langsung bilang, kami akan bawa tim ke Unpad, kita semua akan mendukung,” kata Benjamin dikutip dari laman Unpad.
Karena Rumah Sakit Unpad akan membangun satu gedung yang dibangun khusus untuk pemberantasan TB, Benjamin mengusulkan agar penelitian Vaksin TB ini dipusatkan di Unpad dengan mengajak pihak lain bergabung bersama. “Usul saya, penelitian vaksin ini secara nasional dipusatkan di Unpad,” ujarnya.
Dari laman Kementerian Kesehatan, Indonesia saat ini masih berada dalam daftar negara dengan beban TB yang signifikan. Berdasarkan data 2024, Indonesia menyumbang sekitar 10 persen kasus TB global, dengan perkiraan 1,08 juta orang sakit dan 126 ribu kematian.
Rektor Unpad Arief S. Kartasasmita mengatakan akan segera merumuskan langkah-langkah yang akan diajukan kepada Kementerian Kesehatan untuk jangka pendek dan jangka menengah. “Agar pada 2029 nanti kita punya hasil yang signifikan mengenai penanganan TB,” kata dia.













































