BI Pangkas Proyeksi Ekonomi Global 2026 Jadi 3 Persen, Ini Penyebabnya

1 hour ago 11

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3 persen pada 2026. Proyeksi tersebut merupakan imbas dari dampak eskalasi perang di Timur Tengah yang semakin menekan prospek perekonomian dunia. 

“Prospek pertumbuhan ekonomi dunia 2026 makin melambat menjadi 3 persen dari perkiraan sebelumnya sebesar 3,1 persen,”  ungkap  Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulan April 2026 yang digelar secara daring, Rabu (22/4/2026). 

Perry menjelaskan, perang di Timur Tengah makin memperburuk kondisi dan prospek perekonomian global. Harga minyak dan komoditas dunia meningkat tinggi, dan diikuti dengan disrupsi rantai pasok perdagangan antarnegara yang makin dalam. 

“Inflasi global juga diperkirakan lebih tinggi menjadi 4,2 persen dari prakiraan sebelumnya sebesar 4,1 persen, sehingga makin mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter global,” terangnya.

Adapun, penurunan Fed Funds Rate (FFR) diperkirakan mundur, atau bahkan bertahan hingga akhir 2026. Imbal hasil (yield) US Treasury juga terus meningkat dipengaruhi dampak perkiraan defisit fiskal AS yang lebih besar. Aliran modal global terus bergeser ke safe-haven assets terutama pasar uang AS, sejalan dengan meningkatnya preferensi investor terhadap aset aman (flight to safety).

“Indeks dolar AS terhadap mata uang negara maju (DXY) terus menguat, sedangkan mata uang emerging markets makin tertekan. Memburuknya perekonomian dan pasar keuangan global tersebut mengharuskan penguatan respons dan sinergi kebijakan fiskal dan moneter guna menjaga ketahanan eksternal, memperkuat stabilitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik,” terangnya. 

Perekonomian Indonesia Resilien 

Sementara itu, di tengah tingginya ketidakpastian global akibat peperangan antara Iran vs AS-Israel yang hingga saat ini masih bergulir, BI menilai ekonomi Indonesia resilien. 

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |