BRIN: Laut Bali Utara Potensial Lokasi OTEC

13 hours ago 17

HASIL penelitian oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN menunjukkan, perairan Bali Utara secara teknis memiliki karakteristik oseanografi yang menjanjikan untuk dikaji lebih lanjut sebagai kandidat lokasi pengembangan pembangkit listrik tenaga panas laut (Ocean Thermal Energy Conversion atau OTEC). Penelitian dilakukan melalui riset kelayakan berbasis pemodelan numerik dan data lapangan lalu menghasilkan potensi pengembangan pembangkit itu yang berkapasitas 5 megawatt (MW). 

Hasil riset kelayakan tersebut telah terbit di Karbala International Journal of Modern Science Volume 12 Issue 3 pada 23 Juli 2026. Kajian dilakukan dengan menggabungkan data lapangan dan pemodelan oseanografi untuk mengevaluasi kondisi suhu laut, arus, gelombang, dan angin di enam lokasi perairan Bali Utara. 

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

"Hasil kajian menunjukkan, secara teknis-numerik kawasan tersebut memiliki potensi yang menjanjikan menjadi kandidat lokasi proyek percontohan OTEC pada tahap pengembangan berikutnya," ujar penelitinya, Widodo Setiyo Pranowo, dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN.

Melalui keterangan tertulis di laman BRIN pada Rabu 29 Juli 2026, Widodo menjelaskan teknologi OTEC memanfaatkan perbedaan suhu antara air laut permukaan dan air laut dalam sebagai sumber energi untuk menghasilkan listrik secara berkelanjutan. Perbedaan suhu minimal 20 derajat Celsius. "Berdasarkan hasil penelitian, seluruh lokasi pengamatan di Bali Utara memenuhi persyaratan tersebut dengan kondisi suhu yang relatif stabil sepanjang tahun," kata dia. 

Widodo dan tim menggunakan data Conductivity Temperature Depth (CTD) hasil survei lapangan serta data pemodelan dari Marine Copernicus. Analisis dilakukan terhadap distribusi suhu laut selama periode 2012–2020, kemudian dipadukan dengan evaluasi kondisi oseanografi lainnya untuk mengetahui kelayakan lokasi pemasangan OTEC terapung.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perairan Bali Utara memiliki suhu permukaan berkisar 27,7–29,7 derajat Celsius , sedangkan suhu laut dalam berada pada kisaran 5,0–6,5 derajat. Selain itu, variasi suhu dari tahun ke tahun tergolong rendah sehingga potensial mendukung kontinuitas produksi energi.

“Secara teknis, sistem OTEC yang disimulasikan menghasilkan efisiensi antara 29,03 hingga 30,78 persen, dengan potensi daya listrik bersih (net power) mencapai 2,84–3,22 MW," kata dia sambil menambahkan, "Angka tersebut merupakan hasil perhitungan model termodinamika, yang mengindikasikan bahwa sistem berkapasitas terpasang 5 MW.”

Berpotensi memasok listrik sebagai energi dasar (baseload) bagi wilayah pesisir, realisasi dari potensi tersebut masih memerlukan pembuktian melalui tahapan rekayasa, uji prototipe, dan pengujian lapangan. Penelitiannya juga tidak hanya mempertimbangkan aspek termal, tetapi juga mengevaluasi faktor oseanografi lain yang mempengaruhi keamanan instalasi pembangkit terapung.

Widodo menguungkapkan, kecepatan angin di lokasi penelitian berada jauh di bawah ambang batas operasional, arus permukaan relatif rendah. Sementara tinggi gelombang masih memenuhi kriteria keselamatan bagi pengoperasian platform OTEC terapung. 

Dari enam lokasi yang dianalisis, Stasiun L-4 di perairan dekat Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, ditetapkan sebagai lokasi paling prospektif. Selain memiliki efisiensi tertinggi sebesar 30,78 persen dan potensi daya bersih rata-rata 3,22 MW, lokasi ini juga berjarak sekitar 16,23 kilometer dari daratan sehingga dinilai lebih menguntungkan dari sisi pembangunan infrastruktur transmisi listri.

Menurut Widodo, hasil penelitian ini memberikan dasar ilmiah awal bagi pengembangan energi laut sebagai salah satu sumber energi terbarukan Indonesia. Studi ini disebutkannya merupakan langkah awal yang menunjukkan bahwa Bali Utara memiliki kombinasi kondisi oseanografi yang mendukung untuk dikaji lebih lanjut sebagai lokasi OTEC skala menengah. 

“Perlu ditegaskan bahwa hasil ini masih berada pada tahap kajian kelayakan numerik. Ke depan, temuan ini dapat menjadi salah satu acuan awal dalam perencanaan proyek percontohan, yang masih memerlukan riset lanjutan lintas kepakaran sebelum benar-benar dapat diwujudkan secara nyata,” ujarnya.

Widodo menambahkan, perjalanan dari hasil kajian numerik menuju infrastruktur OTEC yang beroperasi nyata masih panjang dan menuntut kolaborasi multidisiplin. Tahapan selanjutnya mencakup riset rekayasa teknik kelautan dan perkapalan, desain platform serta sistem konversi energi. Kemudian kajian material dan ketahanan struktur di lingkungan laut, analisis dampak lingkungan dan ekosistem, studi kelayakan ekonomi dan skema pembiayaan, aspek sosial masyarakat pesisir, hingga regulasi dan tata kelola. 

“Kami memandang hasil ini sebagai fondasi ilmiah, bukan garis akhir. Pengembangan OTEC perlu ditempuh secara bertahap, kolaboratif, dan berkelanjutan agar potensi ini benar-benar dapat menjadi kenyataan,” tuturnya.

Melalui penelitian ini, BRIN memetakan potensi energi panas laut di perairan Bali Utara sekaligus menghadirkan pendekatan yang lebih komprehensif dalam pemilihan lokasi OTEC. Selain mempertimbangkan perbedaan suhu laut, penelitian turut mengintegrasikan analisis kestabilan temperatur jangka panjang, kondisi gelombang, arus, angin, serta kedekatan lokasi dengan daratan. 

“Pendekatan tersebut diharapkan dapat menjadi referensi dalam pengembangan pembangkit listrik tenaga panas laut di wilayah pesisir Indonesia lainnya yang memiliki karakteristik oseanografi serupa,” katanya. 

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |