Cerita Para Pengais Rezeki di Blok M

13 hours ago 12

Jakarta, CNN Indonesia --

Jumat, 22 Mei 2026. Blok M cukup ramai malam itu. Maklum, malam ini malam Sabtu, banyak orang menyebutnya sebagai 'malam Minggu kecil'.

Warga Jakarta tumpah ruah di Blok M. Ada yang menggandeng kekasih, ada juga yang masih menggembol tas laptop sepulang kerja.

Hari ini, Blok M dikenal sebagai pusat skena Jakarta, tempat anak-anak kalcer Ibu kota berkumpul.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tapi hal itu mungkin tak berlaku bagi Sunardi, baginya Blok M bukanlah pusat skena, tapi tempat penuh pengharapan. Yang terbesit di pikirannya adalah mencari uang untuk menyambung hidup.

Di antara orang-orang yang silih berganti berlalu lalang di hadapannya, Sunardi tetap duduk dengan penuh harap di depan dagangannya.

Sebilah bambu diikatkan dengan tali kuning menjadikannya pikulan sederhana. Kaleng bekas kerupuk dengan beberapa bungkus semprong dan kerupuk bawang tertumpuk di bagian atas.

Bersama pikulannya itu, setiap hari Sunardi menempuh jarak puluhan kilometer dari Cengkareng menuju Blok M untuk menjajakan dagangan.

Biasanya, ia sudah tiba di Blok M bertepatan dengan adzan Zuhur berkumandang atau sekitar Pukul 12 siang.

Ia tetap di situ, menjajakan dagangannya hingga malam tiba. Sekitar Pukul 9 malam, Sunardi berjalan kaki menuju Terminal Blok M menghampiri bus yang akan mengantarkannya pulang ke Cengkareng.

Tidak jelas berapa banyak dagangannya yang laku terjual dalam sehari, pendapatannya tak menentu.

"Hari ini saja baru laku lima," katanya sambil tertawa kecil.

Beberapa meter dari lokasi Pak Sunardi, pengharapan lain merekah dari balik gerobak penjaja minuman kemasan.

Di perempatan jalan tepat di belakang Blok M Square, Yohana menaruh harapannya dengan menjajakan minuman botol kemasan hingga seduhan kopi kemasan, rutinitas yang ia jalani sejak Pandemi Covid-19 berakhir.

Tangan Yohana dengan sigap melayani saat ada yang memesan. Dengan cekatan ia gunting bungkus kopi, menuangkannya ke gelas plastik. Setelahnya ia tuangkan air panas, kopi pun siap diseruput.

Bak harapan yang harus senantiasa mekar, Yohana juga menjual bunga, tapi menu spesial ini hanya tersedia di akhir pekan.

Beberapa buket bunga yang dilapisi dengan bungkus plastik dan koran terjaja rapi. Beberapa di antaranya dihiasi dengan tulisan berbahasa Prancis,'C'est la Vie'yang artinya 'Begitulah hidup'.

Bunga itu dengan cantik muncul dari dalam ember berisikan air, sedangkan setengah tangkainya terendam agar mereka tidak layu.

Per buket bunga dijual seharga Rp50 ribu, tapi Yohana berprinsip kalau berjualan tak sekedar mencari untung namun juga kebermanfaatan.

Tak sedikit juga pengunjung yang meminta Yohana membuat buket bunga dengan harga yang lebih murah, tentu dengan jumlah bunga yang lebih sedikit.

Maklum, lokasi Blok M yang dikepung sejumlah sekolah seperti SMAN 6 dan SMAN 70 membuatnya tak lepas disambangi siswa-siswi.

Kata Yohana, para pelajar itu mencari bunga untuk merayakan wisuda kelulusan atau bisa juga untuk menyenangkan pujian hatinya.

"Ada yang minta bikinin 'bu bikinin dong yang Rp25 ribu, Rp10 ribu', ibu bikinin," ucap dia.

Add as a preferred
source on Google

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |