EcoQurban Jadi Solusi Kurangi Limbah Kurban di Jakarta

9 hours ago 11

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi DKI Jakarta mengajak masyarakat dan seluruh penyelenggara kurban menerapkan prinsip EcoQurban pada Iduladha 1446 Hijriyah. Melalui gerakan itu, pelaksanaan kurban diharapkan berlangsung lebih bersih, sehat, dan ramah lingkungan.

Kepala DLH Provinsi DKI Jakarta Dudi Gardesi mengatakan EcoQurban merupakan praktik penyelenggaraan pemotongan hewan kurban yang memperhatikan kebersihan lingkungan. Penerapan itu tidak hanya dilakukan saat distribusi daging kepada masyarakat, melainkan juga sejak proses penyembelihan.

“EcoQurban ini selaras dengan Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 30 Tahun 2025 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pemotongan Hewan Kurban, tidak hanya dalam proses pelaksanaannya, tetapi hingga tahap distribusi daging kurban,” kata dia melalui keterangannya, Senin (25/5/2026).

Ia menyebutkan, ada sekitar 77.436 ekor hewan kurban yang akan disembelih di Jakarta tahun ini. Apabila tidak ditangani dengan benar, hal itu berpotensi menghasilkan limbah dalam jumlah besar. Limbah yang dimaksud antara lain darah hewan, sisa organ dan bagian tubuh yang tidak dimanfaatkan, hingga penggunaan air yang tinggi selama proses penyembelihan dan pembersihan.

Menurut Dudi, setiap ekor hewan kurban membutuhkan sekitar 500 hingga 1.000 liter air untuk proses pembersihan. Selain itu, produksi daging juga memiliki jejak penggunaan air yang tinggi atau water footprint, yakni sekitar 15 meter kubik air untuk menghasilkan 1 kilogram daging sapi.

Karena itu, ia menekankan pentingnya pengelolaan limbah kurban secara benar. Hal itu dinilai dapat meminimalkan pencemaran maupun penumpukan sampah selama Iduladha berlangsung.

Menurut dia, darah hewan atau air bekas pencucian tidak boleh berceceran di lingkungan sekitar. Ia mengimbau masyarakat menampung darah hewan menggunakan wadah kedap air, lalu diberi disinfektan seperti kapur atau klorin agar aman bagi lingkungan.

“Air bekas pencucian juga perlu dipastikan tidak lagi mengandung darah agar tidak mencemari saluran air dan masih dapat dimanfaatkan, misalnya untuk menyiram tanaman,” kata Dudi.

Sementara itu, sisa organ maupun bagian tubuh hewan yang tidak dimanfaatkan diminta untuk tidak dibuang sembarangan. Jika tersedia lahan, limbah organik dapat ditimbun di tanah dengan tambahan disinfektan. Pengolahan menggunakan maggot Black Soldier Fly (BSF) juga dapat menjadi alternatif untuk mengurangi sampah organik.

DLH juga mengimbau masyarakat mengurangi food waste selama pelaksanaan kurban dengan memasak sesuai kebutuhan dan menerapkan konsep prasmanan agar makanan tidak terbuang sia-sia.

Selain pengelolaan limbah, Dudi juga mendorong pengurangan penggunaan plastik sekali pakai saat pembagian daging kurban. Masyarakat dianjurkan menggunakan wadah ramah lingkungan seperti besek bambu, daun pisang, daun jati, maupun wadah guna ulang lainnya.

“Melalui penerapan EcoQurban ini, kami berharap pelaksanaan ibadah kurban tidak hanya membawa manfaat sosial dan keagamaan, tetapi juga menjadi momentum untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan serta mengurangi timbulan sampah di Jakarta,” ujar Dudi.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |