Ekonomi Hijau Didorong Terhubung dari Pertanian hingga Proyek Karbon

3 hours ago 21

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pengembangan ekonomi hijau dinilai membutuhkan ekosistem yang menghubungkan sektor pertanian, rantai pasok, masyarakat, teknologi, hingga pembiayaan. Pengukuran dampak juga menjadi penting agar aktivitas keberlanjutan tidak berhenti sebagai program lingkungan, tetapi dapat berkembang menjadi aktivitas ekonomi yang memberikan nilai bagi masyarakat.

Upaya membangun ekosistem tersebut dilakukan melalui kolaborasi PT ESGIN Global Partners (ESGIN), Koperasi Pangan Cendekia Indonesia (KPCI), dan Koperasi Kencana Darma Cendekia (KKDC). Ketiganya menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) yang mencakup pengembangan pertanian berkelanjutan, rantai pasok pangan, ekonomi sirkular, teknologi digital lingkungan, green project, climate project, serta pemberdayaan masyarakat.

Kolaborasi diarahkan membangun keterhubungan dari hulu hingga hilir. KPCI akan memperkuat jaringan petani, kelompok tani, koperasi, wilayah, dan komoditas pertanian potensial. Sementara KKDC berfokus pada rantai pasok, distribusi, pemasaran, akses pasar, serta jaringan konsumen.

ESGIN mendukung sisi teknologi melalui platform ESG-in, traceability, pengukuran dampak lingkungan, serta Digital Measurement, Reporting and Verification (Digital MRV). Infrastruktur tersebut dapat digunakan untuk mengidentifikasi potensi green project, climate project, dan proyek pengurangan emisi gas rumah kaca.

Vice President PT ESGIN Global Partners Yayang Ruzaldy mengatakan, transformasi menuju ekonomi hijau perlu dibarengi dengan kesiapan talenta yang memahami keterkaitan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan.

“Talenta masa depan harus memahami bahwa pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan bukan dua agenda yang terpisah. Anak-anak kita hari ini akan menjadi entrepreneur, profesional, konsumen, pemimpin, dan pengambil keputusan di masa depan,” ujar Yayang dalam Seminar Nasional Green Education di Jakarta, Kamis (10/9/2026).

Menurut dia, pendidikan hijau perlu diarahkan dari pemahaman menuju aksi yang dapat diukur. Aktivitas seperti pengurangan sampah dan food waste, efisiensi energi dan air, serta partisipasi dalam ekonomi sirkular dapat menjadi bagian dari Green Action.

“Green Education harus bergerak dari knowledge menuju action. Kita perlu memberikan ruang kepada generasi muda untuk melakukan aktivitas nyata,” katanya.

Sektor pertanian menjadi salah satu fokus karena berkaitan langsung dengan ketahanan pangan sekaligus penggunaan lahan, air, energi, biomassa, limbah organik, dan emisi gas rumah kaca. Pemetaan petani, komoditas, wilayah, dan praktik pertanian akan menjadi bagian dari pengembangan kerja sama.

Pengembangan contract farming juga dapat digunakan untuk memperkuat hubungan antara petani, kepastian produksi, koperasi, rantai pasok, dan pasar. Untuk aktivitas pertanian yang memiliki potensi mitigasi perubahan iklim atau pengurangan emisi, kajian lanjutan dapat dilakukan untuk melihat peluang pengembangannya sebagai green project, climate project, maupun proyek karbon sesuai ketentuan yang berlaku.

Di sisi lain, ekonomi sirkular akan dikembangkan melalui keterlibatan masyarakat dan jaringan Bank Sampah Unit (BSU). Aktivitas yang didorong mencakup pemilahan sampah, recycling, pemanfaatan kembali material, pengurangan food waste, serta kegiatan lingkungan lainnya.

Pengembangan ekonomi hijau juga menghadapi kebutuhan untuk memastikan dampak berbagai program dapat dibuktikan melalui data. Karena itu, Digital MRV diarahkan untuk mendukung pencatatan, pemantauan, traceability, measurement, reporting, dan verifikasi aktivitas lingkungan.

Pendekatan berbasis data diperlukan karena aktivitas lingkungan tidak cukup hanya diklaim memberikan manfaat. Setiap kegiatan membutuhkan indikator, metodologi, dan sistem pengukuran yang memadai. Khusus proyek karbon, proses pengembangannya tetap harus memenuhi persyaratan metodologi, baseline, additionality, penghitungan emisi, MRV, validasi, verifikasi, registrasi, serta regulasi yang berlaku.

Sebagai tindak lanjut, ketiga pihak dapat membentuk tim kerja untuk memetakan potensi petani, kelompok tani, komoditas, koperasi, komunitas, BSU, rantai pasok, pasar, serta potensi green project dan climate project. Hasil pemetaan akan menjadi dasar penentuan program prioritas dan calon pilot project.

Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari Seminar Nasional Green Education yang juga melibatkan Bank Mega Syariah. Kegiatan itu mempertemukan unsur pendidikan, koperasi, industri, komunitas, sektor keuangan syariah, teknologi, dan pelaku green economy untuk mendorong penerapan keberlanjutan dalam aktivitas nyata.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |