Fakta di Balik Video Viral Siswa Menyeberang Sungai Tripe di Gayo Lues

11 hours ago 18

INFO TEMPO – Beberapa hari terakhir, video siswa sekolah bergelantungan di kabel sling saat menyeberangi Sungai Tripe di Desa Kendawi, Kecamatan Dabun Gelang, Kabupaten Gayo Lues, menjadi perhatian publik. Potongan video itu viral di media sosial.

Tempo melakukan penelusuran langsung untuk melihat kondisi sebenarnya, termasuk meminta penjelasan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Dari hasil peninjauan di lokasi, TNI dan warga lokal bahu membahu membangun jembatan dan progresnya sudah 50 persen lebih.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Saat video beredar sejak Kamis, 23 Juli 2026, fakta di lapangan memperlihatkan proses pengerjaan yang dimulai sebulan lalu berlangsung setiap hari. Di sisi bekas jembatan beton yang roboh diterjang banjir, dua tiang utama jembatan gantung telah berdiri.

Kabel sling utama sudah terpasang membentang di atas Sungai Tripe, sementara pekerja bersama personel TNI terus menyelesaikan pemasangan gelagar, lantai jembatan, hanger pengikat, dan kawat harmonika sebagai pengaman di sisi kanan dan kiri jembatan. Tempo bahkan diberi tayangan video yang memperlihatkan prajurit TNI sedang memanggul sak semen menggunakan sling.Selama pembangunan berlangsung, akses masyarakat belum sepenuhnya pulih. Sebagai jalur sementara, TNI bersama warga membangun jembatan darurat berupa dua kabel sling yang hingga kini masih dimanfaatkan masyarakat, termasuk para pelajar.

Di lokasi yang sama, personel Batalyon Teritorial Pembangunan (Yon TP) 885/Raksaka Dharma juga menyiagakan satu unit rubber boat sebagai langkah antisipasi apabila kondisi sungai tidak memungkinkan bagi warga melintas. 

Komandan Peleton Yon TP 855/Raksaka Dharma, Peltu Nurdin, mengatakan pembangunan Jembatan Gantung Garuda di Desa Kendawi telah berlangsung sekitar satu bulan lebih. Hingga akhir Juli, salah satu abutmen telah rampung dikerjakan. "Perkembangan pembangunannya telah mencapai 50 persen," kata Nurdin, Kamis, 30 Juli 2026.

Perkembangan pekerjaan tersebut juga dipantau langsung oleh Kepala Koordinator Wilayah Aceh II Posko Nasional Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR), Brigjen TNI (Mar) Dr. Guslin.

Dalam peninjauan itu, Dandim 0113/Gayo Lues Letkol Arm. Fran Desiafan Eka Saputra menyampaikan optimisme bahwa Jembatan Gantung Garuda dapat diselesaikan sebelum peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia.

Personel TNI menyiagakan perahu karet (rubber boat) di Sungai Tripe, Desa Kendawi, Kecamatan Dabun Gelang, Kabupaten Gayo Lues, Aceh, Kamis, 30 Juli 2026. Tempo/Muhajir

Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan BNPB sekaligus PIC BNPB untuk Kabupaten Gayo Lues, Dr. Kheriawan, mengatakan pembangunan jembatan sebenarnya telah dimulai sejak beberapa waktu lalu. Namun pekerjaan di lapangan menghadapi tantangan yang tidak ringan.

"Upaya membangun jembatan sebenarnya sudah berlangsung lama, namun kami menghadapi medan yang cukup berat. Saat hujan deras turun, arus Sungai Tripe menjadi sangat deras sehingga memengaruhi pekerjaan konstruksi," kata Kheriawan melalui sambungan telepon kepada Tempo.

Menurut dia, sebagian material pembangunan harus didatangkan dari Medan. Jarak distribusi yang panjang, ditambah cuaca yang tidak menentu dan sempat terjadinya kelangkaan solar di sejumlah wilayah Sumatra, membuat pengiriman material beberapa kali mengalami keterlambatan.

Meski demikian, Kheriawan optimistis target penyelesaian tetap dapat dicapai. Ia mengatakan personel TNI bersama masyarakat terus bergotong royong mempercepat pekerjaan sehingga jembatan diperkirakan dapat selesai pada pekan pertama atau kedua Agustus apabila seluruh material tiba sesuai jadwal.

"Jembatan Garuda merupakan jembatan darurat, sama seperti jembatan Bailey maupun Armco, yang dibangun untuk segera memulihkan akses masyarakat. Setelah itu pemerintah akan melanjutkan pembangunan jembatan permanen," ujarnya.

Pembangunan jembatan tersebut menjadi bagian dari upaya rehabilitasi dan rekonstruksi setelah banjir bandang yang melanda Gayo Lues pada akhir November tahun lalu. Bencana itu menyebabkan SD Negeri 5 Dabun Gelang dan SMP Satu Atap Kendawi mengalami kerusakan cukup parah.

Agar kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung dan tidak mengganggu proses pembangunan jembatan, pihak sekolah bersama Dinas Pendidikan Kabupaten Gayo Lues memindahkan sementara aktivitas belajar ke meunasah desa. Menariknya, pembangunan Jembatan Gantung Garuda berlangsung tepat di kawasan halaman sekolah tersebut sehingga menjadi bagian dari upaya memulihkan kembali akses pendidikan masyarakat.

Kheriawan menegaskan pemerintah terus menjalankan rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Menurut dia, tantangan medan, banyaknya jembatan perlintasan yang rusak, serta kendala logistik membuat proses pembangunan tidak selalu terlihat oleh publik dan tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat.

Perhatian publik terhadap sejumlah titik kerusakan infrastruktur, Kheriawan melanjutkan, merupakan hal yang wajar. Namun masyarakat perlu memahami, penanganan pascabencana membutuhkan proses bertahap mengingat jumlah kerusakan yang tersebar di berbagai wilayah. ironisnya, ada pihak yang gemar menggoreng salah satu isu dan melupakan ratusan tempat lain yang kini semakin mendekati normal.

"Negara tetap hadir. Kami terus melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi di tiga provinsi terdampak banjir dan longsor. Memang ada tantangan medan, akses, dan logistik yang kadang menimbulkan kesan seolah ada wilayah yang belum tersentuh. Padahal pekerjaan terus berjalan. Kami berharap masyarakat dapat melihat proses ini secara utuh karena Satgas PRR tetap bekerja untuk memulihkan kehidupan masyarakat," kata Kheriawan. 

Secara keseluruhan, penanganan infrastruktur jembatan di tiga provinsi tersebut mencakup 1.227 unit. Hingga akhir Juli 2026, sebanyak 574 jembatan atau 46,8 persen telah selesai ditangani, sementara 653 jembatan lainnya masih dalam tahap pengerjaan.

Aceh menjadi wilayah dengan jumlah sasaran penanganan terbesar, yakni 676 jembatan atau sekitar 55 persen dari total kebutuhan di tiga provinsi. Dari jumlah tersebut, 188 jembatan telah selesai ditangani, sementara 490 jembatan masih dalam proses pengerjaan. (*)

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |