Film Wuthering Heights Hadirkan Romansa Kelam Penuh Gejolak Emosi

13 hours ago 6

CANTIKA.COM, Jakarta - Film tragedi-romantis Wuthering Heights arahan sutradara Emerald Fennell tengah menarik perhatian karena kisahnya. Dibintangi Jacob Elordi dan Margot Robbie, film  ini merupakan adaptasi terbaru dari novel klasik karya Emily Brontë, yang sejak pertama terbit dikenal lewat kisah cinta intens, kelam, dan sarat luka batin.

Mengutip People, film ini berfokus pada hubungan penuh gejolak antara Heathcliff, yang diperankan Jacob Elordi, dan Catherine “Cathy” Earnshaw yang dibawakan Margot Robbie. Heathcliff digambarkan sebagai anak yatim piatu misterius yang diadopsi oleh keluarga berada, lalu tumbuh bersama Cathy dan membangun ikatan emosional yang begitu dalam. Sayangnya cinta mereka tak pernah benar-benar menemukan ruang aman kaena prasangka sosial, kesenjangan kelas, dan ambisi personal yang perlahan merusak hubungan tersebut.

Kecemburuan, obsesi, dan rasa memiliki yang berlebihan pun menjadi benang merah cerita, mendorong Heathcliff dan Cathy ke dalam pusaran emosi yang destruktif. Dari cinta yang membara, kisah ini berkembang menjadi siklus balas dendam yang tak hanya menghantui dua tokoh utama, tetapi juga berdampak lintas generasi. Dalam versi film ini, Fennell hadir menekankan gairah, kemarahan, dan luka batin sebagai inti dramatik cerita. Menariknya, Wuthering Heights datang dengan klaim ambisius dari Warner Bros Pictures yang menyebut film ini sebagai salah satu kisah romansa paling besar sepanjang masa. Klaim tersebut tersemat dalam materi promosi, meski tidak sepenuhnya sejalan dengan respons awal para kritikus.

Kisah Titanic Versi Baru

Dalam wawancara dengan British Vogue, Margot Robbie mengungkap percakapannya dengan Fennell yang berharap Wuthering Heights dapat dikenal luas layaknya kisah Jack dan Rose dalam Titanic (1997). Fennell bahkan mengenang pengalamannya menonton Romeo & Juliet berulang kali di bioskop, dengan harapan film ini mampu memantik keterikatan emosional serupa pada penonton masa kini.

Namun dalam kesempatan tersebut, Robbie juga menyinggung soal keraguan publik terhadap film ini. Belajar dari pengalamannya di Barbie, ia memilih mempercayai intuisi kreatif, menurutnya karya yang lahir dari keyakinan sering kali justru menemukan jalannya sendiri di hati penonton, terlepas dari keraguan awal industri.

Kata Kritikus

Respons kritikus terhadap Wuthering Heights pun terbelah, David Rooney dari The Hollywood Reporter menggambarkan film ini sebagai tontonan provokatif dengan visual mencolok, desain mewah, sensual, dan tragis. Ia juga menyebut film tersebut berada di batas tipis antara kecerdasan dan absurditas, namun diyakini mampu menggugah emosi penonton muda.

Sementara itu, David Sims dari The Atlantic menilai film ini memberikan pengalaman menonton yang intens, meski tak segan menyebutnya sebagai sajian yang kotor dan mengganggu. Menurut Sims, estetika khas Fennell memang indah di permukaan, tetapi gelap dan tidak nyaman ketika diselami lebih dalam.

Nada paling kritis datang dari Clarisse Loughrey di The Independent yang menilai film ini hanya memanfaatkan label adaptasi untuk membungkus ulang kisah klasik ke dalam klise romansa komersial, sehingga kehilangan kedalaman emosional novel aslinya. Baginya, film ini terasa hampa, terlepas dari statusnya sebagai adaptasi atau karya lepas.

Dengan respons yang beragam, Wuthering Heights versi Emerald Fennell tampaknya akan menjadi film yang memancing diskusi. Entah dipuja karena keberaniannya atau diperdebatkan karena tafsirnya, film ini tetap menghadirkan satu hal yang tak terbantahkan, yaitu kisah cinta tragis yang kembali dihidupkan dengan pendekatan ekstrem dan emosional.

Pilihan Editor: Aktris Hollywood dengan Bayaran Tertinggi, Margot Robbie hingga Reese Witherspoon

CAHYA SAPUTRA I MARVELA

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |