PARLEMEN Israel atau Knesset resmi membubarkan diri pada Jumat dini hari, 17 Juli 2026, setelah mengesahkan serangkaian rancangan undang-undang kontroversial pada hari-hari terakhir masa pemerintahan koalisi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Pembubaran itu membuka jalan bagi pemilihan umum (pemilu) yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober 2026.
Menurut laporan The New Arab, Knesset yang semula dijadwalkan memasuki masa reses musim panas pada Jumat, 17 Juli, tidak akan kembali bersidang hingga pemilu digelar pada Oktober mendatang.
Parlemen Selesaikan Masa Jabatan Penuh
Ketua Knesset Amir Ohana mengatakan parlemen berhasil menyelesaikan masa jabatan penuh selama empat tahun, sesuatu yang tergolong langka dalam sejarah politik Israel. “Kami menyelesaikan masa jabatan empat tahun, meloloskan sembilan anggaran dan ratusan undang-undang. Saya berterima kasih atas kepercayaan yang Anda berikan kepada saya sehingga bersama-sama kita berhasil mempertahankan masa jabatan penuh selama empat tahun,” kata Ohana saat mengumumkan pembubaran parlemen.
Penyelesaian masa jabatan penuh selama empat tahun merupakan peristiwa yang jarang terjadi di Israel. Terakhir kali pemerintahan menyelesaikan masa jabatan sesuai jadwal terjadi pada 1988. Sebaliknya, sepanjang 2019 hingga 2022, warga Israel harus mengikuti lima kali pemilu akibat berulangnya krisis politik dan rapuhnya koalisi pemerintahan.
Pada Selasa, parlemen juga menyetujui dua paket pendanaan baru untuk memperluas permukiman Israel di Tepi Barat yang diduduki. Menteri Keuangan Bezalel Smotrich dan Menteri Orit Strock mengumumkan kebijakan tersebut.
Paket pertama mencakup alokasi 1,3 miliar Shekel Israel atau sekitar US$ 431 juta yang sebelumnya disetujui pada Juni untuk membangun 34 permukiman baru.
Selain itu, parlemen menyetujui tambahan anggaran sebesar 1,075 miliar Shekel atau sekitar US$ 358 juta untuk membangun jalan-jalan baru yang menghubungkan permukiman Israel di wilayah pendudukan Tepi Barat.
Dukungan ke Netanyahu Melemah
Sementara itu, dukungan terhadap koalisi Netanyahu terus melemah menjelang pemilu. The Arab Weekly, mengutip hasil survei Maariv yang dipublikasikan pada Jumat, melaporkan blok oposisi diproyeksikan meraih 62 kursi di Knesset, melampaui ambang mayoritas 61 kursi yang dibutuhkan untuk membentuk pemerintahan. Sebaliknya, blok pendukung Netanyahu diperkirakan hanya memperoleh 48 kursi, sementara partai-partai Arab menguasai 10 kursi.
Survei tersebut memperkirakan Partai Likud yang dipimpin Netanyahu akan memperoleh 22 kursi, jumlah yang sama dengan partai baru Yashar pimpinan mantan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel, Gadi Eisenkot. Adapun aliansi mantan Perdana Menteri Naftali Bennett diproyeksikan meraih 16 kursi, disusul Partai Demokrat pimpinan Yair Golan dengan 11 kursi dan Yisrael Beiteinu yang dipimpin Avigdor Lieberman dengan sembilan kursi.
Survei yang melibatkan 500 responden Yahudi dan Arab Israel itu juga menunjukkan 55 persen responden tidak yakin pemerintah mampu mengambil keputusan yang tepat menjelang pemilu. Sebaliknya, hanya 38 persen yang menyatakan masih memiliki kepercayaan terhadap pemerintah.
Pilihan Editor: Trump Tuduh Cina Bobol Data Pemilu AS 2020

















































