Mengapa Orang Mudah Berkomentar Jahat dan Nirempati di Medsos?

8 hours ago 10

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Psikolog klinis dewasa sekaligus konsultan psikologi di Hiraka Asa Indonesia, Dini Yuliati Kurniati, menanggapi kasus sejumlah tenaga kesehatan (nakes) yang menulis komentar nirempati pada unggahan pasien BPJS. Pasien yang diketahui bernama Yurizal tersebut kini dikabarkan telah meninggal dunia.

Menurut dia, perilaku tersebut dapat dipengaruhi oleh fenomena online disinhibition effect. Ini adalah yaitu kecenderungan seseorang menjadi lebih berani, impulsif, atau agresif ketika berinteraksi di dunia maya karena tidak berhadapan langsung dengan orang lain. Di media sosial, rasa sungkan dan kontrol diri bisa berkurang.

"Saat berbicara tatap muka, kita bisa melihat ekspresi sedih atau kecewa dari lawan bicara. Tapi di media sosial, umpan balik atau feedback emosional itu tidak terlihat, sehingga empati lebih mudah menurun," kata Dini saat dihubungi Republika, Rabu (5/8/2026).

Selain itu, emosi sesaat seperti kesal, marah, kecewa, atau benci juga dapat mendorong seseorang menulis komentar secara impulsif tanpa berpikir panjang. Kondisi tersebut diperkuat oleh algoritma media sosial yang kerap menampilkan konten-konten yang memancing emosi negatif karena lebih banyak menarik perhatian dan interaksi pengguna.

Menurut Dini, faktor lain yang turut berperan adalah pengaruh kelompok. Ketika seseorang melihat banyak pengguna lain menghujat seseorang di kolom komentar, ia dapat terdorong ikut memberikan komentar negatif karena menganggap perilaku tersebut merupakan norma dalam kelompok.

"Fenomena ini dikenal sebagai bandwagon effect. Dalam media sosial, keputusan ini bisa didorong oleh emosi dan kebutuhan validasi sosial daripada pemikiran logis," kata dia.

Agar tidak mudah menulis komentar jahat di media sosial, Dini menyarankan masyarakat tidak langsung merespons ketika emosi sedang tinggi. Pengguna juga dapat memberi jeda beberapa menit bahkan beberapa jam sebelum menulis komentar agar dapat mengendalikan diri dan menstabilkan emosi.

"Saat jeda bernapas tersebut, tanyakan pada diri sendiri, apakah komentar yang akan saya tulis ini bertujuan memberi masukan atau hanya melampiaskan emosi agar saya merasa puas? Bagaimana rasanya jika saya diserang dengan komentar negatif? Disitulah kita sedang melakukan latihan empati," kata dia.

Dini mengatakan dampak hate comment tidak sama pada setiap orang. Ada yang mampu mengabaikannya, namun ada pula yang mengalami gangguan psikologis, terutama jika komentar negatif datang berulang kali, dilakukan oleh banyak orang, atau menyerang aspek personal seperti harga diri.

"Dalam hal ini pada individu yang memiliki sakit fisik tertentu, serangan hate comment dapat mempengaruhi kondisi psikologisnya," kata dia.

Beberapa dampak yang kerap muncul antara lain menurunnya harga diri. Korban dapat mulai mempercayai komentar negatif yang diterimanya berulang kali hingga menganggap dirinya memang tidak berharga. Korban juga dapat mengalami rasa malu dan memilih menarik diri, baik dengan mengurangi aktivitas di media sosial, menghindari interaksi di dunia nyata, bahkan mengisolasi diri.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |