PERJALANAN Cape Verde pada penampilan perdana di Piala Dunia 2026 belum berakhir. Negara kepulauan di lepas pantai barat Afrika itu memastikan lolos ke babak 32 besar setelah bermain imbang tanpa gol melawan Arab Saudi pada laga terakhir Grup H, Sabtu, 27 Juni 2026.
Hasil tersebut membuat Cape Verde menutup fase grup tanpa terkalahkan. Tim berjuluk Blue Sharks itu mengoleksi tiga poin dari tiga hasil imbang dan finis sebagai runner-up Grup H di bawah Spanyol. Mereka unggul satu poin atas Uruguay yang harus tersingkir bersama Arab Saudi.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Pencapaian itu menjadi sejarah baru. Dengan jumlah penduduk sekitar 525 ribu jiwa, Cape Verde menjadi negara dengan populasi terkecil yang pernah mencapai fase gugur Piala Dunia. Sebelumnya, Curacao dan Islandia yang juga berasal dari negara berpenduduk kecil gagal melewati babak grup saat tampil di Piala Dunia.
Cape Verde juga menjadi tim debutan pertama yang lolos ke fase gugur sejak Slovakia pada Piala Dunia 2010. Mereka bahkan menjadi pendatang baru pertama yang tidak terkalahkan dalam tiga pertandingan fase grup sejak Senegal pada edisi 2002. "Kami memang negara kecil, tetapi kami memiliki kebesaran hati dan kami adalah para petarung,” kata kiper veteran Cape Verde, Vozinha, seusai pertandingan, seperti dikutip dari ESPN.
Sebelum menahan Arab Saudi, Cape Verde lebih dulu mengejutkan publik dengan menahan imbang juara Eropa Spanyol tanpa gol pada laga pembuka. Mereka kemudian bermain 2-2 melawan Uruguay untuk menjaga peluang lolos.
Pelatih Bubista mengatakan timnya datang ke Piala Dunia bukan sekadar menjadi pelengkap. "Tim ini sangat ingin menunjukkan jati diri kami kepada seluruh dunia. Kami bangga bisa mencapai tahap ini. Kami telah menunjukkan bahwa kami adalah negara kecil, tetapi kami berjuang untuk meraih apa yang ingin kami capai," ujar dia.
Dalam pertandingan melawan Arab Saudi, seperti dikutip dari FIFA, kedua tim kesulitan menciptakan peluang bersih sepanjang babak pertama. Kesempatan terbaik Cape Verde datang melalui Jamiro Monteiro yang tembakannya mampu digagalkan Mohammed Al-Owais.
Selepas turun minum, Cape Verde tampil lebih berbahaya. Kevin Pina nyaris mencetak gol lewat sepakan melengkung yang tipis melebar. Laros Duarte dan Nuno da Costa juga memperoleh peluang emas, tetapi belum mampu menaklukkan Al-Owais.
Di sisi lain, Arab Saudi beberapa kali mengancam gawang Cape Verde. Namun, Vozinha kembali menunjukkan kelasnya. Kiper berusia 40 tahun itu melakukan sejumlah penyelamatan penting, termasuk menggagalkan sundulan Mohamed Kanno pada masa injury time babak pertama, menepis tembakan Mohammed Abu Al-Shamat pada menit ke-66, serta menghentikan peluang Abdullah Al-Hamdan pada masa tambahan waktu babak kedua.
Bagi Vozinha, keberhasilan Cape Verde bukanlah kebetulan. "Kami memiliki banyak pemain berkualitas. Mungkin banyak orang menganggap pemain Cape Verde tidak cukup bagus. Tetapi kami datang ke sini untuk menunjukkan bahwa kami punya kualitas, kami datang untuk bersaing, dan para pemain kami mampu bermain di kompetisi serta liga-liga besar," ujarnya.
Keberhasilan Cape Verde juga dipastikan setelah Spanyol mengalahkan Uruguay pada pertandingan lain di Grup H. Seusai peluit panjang berbunyi, para pemain dan suporter Cape Verde langsung merayakan keberhasilan bersejarah tersebut. Sebagian di antaranya bahkan tampak menangis haru di tribun.
Lawan yang lebih berat kini telah menanti. Cape Verde akan menghadapi juara bertahan Argentina pada babak 32 besar di Miami, 3 Juli mendatang.
Bubista mengaku selalu percaya negaranya suatu saat akan tampil di panggung besar sepak bola dunia. "Saya selalu mengatakan bahwa cepat atau lambat Cape Verde akan berada di panggung seperti ini. Sulit memprediksi kami bisa sejauh ini, tetapi saya selalu percaya hal itu akan terjadi," kata dia.

















































