Prabowo Sebut Pakar “Goblok”, PVRI: Tanda Sikap Antisains

3 hours ago 19
Presiden Prabowo Subianto | Instagram

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kritik terhadap pemerintah semestinya menjadi bagian dari mekanisme kontrol dalam negara demokrasi. Namun, ketika kritik dari kalangan pakar justru dibalas dengan umpatan, persoalannya tidak lagi sekadar soal perbedaan pendapat.

Hal itulah yang disoroti Public Virtue Research Institute (PVRI) menyusul pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut sejumlah pakar yang mengkritik pemerintah sebagai orang yang “saking pintarnya jadi goblok”.

Direktur Eksekutif PVRI Muhammad Naziful Haq menilai pernyataan tersebut menunjukkan persoalan yang lebih mendasar, yakni sikap terhadap pengetahuan dan kritik ilmiah dalam penyelenggaraan pemerintahan.

“Pernyataan yang bersifat umpatan itu bukan kali pertama dilontarkan Presiden secara terbuka. Itu menandai sikap anti-pengetahuan,” kata Naziful dalam keterangannya, Minggu (20/9/2026).

Menurut Naziful, keberadaan pakar dan ilmuwan dalam proses pengambilan kebijakan bukan sekadar pelengkap. Kajian ilmiah, data, dan fakta diperlukan agar pemerintah dapat menentukan prioritas sekaligus menetapkan target kebijakan secara terukur.

Karena itu, ia menilai seorang pemimpin dalam sistem demokrasi perlu memiliki kemauan untuk mendengar sekaligus sikap ilmiah dalam menghadapi berbagai persoalan.

Naziful juga mengingatkan bahwa suara kritis merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari demokrasi. Kritik dari pakar, menurut dia, semestinya diuji melalui argumentasi dan data, bukan dibalas dengan serangan verbal.

Ia menilai umpatan kepada kalangan pakar dapat menunjukkan keengganan seorang pemimpin untuk menerima kritik.

“Ini hal sederhana yang sebenarnya lebih besar daripada apa pun,” tuturnya.

Pernyataan Prabowo yang kemudian menuai sorotan itu disampaikan saat menghadiri peringatan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta, Jumat (18/9/2026).

Dalam pidatonya, Prabowo sebelumnya berbicara mengenai keinginannya melihat Indonesia menjadi negara yang sejahtera. Ia juga menyinggung persoalan kelaparan, stunting, kekurangan gizi, serta pentingnya meningkatkan kualitas generasi Indonesia.

Di tengah pidato tersebut, Prabowo kemudian menanggapi kritik yang disampaikan sejumlah pihak yang disebutnya sebagai pakar. Ia mengatakan tidak mempersoalkan kritik, tetapi keberatan apabila kritik tersebut menurutnya telah berubah menjadi fitnah.

“Terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar. Saking pintarnya jadi goblok,” kata Prabowo.

Presiden kemudian menekankan pentingnya kejujuran intelektual bagi seorang cendekiawan. Menurutnya, kepakaran seharusnya disertai tanggung jawab untuk menyampaikan sesuatu secara jujur.

“Saya ingatkan, kalau Anda punya kepintaran, jangan lupa, seorang cendekiawan itu harus jujur. Itu namanya kejujuran intelektual, intellectual honesty,” ucap Prabowo.

Pernyataan tersebut kemudian mendapat respons dari PVRI. Naziful menilai demokrasi justru membutuhkan ruang bagi pandangan yang berbeda, termasuk kritik terhadap kebijakan pemerintah.

Dalam pandangannya, kemampuan mendengar kritik dan menggunakan pertimbangan ilmiah merupakan bagian penting dalam proses pengambilan keputusan publik.

Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan dari pihak pemerintah mengenai kritik PVRI tersebut. Tempo menyebut telah menghubungi Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dan Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Muhammad Qodari untuk meminta tanggapan, tetapi belum memperoleh respons. [*]  Disarikan dari sumber berita media daring

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |