Saat Komunikasi Terputus, Anak Memilih Menutup Diri dari Orang Tua

4 hours ago 8

Image Alfian Syahrusyiam Ramdani

Edukasi | 2026-07-01 19:56:34

Pernahkah kamu memperhatikan bagaimana suatu rumah bisa terasa begitu sunyi, padahal semua anggota keluarga ada didalamnya? Suara televisi menyala, aroma masakan tercium dari dapur. Namun, diantara orang tua dan anak ada jarak yang tidak terlihat secara langsung namun nyata adanya. Bukan jarak secara fisik, melainkan jarak interaksi dan komunikasi antara keduanya. Hal seperti ini sebenarnya bukanlah suatu hal yang baru, namun belakangan ini kabarnya semakin banyak terdengar, terutama saat generasi muda mulai berani bercerita lewat media sosial tentang betapa sulitnya membuka diri kepada orang tua sendiri.

Jika kita perhatikan mengapa seorang anak justru lebih memilih memendam masalahnya dari pada bercerita kepada orang tuanya sendiri? Dari pertanyaan seperti inilah yang menjadi Gambaran bahwasannya komunikasi dalam sebuah keluarga tidak selalu berjalan sebaik yang terlihat. Pada saat ini, tidak sedikit anak yang lebih memilih untuk diam menyimpan perasaan bahkan menghindari percakapan kepada orang tuanya sendiri hanya karena merasa tidak difahami, takut dihakimi dan khawatir pendapatnya tidak didengar dengan baik. Padahal, yang seharusnya menjadi ruang pertama untuk menghadirkan rasa aman dan kepercayaan bagi seorang anak adalah keluarganya sendiri. Sebab itulah, pada saat komunikasi mulai terputus, hubungan antara orang tua dan anak pun perlahan merenggang, sehingga berbagai masalah yang seharusnya dapat diselesaikan bersama sama justru hanya dipendam sendirian.

Dibalik keadaan tersebut, mungkin ada suatu momen yang terasa begitu familiar bagi banyak orang tua, dimana anak pulang seketika langsung masuk kamar dan menutup pintu. Dan ketika ia ditanya, jawabnya singkat “Baik-baik ajaa / gaada apa-apa” selepas itu lalu hening Kembali. Bagi Sebagian orang tua, hal tersebut Adalah sebuah sinyal alarm yang mengingatkan bahwa ada sesuatu yang menggajal, namun bagi Sebagian orang tua lainnya hal tersebut sudah menjadi rutinitas yang dianggap wajar terjadi. Padahal, dibalik pintu yang tertutup itu, ada banyak percakapan yang seharusnya terjadi namun tidak pernah terjadi dan memiliki dampak yang jauh lebih panjang dari yang dibayangkan.

Dari kasus tersebut, jika kita telaah lebih lanjut dari sudut pandang komunikasi, apa yang terjadi di banyak rumah sebenarnya bukan hanya soal orang tua dan anak yang tidak pernah saling berbicara. Mereka saling berbicara, namun prosenya yang berhenti di tengah jalan. Dalam komunikasi, sebuah pesan idealnya melalui beberapa proses, penyampaian pesan hingga umpan balik (feedback) yang saling menyambung antara kedua pihak. Disinilah yang jadi masalahnya, tidak sedikit terjadi di sebuah keluarga proses komunikasi terputus di bagian umpan balik (feedback). Ketika anak mencoba menyampaikan sesuatu, yang ia terima bukanlah sebuah pemahaman melainkan sebuah penilaian langsung, sehingga mengakibatkan proses komunikasi yang harusnya berjalan dua arah itu berhenti sebelum sempat membentuk makna bersama.

Mengutip dari perkataan Joseph A. DeVito pada buku The interpersonal Communication Book “Komunikasi yang efektif adalah proses transaksional dimana sebuah makna diciptakan bersama-sama oleh pengirim dan penerima.” Kutipan tersebut menegaskan satu hal mendasar yang sering luput dalam hubungan komunikasi antara orang tua dan anak. Komunikasi bukan hanya sekedar sebuah pembicaraan, melainkan pertukaran informasi dua arah (komunikan & komunikator). Ketika orang tua mendominasi percakapan, memberi nasihat tanpa mendengar, menghakimi sebelum memahami, atau merepons cerita anak dengan ceramah panjang, maka yang terjadi bukanlah sebuah komunikasi. Yang terjadi hanya bagaikan siaran satu arah yang pada akhirnya anak berhenti mencoba menyampaikan pesan.

Dalam banyak keluarga di Indonesia, pola komunikasi satu arah ini seringkali bersembunyi dibalik niat yang baik. Orang tua berbcara keras karena peduli, mereka menghakimi karena ingin anaknya tidak salah jalan. Namun jika dilihat dari sudut pandang anak, yang terasa adalah sesuatu hal yang berbeda, bahwasanya ia tidak cukup dipercaya untuk bercerita dan bahwa curhat hanya akan berakhir dengan “Kamu harusnya...” alih alih mengatakan “Ibu dan bapak faham...” sehingga dengan berjalannya waktu anak belajar bahwa lebih aman untuk menyimpan segalanya sendirian.

Dampak Jangka Panjang.

Yang menjadi persoalan serius adalah ketika pola ini terbawa dewasa. Anak yang terbiasa memendam karena takut dihakimi, karena tidak pernah merasa didengar akan tumbuh menjadi individu yang kesulitan membuka diri, bahkan kepada orang-orang terdekatnya. Selain itu dikatakan juga bahwa kualitas komunikasi dalam keluarga secara signifikan itu sangat memengaruhi kemampuan seseorang untuk mengelola konflik dan membangun hubungan saat ia dewasa. Dan berita kurang baik lainnya adalah pada saat orang tua yang kehilangan akses komunikasi dengan anaknya, sering kali tidak menyadari bahwa kekosongan itu sudah lama terisi oleh hal-hal lain.

Dan jika dilihat dari sudut komunikasi interpersonal dalam konteks keluarga, keluarga pun perlu mengetahui dan menerapkan beberapa langkah agar secara perlahan komunikasi yang selama ini renggang dapat kembali membaik: Pertama, alih-alih memulai percakapan dengan solusi, mulailah dengan pertanyaan terbuka yang tulus “Bagaimana yang kamu rasakan?.” Bukan “Harusnya kamu...” Yang mungkin dengan cara menanggapi seperti itu membuat anak lebih merasa difahami keadaannya. Kedua, validasi emosi sebelum memberi penilaian. Ketiga, dan ini mungkin yang paling berat agar menahan dorongan untuk langsung memperbaiki. Karena terkadang anak hanya perlu didengar bukan langsung dibenahi. Karena tujuan komunikasi bukan untuk membuat orang lain setuju dengan kita, namun untuk menciptakan pemahaman bersama.

Penutup

Dan pada intinya membangun kembali kepercayaan anak yang sudah lama menutup diri itu bukanlah suatu hal yang mudah. Semua harus melewati beberapa proses yang membutuhkan waktu, konsistensi, dan kerendahan hati dari orang tua untuk mengakui bahwa pola lama yang ia terapkan mungkin perlu diubah. Pintu kamar anak mungkin masih tetap tertutup besok. Namun, jika hari ini orang tua mulai mengetuk dengan cara yang berbeda maka kemungkinan pintu tersebut suatu saat perlahan terbuka kembali dan mungkin jauh lebih besar dari sebelumnya.

Pada akhirnya, persoalan anak yang menutup diri dari orang tua bukan semata soal siapa yang salah dan siapa yang benar, melainkan soal bagaimana proses komunikasi tersebut di jalankan sehari-hari, mulai dari penyampaian pesan, cara mendengarkan bahkan hingga bahasa tubuh yang tanpa sadar ikut berbicara. Karena komunikasi yang sehat itu tidak butuh kalimat yang sempurna atau nasihat yang panjang, ia hanya butuh ruang yang membuat anak merasa aman untuk bicara jujur. Dan ruang tersebut, sesederhana apapun bentuknya, pasti selalu bisa mulai untuk dibangun kembali, asal ada kemauan dari keduanya untuk saling mendengar bukan hanya saling berbicra.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |