Begini Kronologi Aktivitas Anak Krakatau hingga Erupsi

2 hours ago 13

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memaparkan kronologi perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau hingga kembali mengalami erupsi pada September 2026. Aktivitas gunung api tersebut kembali meningkat sejak Juli 2026 setelah sebelumnya mengalami seri erupsi berskala kecil hingga Desember 2023.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria mengatakan perkembangan aktivitas Anak Krakatau tidak terlepas dari erupsi besar pada 22 Desember 2018. Erupsi tersebut menyebabkan longsoran sebagian tubuh gunung api yang kemudian memicu gelombang tsunami di Selat Sunda.

"Erupsi pada tanggal 22 Desember 2018 ini menghasilkan longsoran dan gelombang tsunami," kata Lana dalam konferensi pers perkembangan erupsi Gunung Api Anak Krakatau, Ahad (6/9/2026).

Setelah peristiwa tersebut, seri erupsi berskala kecil masih berlangsung hingga 16 Desember 2023. Gunung Anak Krakatau kemudian kembali mengalami erupsi sejak 2 Juli 2026.

Pada tanggal tersebut, status aktivitas Gunung Anak Krakatau dinaikkan dari Level II atau Waspada menjadi Level III atau Siaga. Aktivitas gunung api itu kemudian terus berkembang hingga memasuki periode erupsi pada September 2026.

Pada 4 September 2026 pukul 23.00 WIB, Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus. Erupsi tersebut disertai semburan lava atau lava fountain, suara gemuruh, dan dentuman.

"Lava fountain ini merupakan salah satu karakteristik dari Gunung Api Krakatau dan merupakan fenomena yang umum terjadi pada gunung api yang memiliki viskositas magma relatif rendah," ujar Lana.

Aktivitas Anak Krakatau mencapai tingkat tertinggi pada 5 September 2026. Badan Geologi menyebut aktivitas yang meningkat ditandai dengan erupsi berulang dan berlangsung menerus.

Lana menjelaskan kondisi tersebut menunjukkan masih berlangsungnya suplai magma dan gas di dalam tubuh gunung api. Meski demikian, erupsi yang sering tidak otomatis berarti akan terjadi erupsi dengan skala lebih besar.

Badan Geologi KESDM terus mengevaluasi aktivitas Anak Krakatau berdasarkan seluruh parameter pemantauan. Parameter tersebut mencakup data kegempaan, pengamatan visual, deformasi, emisi gas, citra satelit, hingga informasi lapangan.

Masyarakat dan wisatawan juga diminta tidak memasuki wilayah dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Badan Geologi mengingatkan adanya potensi bahaya berupa awan panas, lava, lontaran batu pijar, hujan abu, dan abu vulkanik lebat.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |