PULUHAN anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) diduga menyambangi Markas Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya (Polda Metro Jaya) seusai penggeledahan rumah hingga Cafe de’Clan Signature di jalan Cilandak Tengah, Cipete, Jakarta Selatan pada Rabu, 8 Juli 2026. Kafe tersebut diduga terkait Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah.
Sejumlah saksi mata mengatakan, mereka melihat puluhan anggota TNI berada di dalam kompleks Polda Metro Jaya sekitar pukul 03.40 WIB. Berdasarkan pantauan Tempo pada pukul 09.00 WIB, sejumlah kendaraan dinas tentara berpelat hijau-merah hilir mudik di depan Gedung Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Namun, Kepala Pusat Penerangan TNI Brigadir Jenderal Muhammad Nas membantah intervensi tentara terhadap proses hukum yang berjalan di Polda Metro Jaya. “TNI menghormati proses hukum dan tidak intervensi terhadap mekanisme yang berlaku,” kata dia saat dihubungi, Kamis, 9 Juli 2026.
Berdasarkan informasi Tempo, yang dikonfirmasi oleh dua petinggi Polri, sejumlah petinggi TNI yang datang ke Polda Metro Jaya pada Kamis dini hari di antaranya Direktur C Badan Intelijen Strategis atau Bais TNI Brigadir Jenderal Wahyo Yuniartoto, serta Wakil Komandan Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) Brigjen Cpm. Anggiat Napitupulu.
Ada pula seorang kolonel angkatan 2001 dan 10 personel TNI berseragam dan bersenjata. Selain itu, lima personel kejaksaan berpakaian sipil. Lebih jauh, Nas menyangkal soal kehadiran personel TNI di Polda Metro Jaya pada Kamis dini hari tadi. “Tidak benar,” ujar Nas.
Profil Brigadir Jenderal Wahyo Yuniartoto
Wahyo lahir di Purbalingga, Jawa Tengah pada 18 Juni 1979. Pada 2001, ia lulus Akademi Militer atau Akmil. Pada 2017-2018, dia pernah menjadi Komandan Batalyon 14/Grup 1 Komando Pasukan Khusus atau Kopassus, satuan elit utama tempur di bawah jajaran Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD).
Kemudian, ia menjabat sebagai Komandan Komando Distrik Militer 0703/Cilacap pada 2018-2020. Setelah itu, dia ditunjuk sebagai Komandan Grup 2 Kopassus. Pada medio Oktober 2024, Wahyo ditunjuk sebagai ajudan Presiden Prabowo Subianto. Saat itu, ia berpangkat Kolonel Infanteri.
Pada Januari 2026, Wahyo pecah bintang dengan pangkat Brigadir Jenderal. Ia menjabat sebagai Kepala Kelompok Staf Ahli Panglima Komando Daerah Militer di Kodam IX Udayana. Per Maret 2026, Wahyo didapuk sebagai Direktur C Bais TNI menggantikan Mirza Patria Jaya. Saat itu, Bais TNI itu tengah terjerat kasus penyiraman air keras aktivis hak asasi manusia, Andrie Yunus.
Tak hanya karier militer, Wahyo juga pernah mengemban jabatan nonmiliter. Pada 2022, ia menjabat sebagai manajer Tim Pencak Silat Indonesia di kejuaraan dunia Malaysia. Pada 2023, ia kembali menjadi manajer Tim Pencak Silat pada ajang SEA Games di Kamboja. Saat itu, ada momen keributan dengan pelatih Tim Pencak Silat Vietnam.
Dikutip dari TikTok denny_wewey, pelatih pencak silat asal Vietnam dilaporkan menantang pelatih Indonesia untuk bertarung dalam insiden tersebut. Wahyo sempat pasang badan dalam kejadian tersebut. Namun, situasi bisa dipadamkan setelah petugas keamanan melerai.


















































