BI Soroti Komoditas Ekspor Batu Bara dan CPO dari Bengkulu

6 hours ago 16

BANK Indonesia (BI) menyoroti kinerja dua komoditas unggulan Provinsi Bengkulu, yakni batu bara dan Crude Palm Oil (CPO) di tengah tantangan besar akibat tekanan geopolitik global. Meski mencatatkan angka produksi komoditas yang besar, Bengkulu dinilai masih punya sangat bergantung pada pasar utama dan minimnya hilirisasi. 

"Bengkulu merupakan salah satu penyumbang produksi dan ekspor batu bara tertinggi di wilayah Sumatera. Namun, ketergantungan pada pasar tradisional seperti India, Tiongkok, dan negara-negara ASEAN menjadi titik lemah bagi stabilitas ekonomi daerah," ujar Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Bengkulu, Muhammad Irfan Octama, pada Sarasehan Perekonomian Bengkulu, pada Kamis, 9 April 2026. 

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Sebagai contoh, data menunjukkan produksi batu bara Bengkulu pada tahun 2025 berada di kisaran 10-15 juta ton. Dengan begitu, Bengkulu tercatat sebagai pemain utama di Sumatera setelah Sumatera Selatan dengan produksi sebesar 120 juta ton dan Jambi 20-30 juta ton.

Namun, data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menunjukkan rerata ekspor batu bara Bengkulu hanya sebanyak 2,41 juta ton atau sebanyak 4,41 persen dari total produksinya. "Kondisi serupa, juga terjadi pada sektor kelapa sawit. Bengkulu memiliki potensi produksi yang sangat memadai namun belum optimal dalam rantai pasok ekspor," kata Irfan. 

Sepanjang tahun 2025 lalu, produksi CPO sebanyak 1,38 juta ton (5,27 persen pangsa Sumatera). Produksi TBS sebanyak 4,49 juta ton (4 persen pangsa Sumatera), sementara luas lahan sebesar 0,42 juta hektare.

Meski volume produksinya mencapai jutaan ton, kata Irfan, kontribusi ekspor CPO Bengkulu pada periode Januari-Februari 2026 masih sangat kecil dibandingkan provinsi tetangga. Bengkulu berada di posisi bawah dengan volume kumulatif yang jauh tertinggal dari Riau (2,16 juta ton) dan Sumatera Utara (0,83 juta ton). 

"Produksi CPO Bengkulu yang relatif memadai belum sepenuhnya diikuti oleh kinerja ekspor," ungkap Irfan. Hal ini mencerminkan masih terbukanya ruang besar untuk penguatan hilirisasi dan integrasi rantai pasok. 

Menanggapi situasi tersebut, Bank Indonesia merekomendasikan beberapa langkah strategis untuk menjaga keberlangsungan ekonomi Bengkulu. Pertama, peningkatan konektivitas distribusi dan pengembangan industri pengolahan (hilirisasi) di daerah guna meningkatkan nilai tambah produk.

Kedua, efisiensi logistik dengan cara restrukturisasi sektor logistik diperlukan untuk menekan biaya tinggi yang selama ini menjadi hambatan bagi eksportir lokal. Ketiga, penguatan Domestic Market Obligation (DMO) dengan cara memastikan keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan energi dalam negeri (PLTU) dengan target produksi tahunan.

Keempat, diversifikasi pasar dengan mengurangi ketergantungan pada India dan Cina dengan mulai menyasar pasar nontradisional untuk mengantisipasi volatilitas geopolitik. "Tanpa percepatan industri pengolahan di tingkat lokal, Bengkulu akan terus kehilangan potensi nilai tambah dari komoditas mentahnya," tutur Irfan. 

Hal yang sama juga disampaikan Ekonom dari Universitas Bengkulu, Yefriza, jika perekenomian Bengkulu masih ketergantungan Sektor Primer dan Minim Hilirisasi. Menurut dia, struktur ekonomi Bengkulu dinilai belum mengalami transformasi struktural yang signifikan.

Saat ini, sektor pertanian masih mendominasi dengan kontribusi 25-26 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Walaupun dominasi sektor pertanian memperkuat ketahanan pangan daerah, Yefriza menekankan pentingnya hilirisasi.  

"Investasi di Bengkulu masih terkonsentrasi pada sektor primer. Perlu ada upaya hilirisasi berbasis sumber daya alam agar kebutuhan barang daerah bisa dipenuhi sendiri, bukan bergantung pada pasokan luar," kata Irfan.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |