KASUS dugaan kekerasan terhadap anak di daycare atau tempat penitipan anak Little Aresha, di Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta mengungkap sejumlah fakta. Setelah polisi menggerebek dan menyegel lokasi itu sejak Jumat, 24 April 2026, sejumlah orang tua mulai bersuara. Terutama mengenai pola pengasuhan daycare yang sangat tertutup dan manipulatif.
Salah satu orang tua murid, Aldewa, mengungkap sejumlah hal janggal di daycare tersebut. "Ternyata tidak ada CCTV di daycare itu," kata Aldewa ditemui pada Sabtu, 25 April 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Pria yang menitipkan anaknya di daycare itu sejak setahun terakhir mengungkap, pernah mendapati salah satu kaki anaknya dalam kondisi lebam saat dijemput pekan lalu. Namun, anaknya tidak bisa bercerita dan hanya diam, lalu menangis. "Saya kira waktu itu anak saya jatuh saat main bersama temannya, dari para pengasuhnya juga tidak cerita," kata dia.
Aldewa pun membeberkan alasannya memilih lembaga tersebut. Ia tergiur ulasan daycare itu di Google yang sangat positif. Ditambah lagi, biayanya juga tergolong murah dibanding daycare lain, hanya dipatok Rp 1 juta per bulan, itu sudah termasuk makan dan lainnya.
Menurutnya, dibanding daycare sejenis yang umumnya mematok biaya di atas Rp 1,5 juta, biaya di Little Aresha cukup murah. Terlebih jika disandingkan dengan standar Upah Minimum Kota atau UMK Yogyakarta.
Selain faktor biaya, ia merasa sangat yakin setelah sikap sopan dan tutur kata yang lemah lembut pihak yayasan saat masa pendaftaran. Namun, kejanggalan mulai terasa sekitar tiga bulan terakhir. Anaknya yang disebut selalu lahap makan dan ceria ternyata berat badannya tidak menunjukkan peningkatan sama sekali.
"Setiap hari kami hanya dapat laporan harian yang menyebut kondisi anak normal, selalu menghabiskan makanan, dan beristirahat baik," kata dia.
Keanehan lain berupa perubahan perilaku anak perempuannya yang selalu menunjukkan ketakutan luar biasa dan menangis histeris setiap kali akan diantar ke tempat penitipan anak tersebut. "Anak saya sampai memohon agar tidak masuk daycare lagi," ucap Aldewa.
Sementara, orang tua anak lain, Ayu mengaku sudah pernah menitipkan anaknya sejak usia lima bulan di daycare tersebut. Ia mengaku geram meski anaknya kini sudah beranjak besar. Ayu bercerita, dulu ketika mengantar anaknya, para orang tua dilarang masuk ke dalam ruangan daycare. Termasuk juga mengecek kamar daycare.
"Jadi lampu di dalam rumah itu semua dimatikan. Pernah suatu kali saya jemput, anak saya tidur di kamar tapi pakai kipas angin yang besar banget dan disemprotkan langsung ke arah anak saya, padahal katanya ada fasilitas AC," ungkap dia.
Ayu saat itu sudah sempat merasa janggal karena pengelola bersikukuh melarang orang tua memantau langsung kondisi fasilitas maupun ruangan tempat anak-anak beristirahat. Pengelola yang tertutup ini juga diduga sengaja dilakukan untuk menyembunyikan praktik penelantaran anak.
Ia pun mengenang respon pihak pengelola terhadap tangisan histeris anaknya setiap kali tiba di lokasi. Alih-alih melakukan pendekatan yang lembut, pengasuh justru seolah mengambil paksa anak tanpa perasaan. Pengasuh juga memberikan jaminan palsu agar orang tua segera meninggalkan lokasi.
"Setiap kami datang itu anak sudah langsung diambil paksa begitu saja, bukan dengan hati. Jawabannya selalu sama, orang tua tidak boleh masuk, 'Nanti paling nangisnya sebentar'," ujarnya menirukan.
Kala itu, Ayu merasa sebagai ibu sebenarnya tidak terima. Namun, pihak pengelola terus menghalangi para orang tua untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi di dalam. Selama delapan bulan menitipkan anaknya di daycare itu, Ayu memutuskan untuk berhenti.
Namun, yang membuatnya sedih, setelah keluar dari daycare tersebut, anaknya didiagnosis menderita radang paru-paru oleh dokter. Ia pun sempat berpikir bahwa penyakit itu akibat paparan angin dari kipas besar yang diarahkan langsung ke tubuh anaknya dalam durasi yang lama saat dititipkan di daycare tersebut.
Seorang warga yang tinggal di sekitar lokasi daycare, Lia, menuturkan operasional Little Aresha memang sangat tertutup dari lingkungan sosial. Selama hampir satu tahun beroperasi di gedung baru, warga hanya bisa mendengar suara tangisan anak-anak tanpa pernah melihat aktivitas di dalam karena pintu dan jendela yang selalu tertutup rapat.
"Dari yayasan sangat pasif, warga sekitar juga kesulitan untuk memberikan pengawasan meski sering merasa curiga dengan banyaknya jumlah anak yang dititipkan di sana," kata dia.
Hingga saat ini, pihak kepolisian telah menetapkan 13 tersangka yang terdiri dari kepala yayasan, kepala sekolah, hingga sebelas pengasuh setelah mendapati bukti kekerasan terhadap 53 anak dari total 103 anak yang terdaftar. Sejauh ini polisi menemukan dugaan tindakan kekerasan terhadap anak berupa kaki yang diikat serta kondisi kamar sempit yang dipaksakan menampung puluhan anak.















































