Chef Berbagai Daerah Adu Kreasi Tumpeng di Yogyakarta

10 hours ago 19

PERHELATAN para pencinta kuliner Jogja Food & Beverage Expo 2026 kembali digelar di Jogja Expo Center (JEC) Yogyakarta 8- 11 April 2026. Salah satu magnet utama ajang ini tak lain kompetisi kuliner Bakat Boga 2026 yang berhasil menjaring antusiasme para chef berbagai daerah Indonesia.

Ketua panitia ajang kompetisi kuliner sekaligus President Association of Culinary Professionals Indonesia (ACP), Rafael Triloko Basanto mengungkapkan tahun ini sebanyak 98  chef restoran dan hotel turut berpartisipasi dalam ajang tersebut. Para koki yang bertanding tidak hanya datang dari Yogyakarta. Namun berbagai daerah seperti Kediri, Jakarta hingga Surabaya.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

"Peserta tahun ini meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya diikuti sekitar 50 peserta," kata Rafael yang juga juri dalam gelaran itu, Rabu.

Fokus utama dalam kompetisi ini mengangkat derajat pangan lokal ke level global melalui modifikasi penyajian tanpa menghilangkan akar tradisinya.  Beberapa kategori yang dipertandingkan antara lain nasi goreng challenge, kompetisi mie godog, hingga kreasi jajanan pasar tradisional dengan presentasi modern. 

Khusus untuk jajanan pasar, Rafael ingin mendorong agar penganan seperti kue mandi, bubur sumsum, dan klepon yang biasanya hanya ditemukan di pasar, dapat naik kelas menjadi menu dessert di hotel berbintang dengan tampilan yang lebih elegan bagi generasi muda.

Baca juga: Mengapa Ribuan Restoran di Singapura Tutup

Tumpeng nusantara paling bergengsi

Namun, dari sekian banyak tantangan, pembuatan tumpeng nusantara menjadi salah satu kategori yang paling bergengsi dengan kehadiran ratusan chef yang terlibat dalam tim. Dalam kategori ini, tumpeng yang ditampilkan mewakili berbagai daerah mulai dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, hingga Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi. Khusus untuk kategori tumpeng Yogyakarta, panitia mewajibkan adanya kondimen khas seperti opor ayam, tempe bacem, dan tahu bacem sebagai pelengkap wajib.

Adapun filosofi di balik pemilihan menu tradisional tersebut, Rafael menegaskan pentingnya menjaga warisan budaya kuliner agar tidak terlupakan oleh zaman. Ia berharap melalui kompetisi ini, makanan yang identik dengan kaki lima atau acara seremonial kampung dapat bersanding dengan menu internasional di restoran mewah.

"Kami tidak mau makanan-makanan ciri khas yang memang menjadi tradisi itu dilupakan dan ditinggalkan. Kita sebagai generasi penerus ingin terus menjaga bahwa budaya kuliner yang sudah ada terus diperkenalkan, dimodifikasi, dan diimplementasikan supaya generasi yang ada sekarang tetap bisa masuk," ujar Rafael.

Sajian kreasi tumpeng di ajang kompetisi memasak kuliner tradisional Jogja Food & Beverage Expo 2026 di Jogja Expo Center (JEC) 8 April 2026. Tempo/Pribadi Wicaksono

Salah satu peserta, Chef Habib Setya Wibowo yang berasal dari Hotel Tentrem Yogyakarta mengungkap, ia ingin menyajikan cita rasa nasi tumpeng khas Yogya yang paling orisinal. "Orisinalitas itu dari keaslian rasa dan deretan kondimen tradisional yang lengkap, mulai dari empal gepuk, udang pete balado, tempe dan tahu bacem, hingga telur dadar iris srundeng," kata dia.

Salah satu elemen yang menjadi sorotan dalam hidangannya adalah penggunaan opor ayam khas Jawa Tengah yang berwarna putih pekat untuk memperkuat karakter otentik nasi tumpeng garapannya.

Meski panitia memberikan waktu yang cukup longgar yakni selama 120 menit atau dua jam, jalannya perlombaan tidak sepenuhnya mulus. Sempat ada kendala teknis yang tidak terduga di area kompetisi ketika terjadi gangguan aliran listrik yang sempat menghambat proses memasak.

"Tantangan terberat mungkin tadi itu karena listrik ngetrap-ngetrip (hidup-mati) ya, karena kita masak nasi kuningnya kan tadi pakai rice cooker jadi agak terhambat di situ," kata dia. "Tapi alhamdulillah tidak lama dan sudah normal lagi, jadi sudah bisa kekejar masaknya."

Mendorong pertumbuhan industri makanan dan minuman

Adapun penyelenggara Jogja Food & Beverage Expo 2026 Daud D. Salim mengatakan, ajang ini menjadi langkah strategis dalam mendorong pertumbuhan industri makanan dan minuman di Yogyakarta. “Tahun ini, pameran menghadirkan lebih dari 110 peserta, termasuk 30 UMKM terkurasi, dengan target 15.000 pengunjung," kata Daud yang juga 
CEO Krista Exhibitions Group itu.

Para peserta menampilkan produk mulai dari kuliner Nusantara, minuman inovatif, teh premium, teknologi pengemasan, hingga mesin pengolahan pangan. "Dari ajang ini semoga publik juga wisatawan mengetahui etalase kekayaan kuliner nasional sekaligus ruang bagi pelaku usaha untuk berinovasi dan beradaptasi," kata dia.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |