Dokter Imbau Anak Muda Jangan Gampang Percaya Konten Kesehatan dari Medsos

6 hours ago 11

Konten kesehatan dari media sosial (ilustrasi). Masyarakat diimbau untuk tidak sepenuhnya mempercayai konten-konten kesehatan di media sosial. Terutama jika informasi tersebut datang dari kreator yang bukan berasal dari kalangan tenaga kesehatan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dokter sekaligus pendiri Health Collaborative Center (HCC), Dr dr Ray Wagiu Basrowi, meminta masyarakat untuk tidak sepenuhnya mempercayai konten-konten kesehatan di media sosial. Terutama jika informasi tersebut datang dari kreator yang bukan berasal dari kalangan tenaga kesehatan.

Menurut dr Ray, saat ini banyak influencer yang menyampaikan pesan kesehatan dengan tujuan utama memasarkan produk. Akibatnya, sering kali informasi yang disampaikan tidak komprehensif karena digunakan sebagai sarana endorsement.

"Influencer itu banyak yang nge-drive pesan kesehatan hanya untuk kedok marketing. Banyak yang ternyata konten itu ternyata endorsement obat, produk kesehatan. Nah ini yang bahaya," kata dr Ray saat diwawancara Republika di Jakarta, Kamis (25/6/2026).

Karena itu, dr Ray mengingatkan masyarakat untuk tidak menjadikan konten di media sosial sebagai dasar diagnosis atau pengobatan pribadi. Masyarakat harus mampu membedakan informasi yang akurat dan bisa dipercaya, serta informasi yang cenderung menyesatkan.

"Itu sebabnya masyarakat, khususnya anak muda, harus diberikan semacam modal untuk melakukan validasi. Informasi mana yang benar, informasi yang mana yang bisa dipercaya, informasi mana yang sekadar nice to know untuk memperkaya literasi kesehatan kita," kata dia.

Dokter Ray tak memungkiri, media sosial (medsos) kini merupakan salah satu medium efektif untuk meningkatkan literasi kesehatan masyarakat. Apalagi platform seperti Instagram, Facebook, hingga pesan berantai di WhatsApp mudah diakses dan dibagikan kepada orang terdekat. Namun sayangnya, kemudahan ini tidak selalu diikuti dengan akurasi informasi.

Berdasarkan penelitian dari Pew Research Center, sekitar 47 persen pengguna menyatakan informasi kesehatan yang mereka temukan di media sosial kurang akurat atau bahkan tidak akurat sama sekali. Penelitian ini juga menemukan bahwa banyak orang, terutama mereka yang berusia di bawah 50 tahun, memperoleh informasi kesehatan dari influencer kesehatan dan kebugaran. Padahal, sebagian besar influencer tersebut bukan tenaga medis profesional.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |