Kisah Efendi, Pedagang Garam Keliling yang Terbantu JKN Saat Lawan Diabetes

7 hours ago 10

INFO TEMPO - Ach Efendi (59 tahun) menyusuri jalanan Kota Pasuruan dengan membawa garam dagangannya dari satu toko ke toko lain setiap hari. Dari pekerjaan sederhana itu, warga Panggungrejo, Kota Pasuruan ini berupaya memenuhi kebutuhan keluarganya, meski penghasilan yang diperoleh tidak selalu menentu.

Di balik kegigihannya mencari nafkah, Efendi kini harus berdamai dengan kondisi kesehatannya. Ia didiagnosis diabetes melitus dan harus menjalani kontrol kesehatan secara rutin setiap bulan di RSUD dr. R. Soedarsono.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Awalnya, Efendi mengetahui kadar gula darahnya tinggi saat mengikuti pemeriksaan kesehatan gratis di desanya. Hasil pemeriksaan menunjukkan gula darahnya mencapai 300. Namun, karena merasa tubuhnya masih kuat bekerja, ia sempat mengabaikan kondisi tersebut dan tetap beraktivitas seperti biasa.

“Waktu itu saya merasa masih sehat dan masih kuat bekerja seperti biasa, jadi saya menganggap hasil pemeriksaan itu tidak terlalu serius. Karena itu, saya belum memeriksakan diri lebih lanjut,” ujar Efendi saat ditemui di RSUD dr. R. Soedarsono, Senin pada 25 Mei silam.

Seiring waktu, kondisi kesehatan Efendi mulai menurun. Kakinya mengalami pembengkakan dan infeksi yang semakin parah. Keluarga yang melihat kondisinya memburuk segera membawa Efendi ke rumah sakit agar mendapatkan penanganan medis.

“Waktu kaki saya infeksi, saya sempat takut karena katanya bisa sampai amputasi. Alhamdulillah keluarga langsung membawa saya ke rumah sakit,” kata Efendi.

Setelah menjalani pemeriksaan, dokter menyarankan tindakan operasi agar infeksi di kakinya tidak semakin parah. Mendengar dirinya harus menjalani operasi untuk pertama kalinya, Efendi mengaku diliputi rasa takut dan cemas.

“Saya sempat takut saat disuruh operasi karena sebelumnya belum pernah menjalani operasi sama sekali. Jadi saya benar-benar khawatir,” ujarnya. 

Rasa khawatir itu perlahan berkurang setelah dokter dan perawat memberikan penjelasan dengan sabar. Efendi akhirnya memahami bahwa tindakan medis tersebut perlu dilakukan agar infeksi tidak berkembang dan menimbulkan risiko yang lebih berat.

“Dokter dan perawat menjelaskan pelan-pelan sampai saya merasa lebih tenang. Saya akhirnya yakin untuk menjalani operasi,” ucapnya.

Di tengah kondisi yang penuh kekhawatiran, Efendi bersyukur telah terdaftar sebagai peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) segmen Penerima Bantuan Iuran (PBI) dengan iuran yang ditanggung pemerintah. Perlindungan tersebut membuatnya tetap dapat menjalani pengobatan tanpa harus dibebani biaya yang tidak mampu ia tanggung sendiri.

“Kalau tidak ada BPJS Kesehatan, saya bingung harus mencari biaya pengobatan dari mana. Penghasilan saya sehari-hari juga tidak cukup,” ucap Efendi.

Sebagai pedagang garam keliling, Efendi memahami betul sulitnya mencukupi kebutuhan ketika pendapatan tidak menentu. Karena itu, biaya operasi dan pengobatan sempat menjadi kekhawatiran terbesar baginya.

“Hasil jualan garam itu tidak menentu, kadang ramai kadang sepi. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sering pas-pasan, jadi kalau harus membayar biaya operasi dan pengobatan sendiri, saya tidak mampu,” tuturnya. 

Efendi juga sempat mendengar cerita kurang baik tentang pelayanan bagi peserta JKN. Namun, pengalaman yang ia rasakan justru berbeda. Selama menjalani perawatan, ia merasa dilayani dengan baik, diperhatikan, dan tidak dibedakan dengan pasien lainnya.

“Selama menjalani perawatan, saya dilayani dengan sangat baik dan diperhatikan. Dokternya cepat tanggap, perawatnya juga ramah sehingga saya merasa lebih tenang,” ujarnya.

Kini, di tengah rutinitasnya berjualan garam dan menjalani kontrol diabetes setiap bulan, Efendi berharap Program JKN terus hadir membantu masyarakat kecil mendapatkan akses layanan kesehatan. Baginya, ketenangan saat sakit bukan hanya tentang harapan untuk sembuh, tetapi juga terbebas dari kekhawatiran akan biaya pengobatan.

“Semoga BPJS Kesehatan dan pemerintah terus membantu masyarakat kecil seperti kami. Karena masih banyak orang yang ingin sembuh tetapi terkendala biaya,” ujar Efendi. (*)

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |