PRESIDEN Prabowo Subianto mencopot Dadan Hindayana dari posisi Kepala Badan Gizi Nasional pada Selasa, 2 Juni 2026. Posisi itu kini diganti oleh Nanik Sudaryati Deyang, yang sebelumnya mendampingi Dadan sebagai Wakil Kepala BGN.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan pencopotan Dadan dilakukan setelah Presiden memantau kinerjanya dalam melaksanakan proyek makan bergizi gratis selama kurang lebih satu setengah tahun. "Maka, pada hari ini, Selasa tanggal 2 Juni tahun 2026, Bapak Presiden mengambil keputusan untuk melakukan pergantian pimpinan BGN," ucap Prasetyo di Istana Kepresidenan Jakarta.
Selama menjabat, Dadan kerap disorot akibat kebijakannya yang kontroversi maupun pernyataannya yang dianggap keliru. Berbagai kasus juga terjadi sejak dia menjabat mulai dari keracuanan massal hingga anggaran boros pengadaan BGN.
Berikut sejumlah kontroversi Dadan selama menjabat sebagai Kepala BGN:
Minum Susu Dua Liter Per Hari
Pada masa-masa awal program MBG berjalan, Dadan dikritik karena pernyataannya soal tentang minum susu dua liter per hari. Pernyataan ini disampaikan Dadan saat berkunjung ke Pondok Pesantren Syaichona Muhammad Cholil di Bangkalan, Jawa Timur, 26 Mei 2025.
Dalam kunjungan itu, Dadan bercerita soal kedua putranya yang wajib minum susu sebanyak dua liter per hari. Dadan mengaitkan hal ini dengan tinggi badan anak-anaknya yang kini mencapai 185 cm dan 181 cm.
Bagi Dadan, susu adalah sumber kalsium yang penting untuk pertumbuhan, dan kebiasaan minum susu dalam jumlah banyak adalah kebiasaan keluarganya. Meski setelah banjir kritik, Dadan menegaskan bahwa cerita pengalaman pribadinya ini tidak dijadikan landasan kebijakan dalam program MBG."Pasti semua salah paham," ujarnya saat dihubungi pada Kamis, 29 Mei 2025.
Usulkan Serangga hingga Ulat Sagu Jadi Protein dalam MBG
Pernyataan Dadan yang tak kalah kontroversial ialah mengusulkan serangga dan ulat sagu sebagai alternatif sumber protein dalam menu MBG. Ketika itu, Dadan mengatakan sumber protein dalam MBG tidak harus ayam, telur, atau daging. Ia mencontohkan daerah tertentu yang terbiasa mengonsumsi belalang, ulat sagu, atau serangga lain sebagai sumber protein.
"Mungkin saja ada satu daerah suka makan serangga (seperti) belalang, ulat sagu, bisa jadi bagian protein," kata Dadan dalam pemaparannya di Rapimnas Perempuan Indonesia Raya, Sabtu, 25 Januari 2025.
Tingginya Kasus Keracunan
Di bawah kepemimpinan Dadan, program MBG masih terus menyebabkan kasus keracunan kendati telah berjalan lebih dari setahun. Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 446 kasus keracunan terjadi dengan total korban 37.693 orang hingga awal Mei 2026. Kasus keracunan terjadi di 220 kabupaten atau kota yang tersebar di 36 provinsi.
Rentetan kasus keracunan pada MBG mencapai puncaknya pada September 2025 lalu. Ketika itu sebanyak 657 pelajar di Jawa Barat keracunan usai menyantap menu MBG, yang kemudian disusul oleh beberapa daerah lain, seperti Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Selatan, serta sejumlah daerah lain pada waktu yang berdekatan.
Pengadaan 20 Ribu Unit Motor hingga Semir Sepatu
Pengadaan barang dan jasa di Badan Gizi Nasional beberapa kali dinilai sebagai pemborosan dan juga janggal. Bau dugaan korupsi tercium lantaran barang yang dibeli BGN di atas harga pasar, perusahaan penyedia pernah tersangkut kasus rasuah, dan lainnya.
Tahun lalu, misalnya, BGN menggelontorkan anggaran Rp 113,9 miliar untuk menyewa jasa penyelenggaraan acara (EO), membeli 21 ribu sepeda motor listrik dengan harga Rp 42 juta per unit, lalu pengadaan barang lainnya seperti handuk mandi hingga sikat semir sepatu dengan total anggaran miliaran rupiah.
Adapun jasa EO, kata Dadan, untuk menangani kegiatan berskala besar yang tak bisa ditangani internal BGN. Sedangkan pembelian handuk dan sikat semir bagian dari kebutuhan pendidikan dan pelatihan Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI).
Rencana Bagikan MBG untuk Anak Sekolah Indonesia-Jeddah
Dadan mengungkapkan rencana untuk ekspansi program MBG bagi pelajar Indonesia di Jeddah, Arab Saudi. Dia mengatakan, ide itu muncul dari kunjungannya ke Sekolah Indonesia Jeddah saat perjalanan pulang ke Tanah Air usai menunaikan ibadah haji 2026.
Dadan mengatakan dalam pertemuan tersebut, para siswa dan guru menyampaikan ketertarikan mereka terhadap program MBG yang tengah dijalankan pemerintah di Indonesia. “Mereka mengetahui adanya program MBG dan juga menginginkan program itu. Saya sampaikan, saya akan lapor Presiden terlebih dahulu,” ujar Dadan saat dihubungi pada Selasa, 2 Juni 2026.
Wacana ini sontak dibanjiri kritik lantaran pelaksanaan MBG di dalam negeri masih dipenuhi sejumlah persoalan kualitas dan keamanan pangan, beban biaya MBG, hingga sejumlah masalah lainnya.
















































