Memahami Penghuni Jakarta Sebenarnya

3 hours ago 11

Sejarawan JJ Rizal menjelaskan tentang siapa penghuni Jakarta. Ada golongan tracker dan believer.

6 Juni 2026 | 21.51 WIB

 Jati Diri Jakarta dalam Arus Budaya di sela-sela Jakarta Future Festival di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, pada Jumat malam, 5 Juni 2026. Tempo/Savero Aristia Wienanto

Perbesar

Acara Urban Talks: Jati Diri Jakarta dalam Arus Budaya di sela-sela Jakarta Future Festival di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, pada Jumat malam, 5 Juni 2026. Tempo/Savero Aristia Wienanto

MEMAHAMI identitas warga Jakarta tak semudah yang dibayangkan. Sejarawan JJ Rizal menuturkan bahwa ada dua macam orang Jakarta berdasarkan pendekatan penulisan sejarah, yakni tracker dan believer.

"Trackers adalah mereka yang enggak pernah punya ikatan sama Jakarta. Believers adalah orang yang merasa 'ya ini kampung gue'," kata Rizal dalam talkshow Urban Talks: Jati Diri Jakarta dalam Arus Budaya di sela-sela Jakarta Future Festival di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, pada Jumat malam, 5 Juni 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Bagi orang-orang yang tergolong believer, Jakarta merupakan rumah mereka. Rizal menjelaskan bahwa keyakinan ini sejatinya bukan hanya milik orang Betawi, melainkan suku-suku lain yang telah lama berbaur di Jakarta. "Believers punya ikatan dan memproduksi kebudayaan," tutur Rizal. "Trackers enggak memproduksi kebudayaan. Mereka enggak peduli kok pada kota ini, enggak punya ikatan kok."

Jakarta Bukan Sebagai Kota

Menurut Rizal, ada semacam 'kecelakaan sejarah'. Ia menjelaskan bahwa Jakarta awalnya tak direncanakan sebagai kota, melainkan markas dagang Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC yang kemudian diberi nama Batavia. Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen menjadikan kota ini sebagai ladang cuan untuk memenuhi kantong meneer dan madame di Belanda. 

Kolonialisme Belanda kemudian membuat Batavia sebagai perkotaan, lengkap dengan perkampungannya. Waktu itu, terjadi politik segregasi, di mana ada pemisahan tempat tinggal berdasarkan ras dan suku di Batavia. 

"Ada kampung Jawa, kampung Melayu, kampung Ambon, dan segala macem. Ada kapiten-kapitennya juga. VOC malas, misalnya, mengurus orang Jawa secara langsung. Jadi mereka lebih memilih untuk cari aja satu orang saja," ujar pendiri penerbit Komunitas Bambu tersebut. 

Dalam perkembangannya, Rizal melanjutkan, terjadi perkawinan campuran. Dari situ, terdapat pula percampuran kebudayaan dari berbagai suku. Perlahan, tak ada lagi orang yang benar-benar memiliki identitas suku tunggal. Pada 1930, pemerintah Belanda akhirnya mengakui ada kelompok baru yang disebut sebagai Batavian. 

Tempat Meleburnya Banyak Kebudayaan

Sementara itu, Direktur Utama Tempo Media, Arif Zulkifli, menjelaskan bahwa sejatinya Jakarta menjadi tempat bersatunya banyak unsur. Menurut dia, Jakarta adalah tempat meleburnya berbagai kebudayaan. 

"Jika berbicara tentang Jakarta, kita enggak bisa lagi cuma bicara soal betawi. Kita bicara tentang melting pot. Jakarta adalah sebuah melting pot," ucap Arif dalam kesempatan yang sama. 

Jakarta, kata Arif, merupakan kota yang berinteraksi dengan banyak hal. Jika berbicara tentang era VOC, misalnya, Jakarta berinteraksi dengan sangat intens lewat perdagangan dan macam-macam kebudayaan. "Apalagi sekarang di era internet ini, enggak ada batas lagi menurut saya," katanya. 

Jakarta Future Festival 

Jakarta Future Festival (JFF) menjadi ruang temu bagi berbagai ide/gagasan, dan demografi warga. Dari anak-anak, remaja, hingga usia lanjut diundang untuk hadir menyuarakan gagasan, merayakan kolaborasi, hingga menavigasi masa depan kota ini. Mengusung tema Navigating Resilience, yang bertujuan untuk mengajak masyarakat melihat ketangguhan ibu kota sebagai kemampuan untuk beradaptasi, berkolaborasi, dan terus berkembang di tengah perubahan.

JFF digelar mulai Jumat, 5 Juni hingga Minggu, 7 Juni 2026. Setidaknya ada 500 kolaborator yang ikut bekerja sama dalam event tahunan ini, di antaranya Kementerian Ekonomi Kreatif, Jalindonesia, dan Urun Daya Kota Foundation. Ada pula , kolaborator seperti Georgetown University, RUJAK CUS, Thinkpolicy, IDEAfest, serta ARCH:ID. Seluruh rangkaian kegiatan terbuka untuk umum dan dapat diikuti secara gratis melalui pendaftaran di jakartafuturefestival.com.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |