Pelemahan Rupiah Picu Lonjakan Harga Pupuk Nonsubsidi

2 hours ago 12

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perkumpulan Petani Pangan Nasional (P3NA) menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai memicu lonjakan harga pupuk nonsubsidi. Kondisi tersebut membuat biaya produksi pertanian semakin berat di tengah meningkatnya kebutuhan pupuk untuk menjaga produktivitas tanaman pangan.

Ketua Umum P3NA Jumantoro mengatakan keterbatasan kuota pupuk subsidi membuat petani tetap bergantung pada pupuk nonsubsidi. Akibatnya, petani ikut terdampak ketika harga pupuk naik seiring mahalnya bahan baku impor akibat pelemahan rupiah.

“Padahal, selisih harga pupuk subsidi dengan nonsubsidi berkali-kali lipat. Selisih harga itulah yang memberatkan petani,” kata Jumantoro dalam keterangan tertulis, Senin (18/5/2026).

Ia menjelaskan kebutuhan pupuk urea dan phonska untuk tanaman pangan rata-rata mencapai 400-600 kilogram per hektare. Di sisi lain, alokasi pupuk subsidi hanya sekitar 200-300 kilogram per hektare sehingga kekurangannya harus dipenuhi menggunakan pupuk nonsubsidi.

Harga pupuk subsidi masih berada di level Rp 1.800 per kilogram untuk urea dan Rp 1.840 per kilogram untuk phonska. Namun, harga pupuk nonsubsidi melonjak tajam. Harga Nitrea, salah satu merek pupuk urea nonsubsidi, mencapai Rp 950 ribu per kemasan 50 kilogram atau lebih dari 10 kali lipat dibanding pupuk subsidi.

“Harga pupuk nonsubsidi berpotensi naik lagi jika rupiah terus melemah terhadap dolar AS. Hal itu karena sebagian bahan baku pupuk masih berasal dari impor,” ujar Jumantoro.

Harga phonska nonsubsidi juga mencapai Rp 625 ribu per kemasan 50 kilogram atau sekitar tujuh kali lebih mahal dibanding pupuk subsidi. Di sejumlah daerah, harga urea nonsubsidi bahkan telah menembus Rp 1,2 juta per kemasan 50 kilogram. Adapun harga phonska berada di kisaran Rp 800 ribu hingga Rp 1 juta per kemasan 50 kilogram.

Nilai tukar rupiah pada Senin (18/5/2026) tercatat berada di level Rp 17.673 per dolar AS. Pelemahan kurs tersebut mulai memengaruhi harga sarana produksi pertanian, terutama pupuk yang masih menggunakan bahan baku impor.

Jumantoro menuturkan kebutuhan petani tidak hanya terbatas pada pupuk urea dan phonska. Petani juga membutuhkan pupuk organik, ZA atau amonium sulfat, hingga pestisida untuk menjaga produktivitas tanaman.

“Tingginya harga pupuk nonsubsidi sangat memberatkan biaya produksi pertanian karena biaya tenaga kerja, sewa lahan, bahan bakar minyak, dan benih juga naik,” tutur petani asal Kabupaten Jember, Jawa Timur, tersebut.

Menurut dia, jika terdapat kelebihan produksi pupuk nasional, pemerintah sebaiknya memprioritaskan tambahan alokasi pupuk subsidi untuk kebutuhan domestik. Langkah itu dinilai dapat menekan dampak pelemahan rupiah terhadap biaya produksi pertanian.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Madiun Suharno mengatakan sebagian besar petani masih membutuhkan pupuk nonsubsidi untuk meningkatkan produktivitas tanaman padi. Namun, kenaikan harga pupuk membuat kemampuan petani membeli pupuk semakin terbatas.

“Sebagian besar petani masih memerlukan pupuk nonsubsidi untuk meningkatkan produktivitas tanaman padi,” kata Suharno.

Ia menilai harga pupuk yang tetap terjangkau akan membantu menjaga produksi pangan di tengah tekanan biaya produksi. Petani juga berharap pembelian pupuk tidak dibatasi agar kebutuhan musim tanam dapat terpenuhi.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |