Permainan Indah Iran di Tengah Masa Sulit Piala Dunia 2026

11 hours ago 25

TIMNAS Iran menunjukkan daya juang saat menahan Belgia 0-0 dalam pertandingan Grup G Piala Dunia 2026 di Stadion SoFi, Los Angeles, Minggu dinihari, 22 Juni 2026. Meski gagal mencetak gol, pelatih Iran Amir Ghalenoei menilai timnya mampu menampilkan permainan berkualitas di tengah berbagai kendala sepanjang turnamen.

"Kami datang ke Piala Dunia dalam kondisi terburuk. Tetapi kami tetap mendapatkan hasil melawan tim hebat dan pelatih hebat. Kami memainkan pertandingan yang indah," kata Ghalenoei seusai pertandingan seperti dikutip dari ESPN.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Hasil imbang membuat Iran mengoleksi dua poin dari dua laga setelah bermain imbang 2-2 melawan Selandia Baru. Mereka kini masih memiliki peluang untuk lolos ke babak gugur Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam sejarah negara tersebut.

Menurut Ghalenoei, perjalanan Iran menuju turnamen tidak berjalan mulus. Timnya menghadapi persoalan visa saat keluar-masuk Amerika Serikat dan Meksiko, waktu persiapan yang terbatas, serta jadwal perjalanan yang melelahkan.

Iran yang bermarkas di Tijuana, Meksiko, baru tiba di Amerika Serikat pada Sabtu malam waktu setempat, dan bermain keesokan harinya. Lalu para pemain juga harus kembali terbang setelah pertandingan. "Kami memainkan dua pertandingan hebat tanpa kalah. Malam ini kami merayakan, lalu besok fokus pada laga melawan Mesir. Kami bahkan tidak memiliki cukup waktu untuk memulihkan kondisi. Ada perjalanan 16 jam, dua penerbangan, dan pertandingan yang berat,” ujar dia.

Meski menghadapi berbagai keterbatasan, Iran mampu memberikan perlawanan sengit kepada Belgia yang mendominasi penguasaan bola hampir sepanjang laga. Tim asuhan Rudi Garcia terus menekan melalui Romelu Lukaku, Youri Tielemans, dan Kevin De Bruyne, tetapi kesulitan menembus pertahanan rapat Iran.

Peluang terbaik Belgia pada babak pertama hadir melalui tembakan keras Tielemans dari sudut sempit yang berhasil ditepis kiper Alireza Beiranvand. Di sisi lain, Iran justru sempat mengancam lebih serius. Mehdi Taremi bahkan berhasil membobol gawang Thibaut Courtois pada menit ke-25 melalui skema tendangan bebas yang cerdik. Namun gol itu dianulir karena Taremi lebih dulu berada dalam posisi offside.

Iran kembali menciptakan peluang berbahaya pada babak kedua melalui tendangan voli Taremi yang memaksa Courtois melakukan penyelamatan penting. Belgia juga terus mengancam, tetapi Beiranvand tampil luar biasa di bawah mistar.

Kiper berusia 33 tahun itu menjadi sosok kunci yang menjaga gawang Iran tetap perawan. Ia melakukan sejumlah penyelamatan penting, termasuk menggagalkan peluang Maxim De Cuyper dan menghalau bola berbahaya yang melintas di depan gawang setelah umpan Kevin De Bruyne. 

"Dia adalah salah satu kiper terbaik dalam sejarah sepak bola Iran dan hari ini menjalani salah satu penampilan terbaiknya. Konsentrasinya sangat baik dan dia memberi kami satu poin yang sangat berharga," kata Ghalenoei. 

Penampilan Beiranvand membuatnya terpilih sebagai pemain terbaik pertandingan. Seusai laga, ia menegaskan bahwa seluruh tim datang ke Piala Dunia dengan satu tujuan. "Kami datang ke sini untuk membuat rakyat kami bahagia," kata Beiranvand seperti dikutip dari FIFA.

Menurut dia, Belgia menunjukkan kualitas sebagai salah satu tim terbaik dunia, terutama pada babak pertama ketika tekanan terus mengalir ke pertahanan Iran. "Pertandingannya sangat berat. Belgia adalah salah satu tim terbaik di dunia. Mereka memberikan tekanan luar biasa kepada kami, terutama pada babak pertama," ujar dia.

Situasi berubah pada menit ke-66 ketika Belgia kehilangan Nathan Ngoy akibat kartu merah setelah menjatuhkan Taremi yang lolos ke depan gawang. Namun, Iran gagal memanfaatkan keunggulan jumlah pemain untuk mencetak gol kemenangan.

Meski demikian, Ghalenoei tetap puas dengan performa timnya. Ia bahkan menilai kedua tim sama-sama layak meraih kemenangan. "Saya pikir ini pertandingan yang sangat menarik. Kedua tim pantas menang dan sama-sama bisa meraih tiga poin," kata dia. "Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh pemain, terutama Ali Beiranvand."

Pemain sayap Alireza Jahanbakhsh yang mencatat penampilan ke-100 bersama tim nasional juga menilai kesulitan yang dihadapi Iran justru memperkuat solidaritas skuad. "Dalam budaya kami, ketika menghadapi situasi sulit, kami justru tampil lebih baik. Hal itu membuat kami semakin bersatu. Hari ini kami menunjukkan karakter yang luar biasa," ujar Jahanbakhsh. 

Iran kini akan menghadapi Mesir pada laga terakhir Grup G di Seattle, Jumat mendatang. Dengan dua poin dari dua pertandingan, Tim Melli masih menjaga asa untuk mencetak sejarah dengan lolos ke fase gugur Piala Dunia untuk pertama kalinya.  

Lini Depan Belgia Tumpul

Sementara itu, pelatih Belgia Rudi Garcia menyoroti buruknya penyelesaian akhir timnya melawan Iran. Meski mendominasi jalannya pertandingan dengan penguasaan bola hampir 70 persen, Belgia gagal mengonversi sejumlah peluang menjadi gol. "Kami kurang efektif di lini depan," kata Garcia seusai pertandingan seperti dikutip dari laman resmi FIFA.

Ia menilai kartu merah yang diterima Ngoy pada menit ke-66 turut menyulitkan timnya mencari kemenangan. Namun, pelatih asal Spanyol itu tetap melihat hasil ini sebagai bagian dari proses timnya di awal turnamen. "Kami pernah menjalani pertandingan seperti ini sebelumnya dan biasanya bisa mencetak setidaknya tiga gol. Ini bagian dari awal yang lambat di Piala Dunia. Pada beberapa momen kami sedikit ragu-ragu," kata dia.

Adapun penyerang Belgia Romelu Lukaku juga mengungkapkan kekecewaannya atas kegagalan tim memanfaatkan banyak peluang. Menurut dia, Belgia harus segera menemukan penyebab ketajaman lini depan yang belum muncul dalam dua pertandingan pertama. "Kami harus menganalisis apa yang salah karena kami menciptakan begitu banyak peluang tanpa bisa mencetak gol, dan itu sangat mengecewakan," kata Lukaku. 

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |