TEMPO.CO, Jakarta - ASOSIASI E-Commerce Indonesia (idEA) enggan menanggapi kabar tentang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di PT Tokopedia. “Kami tidak bisa mengomentari keputusan internal perusahaan,” kata Ketua Umum idEA Budi Primawan, saat dihubungi, Sabtu, 4 Juli 2026.
Informasi mengenai PHK massal tersebut beredar di media sosial, di mana TikTok melalui entitas usahanya di Indonesia yaitu PT Tokopedia melakukan PHK terhadap 90 persen karyawannya.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Menanggapi hal itu, Budi menyatakan asosiasi tidak memiliki data atau informasi ihwal jumlah karyawan yang terdampak PHK tersebut.
Budi menjelaskan secara umum industri e-commerce memang sedang berubah. Dulu, menurut dia, fokus utama pusat belanja online adalah mengejar pertumbuhan dan memperbesar jumlah pengguna.
Kini, Budi melanjutkan, banyak perusahaan mulai lebih fokus upaya agar bisnisnya sehat, efisien, dan bisa bertahan dalam jangka panjang. “Dalam proses itu, tidak jarang ada penyesuaian organisasi."
Namun, ia optimistis prospek e-commerce Indonesia masih sangat baik. Keyakinan itu didasarkan pada perilaku masyarakat yang semakin terbiasa berbelanja secara digital dan pelaku usaha semakin kreatif memanfaatkan berbagai kanal penjualan, baik marketplace, media sosial, toko fisik, maupun aplikasi layanan pesan.
Terlepas dari peluang yang ada, menurut Budi, persaingan di industri tersebut semakin ketat. Platform harus terus berinvestasi pada teknologi, akal imitasi (AI), logistik, keamanan, dan layanan pelanggan.
Pada saat yang sama, Budi menambahkan, ada berbagai regulasi baru yang perlu diimplementasikan dengan baik. Tantangannya adalah menjaga keseimbangan antara perlindungan konsumen, kepastian berusaha, dan ruang bagi inovasi. “Kalau keseimbangan itu terjaga, kami optimistis ekosistem e-commerce Indonesia akan terus tumbuh secara sehat dan berkelanjutan,” tuturnya.
Ramainya berita PHK besar-besaran di PT Tokopedia juga mendapat tanggapan PT GoTo Gojek Indonesia Tbk (GOTO). Sekretaris Perusahaan GOTO RA Koesoemohadiani menyatakan perusahaan menghormati setiap langkah yang diambil atau akan diambil oleh manajemen PT Tokopedia sehubungan dengan rencana penyesuaian organisasi.
Ia menyatakan pihaknya menghormati setiap langkah yang diambil atau akan diambil oleh manajemen PT Tokopedia sehubungan dengan rencana penyesuaian organisasi.
Koesoemohadiani memastikan bahwa dampak dari langkah tersebut terhadap keuangan maupun nonkeuangan GoTo akan terbatas. "Mengingat sejak Januari 2024, kepemilikan perseroan terdilusi menjadi 24,99 persen. GoTo tidak lagi melakukan konsolidasi atas PT Tokopedia," ujar RA Koesoemohadiani dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, dikutip pada Sabtu, 4 Juli 2026.
Saat ini, GoTo mencatatkan investasinya di PT Tokopedia menggunakan metode ekuitas sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 228 mengenai investasi pada entitas asosiasi dan ventura bersama. Dengan begitu, kemungkinan adanya dampak keuangan terhadap GoTo hanya akan terbatas pada akun bagian laba/rugi bersih pada entitas asosiasi dan ventura bersama.
"Namun demikian, sehubungan dengan hal yang telah dijabarkan di atas, khususnya terkait dengan berita mengenai rencana penyesuaian organisasi oleh PT Tokopedia, berdasarkan estimasi perseroan tidak terdapat dampak material terhadap bagian perseroan atas laba/rugi bersih PT Tokopedia," ujar RA Koesoemohadiani.
Ia juga meyakinkan bahwa tidak akan ada dampak apa pun terhadap biaya layanan e-commerce yang diterima perseroan dari PT Tokopedia. "Terkait dengan aspek non-keuangan, perseroan juga tidak memperkirakan adanya dampak material sehubungan dengan berita yang beredar tersebut."
Karena dampak terhadap GoTo akan terbatas, menurut dia, perseroan tidak berencana mengambil langkah-langkah khusus. "Sampai dengan tanggal surat ini, GoTo tidak memiliki rencana dalam waktu dekat terkait kepemilikannya di PT Tokopedia," katanya.
Pilihan Editor:

















































