KAPTEN timnas Prancis Kylian Mbappe tidak langsung merayakan gol pembukanya dengan selebrasi khas. Sesaat setelah membawa Prancis unggul atas Swedia pada babak 16 besar Piala Dunia 2026 di Meadowlands Stadium, New Jersey, pada Rabu, 1 Juli 2026, penyerang berusia 27 tahun itu berlari menuju pinggir lapangan dan memeluk pelatih Didier Deschamps.
Mbappe mendedikasikan gol tersebut untuk Deschamps yang baru kembali mendampingi tim setelah meninggalkan pemusatan latihan karena ibunya meninggal dunia. Di tengah turnamen terbesar sepak bola dunia, momen itu dianggap memperlihatkan sisi lain seorang Mbappe yang kini tak hanya menjadi mesin gol, tetapi juga pemimpin ruang ganti. "Gestur Kylian benar-benar menyentuh hati saya. Dia adalah kapten kami. Sejak hari pertama dia selalu menjadi teladan," kata Deschamps seperti dikutip dari ESPN.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Mbappe kemudian menegaskan alasan di balik selebrasi itu. "Ia tahu bahwa ia tidak akan pernah sendirian bersama kami. Kami akan selalu mendukungnya," ujar bintang Real Madrid tersebut.
Dua gol yang dicetak Mbappe malam itu membawa Prancis menang 3-0 atas Swedia sekaligus mengantarkannya menorehkan rekor baru. Gol pertama menjadi gol kesembilannya di fase gugur Piala Dunia, melewati rekor yang sebelumnya dipegang bersama dua legenda Brasil, Leonidas dan Ronaldo. Sementara gol keduanya membuat koleksi gol Mbappe di Piala Dunia mencapai 18 gol dari hanya 18 pertandingan.
Catatan itu membuatnya hanya terpaut satu gol dari rekor sepanjang masa Lionel Messi yang mencetak 19 gol dalam 29 pertandingan Piala Dunia. Di Piala Dunia 2026, Mbappe juga memimpin daftar sementara pencetak gol terbanyak bersama Messi dengan koleksi enam gol.
Namun, Mbappe menolak menjadikan pencapaian individu sebagai pusat perhatian. "Saya sangat memahami siapa diri saya, bagaimana saya bermain, dan apa yang harus saya lakukan. Tapi ini bukan hanya soal saya," katanya. "Seluruh tim tahu apa yang harus dilakukan. Kompetisi yang sesungguhnya baru dimulai hari ini."
Perubahan peran Mbappe di tim nasional Prancis menjadi sorotan. Jika beberapa tahun lalu ia lebih sering menjadi pusat permainan, kini ia justru tampil sebagai bagian dari kolektivitas Les Bleus yang semakin matang. Gol pertamanya lahir lewat aksi individu khas Mbappe. Ia mengecoh Viktor Gyökeres dengan gerakan crossover sebelum melepaskan tembakan keras ke tiang jauh.
Namun, gol ketiganya justru menjadi gambaran permainan kolektif Prancis. Serangan dibangun melalui kombinasi Bradley Barcola dan Michael Olise sebelum Mbappe menyelesaikannya dengan sentuhan tenang di dalam kotak penalti. Peran Olise juga menjadi salah satu alasan mengapa lini depan Prancis tampil begitu tajam.
Dua assist yang ia berikan saat melawan Swedia membuat gelandang serang Bayern Muenchen itu telah mengoleksi lima assist sepanjang turnamen, terbanyak di Piala Dunia 2026. "Saat bola berada di kakinya, sungguh luar biasa," kata Deschamps. "Dia sedang memainkan sepak bola kelas dunia. Kini pengaruhnya di dalam tim sangat luar biasa. Dia melengkapi para penyerang lainnya dengan sangat baik."
Bradley Barcola bahkan menyebut rekan setimnya itu sebagai seorang jenius. "Ia melakukan segalanya di lapangan. Ia bertahan, menciptakan peluang, memberi umpan, bahkan punya kemampuan mencetak gol. Bagi saya, ia benar-benar jenius," ujar Barcola.
Kolaborasi Olise, Barcola, Ousmane Dembele, dan Mbappe membuat serangan Prancis sulit dihentikan. Sepanjang pertandingan melawan Swedia, Les Bleus melepaskan 25 tembakan, jauh meninggalkan lawannya yang hanya menghasilkan tujuh percobaan. Dominasi itu juga memperpanjang laju sempurna Prancis di Piala Dunia 2026. Empat pertandingan dilalui dengan empat kemenangan, dan selalu mencetak sedikitnya tiga gol dalam setiap laga.
Bagi Deschamps, pencapaian itu bukan semata-mata karena kualitas individu para pemainnya. "Skuad ini benar-benar bersatu," katanya. "Mentalitas sebuah tim memang tidak otomatis memenangkan pertandingan, tetapi saya tahu mentalitas yang salah bisa membuat Anda kalah."
Ucapan Deschamps membuka rahasia ketajaman Prancis sekaligus Mbappe di Piala Dunia 2026. Ketika banyak tim unggulan berguguran, Les Bleus justru tampil semakin solid. Bintang-bintang mereka tetap bersinar, tetapi bekerja di dalam sistem yang membuat setiap pemain saling melengkapi.
Mbappe sendiri enggan larut dalam euforia rekor. Prancis masih harus menghadapi Paraguay untuk memperebutkan tiket ke perempat final, dan baginya pekerjaan belum selesai. "Saat ini saya hanya ingin segera masuk ruang ganti dan menikmati pendingin ruangan," ujar dia. Di babak 16 besar, Prancis akan ditantang wakil Amerika Latin, Paraguay, yang berhasil mendepak raksasa Eropa, Jerman, lewat drama adu penalti.


















































