Remaja Masjid Makin Sepi, Dosen UIN Jakarta Soroti Pergeseran Dakwah ke Medsos

6 hours ago 13

REPUBLIKA.CO.ID,TANGERANG SELATAN -- Fenomena semakin sepinya aktivitas remaja masjid menjadi perhatian Dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Rubiyanah. Ia menilai, perkembangan media baru turut mengubah cara generasi muda mendapatkan pengetahuan dan mengikuti dakwah Islam.

Rubiyanah mengatakan, saat ini semakin sulit menemukan remaja yang secara rutin belajar agama di masjid dengan mendengarkan dakwah dari kiai atau dai yang memiliki otoritas keilmuan.

Sebaliknya, kata dia, generasi muda cenderung mendapatkan materi keagamaan melalui dai yang mereka temukan di media sosial maupun melalui kelompok-kelompok kajian yang berkembang di ruang digital.

“Belum pernah ketemu lagi tuh anak-anak remaja masjid, yang dia dengerin dakwah itu di masjid. Yang memang di situ ada dainya, ada kiainya, yang mungkin juga dia punya otoritas keilmuan yang mumpuni,” ujar Rubiyanah dalam Academy Day FDIKOM UIN Syarif Hidayatullah, Jumat (4/9/2026).

Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan adanya perubahan pola komunikasi keagamaan yang perlu direspons secara serius. Kehadiran media baru membuat proses belajar agama tidak lagi sepenuhnya berlangsung melalui ruang-ruang konvensional seperti masjid atau majelis taklim, tetapi juga melalui media sosial dan berbagai platform digital.

“Bisa dihitung, atau mungkin udah nggak ada kali ya remaja masjid zaman sekarang. Karena mereka tuh pasti belajarnya dari dai-dai mungkin yang ada di media sosial. Atau halaqah-halaqah sendiri yang kemudian itu juga muncul di media,” ucapnya.

Rubiyanah menilai, perubahan tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pengembangan ilmu Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI). Karena itu, model dakwah perlu mampu beradaptasi dengan logika media baru tanpa mengabaikan kualitas keilmuan dan otoritas sumber keagamaan. 

“Model-model seperti ini bagaimana kita responsi terhadap logika media baru,” katanya.

Hal tersebut disampaikan Rubiyanah dalam acara Academy Day FDIKOM UIN Jakarta yang mengangkat tema “Posisi dan Keunggulan Program Studi Magister dan Doktor Komunikasi dan Penyiaran Islam”. 

Kegiatan ini menjadi ruang untuk membahas penguatan akademik, riset, pembelajaran, serta relevansi keilmuan KPI dengan perkembangan industri komunikasi dan transformasi media digital.

Dekan FDIKOM UIN Jakarta, Prof Gun Gun Heryanto mengatakan, program magister dan doktor perlu terus memperkuat distingsi keilmuan, produktivitas riset, serta relevansinya dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan industri komunikasi. 

“Program studi magister dan doktor harus terus memperkuat kualitas akademik, produktivitas riset, serta relevansinya terhadap kebutuhan masyarakat dan perkembangan industri komunikasi,” jelasnya saat membuka Academy Day.

Selain menghadirkan Rubiyanah, Academy Day tersebut juga menghadirkan Guru Besar Bidang Komunikasi FDIKOM UIN Jakarta sekaligus Ketua Senat UIN Jakarta, Prof Andi Faisal Bakti. Keduanya membahas sejumlah aspek strategis pengembangan program studi, termasuk penguatan kurikulum, mutu pembelajaran, penelitian dan publikasi ilmiah, serta perluasan jejaring akademik dan profesional.

Gun Gun menambahkan, penguatan posisi akademik semakin penting di tengah dinamika ilmu komunikasi, penyiaran Islam, dan transformasi media digital. Program magister dan doktor, kata dia, tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dengan kompetensi akademik, tetapi juga harus mampu memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan keilmuan, masyarakat, dan lembaga.

Penguatan Program Studi Magister dan Doktor KPI diharapkan melahirkan akademisi, peneliti, praktisi, dan pemimpin yang memiliki wawasan keislaman sekaligus kemampuan komunikasi yang kuat dan adaptif terhadap perubahan zaman.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |