Semester II Menantang, MIND ID Group Andalkan Kualitas Laba dan Arus Kas

3 hours ago 22

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID terus memperkuat fundamental operasional dan integrasi hilirisasi untuk menjaga pertumbuhan di tengah kondisi pasar komoditas yang semakin menantang pada Semester II/2026. Kinerja positif sejumlah emiten anggota MIND ID Group sepanjang Semester I/2026 menjadi modal dalam menjaga kualitas laba, arus kas, serta margin keuntungan.

Perhatian investor pun diperkirakan mulai bergeser dari sekadar mengejar pertumbuhan laba tinggi menuju kemampuan setiap emiten mempertahankan kualitas operasional dan menciptakan nilai jangka panjang. Kondisi pasar yang memasuki fase normalisasi membuat kesehatan neraca, disiplin belanja modal, dan keberlanjutan arus kas semakin penting.

“Laba yang tidak lagi setinggi masa supercycle bukan berarti fundamental perusahaan memburuk, melainkan pasar kembali menilai emiten berdasarkan kualitas operasional, efisiensi, kesehatan neraca, dan prospek pertumbuhan jangka panjang,” kata Pengamat Pasar Modal sekaligus Direktur Purwanto Asset Management Edwin Sebayang dalam keterangannya, dikutip Selasa (25/8/2026) lalu.

Sejumlah perusahaan tambang di bawah naungan MIND ID mencatatkan kinerja positif sepanjang Semester I/2026. PT Vale Indonesia Tbk (INCO), misalnya, membukukan laba periode berjalan sebesar 25,24 juta dolar AS.

PT Timah Tbk (TINS) mencatatkan kinerja yang lebih kuat dengan laba bersih mencapai Rp 2,71 triliun. Capaian tersebut telah melampaui target laba bersih sepanjang 2026 sebesar Rp 1,61 triliun atau mencapai 169 persen dari target perusahaan.

“Prospek INCO dan TINS akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan harga komoditas global, realisasi volume produksi, serta kemampuan menjaga margin di tengah siklus komoditas yang lebih menantang,” kata Edwin.

Di tengah perubahan siklus komoditas, setiap emiten MIND ID memiliki katalis pertumbuhan yang berbeda. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), misalnya, dinilai masih memiliki prospek jangka panjang melalui penguatan hilirisasi mineral dan pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik.

ANTM mengembangkan ekosistem baterai kendaraan listrik terintegrasi di Indonesia bersama PT Industri Baterai Indonesia (IBI) dan HYD Investment Limited. Konsorsium HYD terdiri atas Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd., EVE Energy Co., Ltd., dan PT Daaz Bara Lestari Tbk.

“Saya melihat ANTM masih memiliki katalis jangka panjang yang kuat melalui hilirisasi mineral dan pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik. PTBA tetap menarik bagi investor yang mencari stabilitas arus kas dan dividen,” ujar Edwin.

Fasilitas produksi dalam proyek baterai tersebut berlokasi di Karawang, Jawa Barat, dan ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada 2026. Total investasi awal proyek baterai terintegrasi dari hulu hingga hilir mencapai 5,9 miliar dolar AS atau sekitar Rp 96,04 triliun dengan asumsi kurs Rp 16.278 per dolar AS.

Kapasitas produksi pada fase pertama selanjutnya direncanakan meningkat melalui ekspansi hingga sedikitnya mencapai 15 gigawatt hour (GWh). Kapasitas tersebut diperkirakan setara untuk memenuhi kebutuhan sekitar 250 ribu unit kendaraan listrik.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |