WOW! Wonogiri Siap Produksi Pertalite dan Solar dari Sampah Plastik, Sudah Dicoba ke Motor dan Traktor Hasilnya Jos

11 hours ago 15
BBMBupati Wonogiri Setyo Sukarno (batik kiri) menyaksikan Sekda Wonogiri FX Pranata memasukkan sampah plastik ke mesin pengolah BBM. Joglosemarnews.com/Aris Arianto

WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Tumpukan sampah plastik yang selama ini dianggap sebagai masalah ternyata bisa menjadi “ladang minyak” baru. Sebuah terobosan mengejutkan lahir di Kabupaten Wonogiri setelah STAB Negeri Raden Wijaya Wonogiri menghadirkan hasil rekayasa mesin pirolisis untuk program kredensial mikro bagi mahasiswa..

Inovasi ini membuka harapan baru bahwa Wonogiri tidak hanya mampu mengurangi persoalan sampah yang semakin mengkhawatirkan, tetapi juga memiliki peluang memproduksi energi alternatif sendiri dari limbah yang selama ini hanya berakhir di tempat pembuangan.

Teknologi tersebut dikembangkan melalui Eco-Theology Living Laboratory Dharma Ekologi, laboratorium pembelajaran yang menggabungkan riset, pendidikan, teknologi ramah lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat. Laboratorium ini resmi diresmikan pada Selasa (30/6/2026) dan langsung menjadi perhatian karena menghadirkan solusi nyata bagi persoalan sampah plastik.

BBM hasil olahan tersebut sudah diujicoba ke traktor tangan maupun sepeda motor. Hasilnya, bisa beroperasi secara normal.

Yang menarik, inovasi tersebut justru lahir dari persoalan sederhana. Awalnya, pihak kampus resah melihat tumpukan sampah plastik di lingkungan asrama mahasiswa. Alih-alih hanya membersihkannya, kampus memilih menjadikan persoalan itu sebagai bahan penelitian hingga akhirnya berhasil menciptakan teknologi pengolahan sampah menjadi bahan bakar.

Melalui proses pirolisis, sampah plastik dipanaskan pada suhu tinggi tanpa pembakaran langsung sehingga menghasilkan minyak yang kemudian diolah menjadi berbagai jenis bahan bakar, mulai dari solar, pertalite, minyak tanah hingga gas yang masih dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan.

Namun prosesnya tidak bisa dilakukan sembarangan. Plastik yang masuk ke mesin harus melalui proses pemilahan terlebih dahulu. Tidak semua jenis plastik dapat diolah karena kualitas bahan bakar sangat dipengaruhi oleh bahan baku yang digunakan. Tahapan ini juga penting untuk menjaga performa mesin agar tetap optimal.

Ketua STABN Raden Wijaya Wonogiri, Dr. Sulaiman, Ph.D., menegaskan persoalan sampah sebenarnya harus diselesaikan sejak dari hulunya, yaitu rumah tangga.

Menurutnya, masyarakat perlu membiasakan diri memilah sampah sejak dari rumah agar limbah yang masih memiliki nilai ekonomi dapat dimanfaatkan kembali.

“Kami ingin menunjukkan bahwa persoalan sampah dapat diatasi melalui kolaborasi, edukasi, dan inovasi teknologi. Sampah yang sebelumnya dianggap tidak berguna ternyata dapat diolah menjadi sumber daya yang bermanfaat,” ujar Dr. Sulaiman.

Ia menambahkan, perguruan tinggi tidak boleh hanya menjadi tempat belajar teori, tetapi juga harus mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

Karena itu, Laboratorium Dharma Ekologi juga dikembangkan sebagai Program Kredensial Mikro, sehingga mahasiswa tidak hanya belajar di ruang kelas. Mereka dilibatkan secara langsung dalam pengoperasian mesin pirolisis, penelitian, pengelolaan limbah, hingga kegiatan edukasi kepada masyarakat.

Melalui program tersebut, mahasiswa sekaligus belajar membangun ekonomi sirkular yang mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi sampah plastik.

Selain menjadi pusat riset, laboratorium ini juga diharapkan menjadi pusat edukasi bagi masyarakat mengenai pentingnya memilah sampah dari rumah. Dengan cara tersebut, sampah yang sebelumnya hanya menjadi beban lingkungan dapat berubah menjadi bahan baku energi alternatif.

Terobosan ini juga mendapat apresiasi dari Pemerintah Kabupaten Wonogiri melalui Dinas Lingkungan Hidup saat pelaksanaan Pelatihan Mesin Pirolisis STAB Negeri Raden Wijaya Wonogiri GPM 15 Cyclone with Heater R2 pada 24 Juni 2026.

Bupati Wonogiri Setyo Sukarno mengatakan keberadaan mesin pengolah sampah plastik menjadi BBM merupakan langkah yang sangat penting bagi masa depan pengelolaan sampah di Wonogiri.

Menurutnya, persoalan sampah kini menjadi tantangan besar setelah tiga Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Wonogiri ditutup oleh Kementerian Lingkungan Hidup, sehingga sistem pembuangan sampah secara terbuka tidak lagi diperbolehkan.

Karena itu, teknologi pengolahan sampah menjadi bahan bakar dinilai dapat menjadi salah satu solusi yang sangat dibutuhkan.

“Saat ini di Wonogiri telah ada mesin pengolah sampah plastik menjadi BBM jenis pertalite maupun solar. Ini menjadi langkah yang sangat baik dalam mendukung penyelesaian persoalan sampah,” kata Setyo Sukarno.

Dalam kesempatan yang sama, Bupati juga menyampaikan ucapan selamat atas diresmikannya Laboratorium Dharma Ekologi STAB Negeri Raden Wijaya Wonogiri yang bertepatan dengan peringatan Hari Raya Waisak 2570 Buddhist Era Tahun 2026.

Ia mengajak seluruh masyarakat menjadikan nilai-nilai Dharma sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari, terutama nilai Metta (cinta kasih) dan Karuna (kasih sayang), termasuk dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Dengan hadirnya laboratorium ini, Wonogiri kini memiliki salah satu pusat inovasi pengolahan sampah plastik menjadi energi alternatif yang berpotensi dikembangkan lebih luas. Jika terus dikembangkan dan mendapat dukungan berbagai pihak, bukan tidak mungkin ke depan limbah plastik yang selama ini menjadi masalah justru menjadi sumber energi baru yang bernilai ekonomi tinggi sekaligus membantu mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Aris Arianto

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |