Avoidant Attachment: 7 Ciri agar Kamu Mudah Mengenalinya

14 hours ago 20

CANTIKA.COM, Jakarta - Menjalani sebuah hubungan asmara memang penuh dengan dinamika yang unik. Terkadang, kamu mungkin merasa bingung ketika menghadapi seseorang yang tiba-kira menarik diri saat hubungan mulai terasa semakin dekat dan intim. 

Di dalam dunia psikologi, kondisi ini sering kali berkaitan erat dengan tipe kepribadian tertentu dalam hubungan, salah satunya adalah gaya kelekatan menghindar atau yang lebih populer dikenal dengan istilah avoidant attachment. Memahami avoidant attachment artinya bukan sekadar tahu definisinya, melainkan bagaimana mengenali tanda-tandanya agar kamu bisa menyikapi hubungan dengan lebih bijak dan minim kesalahpahaman.

Apa Itu Avoidant Attachment?

Secara umum, dilansir dari Psychology Today, avoidant attachment adalah salah satu bentuk gaya kelekatan di mana seseorang cenderung menjaga jarak emosional yang cukup signifikan dengan orang lain, termasuk dengan pasangan romantis mereka. 

Individu yang memiliki kepribadian ini sering kali merasa tidak nyaman dengan keintiman yang terlalu dalam dan memiliki kebutuhan yang sangat tinggi untuk mandiri secara ekstrem. Ketika sebuah hubungan mulai menuntut keterikatan emosi yang kuat, mereka biasanya akan menunjukkan respons defensif untuk melindungi diri agar tidak merasa rentan atau terluka.

Asal Istilah dari Teori Attachment

Istilah ini sebenarnya berakar dari teori kelekatan atau attachment theory yang awalnya dikembangkan oleh seorang psikolog bernama John Bowlby dan kemudian diperluas oleh Mary Ainsworth. Teori ini menjelaskan bahwa pola hubungan yang kita bangun dengan pengasuh utama di masa kecil akan membentuk cara kita berinteraksi, mempercayai, dan mencintai orang lain saat kita tumbuh dewasa. 

Dari sinilah lahir berbagai pola kelekatan yang diadopsi seseorang, di mana salah satunya memicu terbentuknya mekanisme pertahanan diri berupa penolakan terhadap kedekatan emosional yang intens.

Lalu, Apa Bedanya dengan Introvert?

Banyak orang yang sering kali keliru dan menyamakan kepribadian ini dengan karakter seorang introvert, padahal keduanya adalah hal yang sangat berbeda. Seorang introvert hanya membutuhkan waktu sendiri untuk mengisi ulang energi sosial mereka setelah beraktivitas, namun mereka tetap bisa menikmati dan menginginkan kedekatan emosional yang mendalam tanpa rasa takut. 

Sementara itu, seseorang dengan gaya kelekatan menghindar sengaja membangun benteng emosional karena adanya rasa tidak aman dan kecemasan bawah sadar terhadap sebuah komitmen, bukan karena mereka lelah secara sosial.

7 Ciri Avoidant Attachment yang Perlu Diketahui

Mengenali tanda-tanda tipe kepribadian ini sebenarnya bisa dilihat dari kebiasaan sehari-hari dalam merespons konflik dan kedekatan.

1. Suka menjaga jarak emosional secara konsisten

Hal ini paling sering ditunjukkan saat hubungan mulai mengarah ke tahap yang lebih serius dengan sengaja membangun dinding pembatas. Langkah tersebut dilakukan agar interaksi tetap berada di permukaan dan tidak menyentuh ranah komitmen yang mendalam.

2. Punya kecenderungan sangat mandiri dalam segala aspek kehidupan sehari-hari

Karakteristik dismissive avoidant ini membuat mereka memandang ketergantungan pada pasangan sebagai sebuah kelemahan yang harus dihindari. Mereka merasa harus selalu mengandalkan diri sendiri agar tidak perlu meminta bantuan dari orang lain.

3. Memiliki trust issue yang besar pada orang lain

Kondisi ini membuat mereka mengalami kesulitan tinggi untuk menaruh rasa percaya sepenuhnya kepada pasangan. Mereka selalu dihantui ketakutan bawah sadar bahwa membuka diri hanya akan berujung pada rasa kecewa atau penolakan.

4. Suka menarik diri setelah melewati momen yang sangat intens

Kebiasaan menghilang secara tiba-tiba setelah melewati momen intim ini kerap berkaitan dengan fearful avoidant attachment. Ada konflik batin yang kuat di dalam diri mereka antara keinginan untuk dekat tetapi sekaligus merasa takut terluka.

5. Sangat tertutup dan kesulitan terbuka tentang perasaan serta masa lalu

Mereka merasa jauh lebih aman menyimpan segala dinamika emosi dan masalahnya sendiri daripada harus membaginya secara terbuka dengan pasangan. Benteng pertahanan ini sengaja dibangun demi menjaga privasi dan keamanan emosional mereka.

6. Menghindari pembahasan tentang masa depan

Topik yang mengarah pada ikatan jangka panjang atau komitmen formal sering kali membuat mereka merasa tertekan dan terancam kebebasannya. Oleh karena itu, mereka akan berusaha mengalihkan pembicaraan atau melarikan diri dari diskusi tersebut.

7. Punya kecenderungan mencari kesalahan atau kekurangan pasangan agar bisa lepas

Pola pertahanan terakhir ini sengaja dilakukan sebagai pembenaran logis bagi diri mereka sendiri untuk menjauh. Dengan menemukan celah kesalahan pasangan, mereka merasa memiliki alasan yang kuat untuk menarik diri dan akhirnya menyudahi hubungan.

Penyebab Seseorang Menjadi Avoidant

Pola perilaku yang tertutup ini tentu tidak muncul begitu saja tanpa adanya alasan yang mendasar di belakangnya. Menurut para ahli psikologi, penyebab avoidant attachment sebagian besar berakar dari pengalaman masa kecil, di mana orang tua atau pengasuh utama mungkin kurang responsif secara emosional atau cenderung menolak ketika anak menunjukkan kerapuhan. 

Ketika seorang anak tumbuh dengan pemahaman bahwa kebutuhan emosionalnya tidak akan dipenuhi oleh orang lain, mereka akhirnya belajar untuk menekan emosi tersebut dan mengandalkan diri mereka sendiri demi bertahan hidup.

Avoidant Attachment vs Anxious Attachment, Apa Bedanya?

Dalam dinamika hubungan romantis, tipe menghindar ini sangat sering dipertemukan dengan kepribadian yang bertolak belakang. Hubungan antara avoidant dan anxious sering kali menjadi tantangan tersendiri karena perbedaan mendasar dalam mengekspresikan kebutuhan emosional masing-masing. 

Jika pemilik gaya menghindar cenderung menarik diri saat terjadi konflik, maka kebalikannya, gaya kelekatan cemas justru akan mencari kepastian secara terus-menerus dan merasa sangat takut akan ditinggalkan oleh pasangannya. Perbedaan respons inilah yang sering kali memicu lingkaran konflik yang berulang jika kedua belah pihak tidak saling memahami cara berkomunikasi yang sehat.

Apakah Avoidant Attachment Bisa Berubah?

Pertanyaan yang sering muncul adalah apakah seseorang bisa melepaskan diri dari pola kelekatan yang tidak nyaman ini. Jawabannya adalah bisa, namun proses mengenai cara menghilangkan sifat avoidant membutuhkan kesadaran diri yang tinggi, komitmen yang kuat, serta waktu yang tidak sebentar. 

Langkah awal yang paling krusial adalah dengan mengakui adanya ketakutan akan keintiman tersebut dan secara perlahan belajar membuka diri untuk mengomunikasikan perasaan tanpa perlu langsung melarikan diri. Proses penyembuhan ini juga akan berjalan jauh lebih efektif dengan bantuan profesional seperti psikolog melalui sesi terapi untuk mengurai trauma masa lalu secara mendalam.

Bagi kamu yang saat ini sedang menjalin hubungan dan merasa telah mengenali tanda-tanda di atas pada orang terdekatmu, penting untuk tahu langkah apa yang harus diambil selanjutnya. Kamu bisa membaca panduan lengkap mengenai cara menghadapi pasangan dengan gaya ini agar hubungan asmara kalian tetap bisa berjalan dengan harmonis, sehat, dan minim konflik yang menguras energi.

Pilihan Editor: Punya Banyak Circle, tapi Terasa Sepi? Jangan-jangan Kamu Floater Friend

PSYCHOLOGY TODAY | ATTACHMENT PROJECT | WEBMD

Carolyn Nathasa Dharmadhi

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |