KONSULTAN Climate Landscape Analysis for Children in Indonesia, Perdinan, mengatakan laporan terbaru United Nations Children’s Fund (UNICEF) menunjukkan bencana iklim tidak hanya berdampak terhadap fisik, tapi juga mental anak. Efek perubahan iklim terhadap kehidupan generasi muda itu diulas dalam laporan "Children's Climate Risk Report 2026: Children's Exposure to Climate Hazards and Climate Risks", yang terbit bulan ini. “Anak-anak tidak menghadapi risiko iklim secara tunggal,” ucapnya kepada Tempo, Ahad, 21 Juni 2026.
Perdinan, yang juga lektor kepala di Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, mengatakan anak-anak bisa menghadapi panas ekstrem, banjir, kekeringan, penurunan kualitas air, polusi udara, penyakit menular, hingga gangguan pangan dalam waktu yang berdekatan, bahkan bersamaan. Tidak hanya mempengaruhi satu aspek, kejadian iklim itu juga bisa mengganggu kesehatan, gizi, akses air bersih, keamanan saat bencana, dan kemampuan belajar anak.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Kerentanan anak terhadap perubahan iklim, kata Perdinan, berbeda-beda di setiap wilayah. Di Jawa, yang memiliki konsentrasi penduduk sangat besar, anak cenderung terkena dampak banjir, suhu panas perkotaan, polusi udara, serta penyakit seperti dengue. Di wilayah Nusa Tenggara, ancaman yang lebih menonjol adalah kekeringan, keterbatasan air bersih, gangguan pangan, dan masalah gizi. Adapun yang dihadapi anak di pesisir dan pulau kecil adalah kenaikan muka laut, rob, intrusi air laut, serta gangguan sumber air tawar.
Bukan hanya soal bahaya fisik, sebagian anak akan terkena dampak kerentanan kondisi sosial-ekonomi serta kekuatan layanan dasar di tengah tekanan iklim. "Dampak krisis iklim terhadap anak bukan hanya isu lingkungan, tapi juga isu hak dan pembangunan manusia," tutur Perdinan.
Krisis iklim juga menyentuh urusan makan sehari-hari. Perubahan suhu, curah hujan, musim, dan kejadian cuaca ekstrem kini mempengaruhi produksi padi, hortikultura, ternak, dan perikanan. Efek negatifnya adalah penurunan hasil dan kenaikan harga pangan, termasuk gangguan pada distribusinya.
Di negara tropis seperti Indonesia, perubahan suhu, curah hujan, genangan air, serta kelembapan dapat mempengaruhi siklus hidup nyamuk pembawa dengue dan malaria. Pada saat yang sama, kekeringan dapat memperparah kebakaran hutan dan lahan yang kemudian meningkatkan polusi udara serta risiko infeksi saluran pernapasan pada anak.
Seperti diulas dalam laporan premium Tempo, "Bagaimana Krisis Iklim Merenggut Masa Depan Anak", UNICEF mencatat 2,3 miliar anak di dunia terpapar sedikitnya satu ancaman iklim. Di bagian penjabaran hasil, ada juga sekitar 4 juta anak yang tercatat harus menghadapi enam ancaman iklim sekaligus.
Dalam laporan tersebut, badan global ini menganalisis 10 ancaman yang berkaitan dengan perubahan iklim. Selain mencatat bencana fisik, seperti banjir dan badai, UNICEF juga mencantumkan malaria dan polusi udara dalam daftar tersebut karena masih berupa bahaya sensitif iklim. Jangkauan setiap ancaman iklim ini tergolong luas, seperti kekeringan meteorologis dan kekeringan pertanian yang tercatat menjangkau 1,8 miliar anak.
Humanitarian Manager Plan Indonesia Enos Ndapareda mengatakan lembaganya sedang mendorong keterlibatan anak muda, terutama perempuan, dalam berbagai aksi iklim. Plan Indonesia juga mengedukasi remaja agar lebih memahami dampak perubahan iklim. "Dengan begitu mereka bisa turut merancang aksi di tingkat komunitas hingga menyampaikan pengalaman mereka kepada forum perencanaan pembangunan daerah,"tuturnya kepada Tempo.
Saat ini pendampingan reguler Plan Indonesia berlangsung di sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur, yaitu di Timor Tengah Selatan, Nagekeo, Lembata, dan Manggarai. Organisasi tersebut juga mulai mengembangkan program aksi iklim di Jakarta Utara, Jakarta Barat, dan Jakarta Timur, yang menghadapi ancaman banjir berulang.
Menurut Enos, Plan Indonesia berfokus mendampingi kelompok usia 15-24 tahun melalui pelatihan dan dukungan aksi komunitas. "Untuk usia yang lebih muda, kampanye ini kami sampaikan kepada para orang tuanya," ucapnya.

















































