REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA - Aksi demonstrasi yang mengatasnamakan Aliansi Masyarakat Sipil di kawasan Simpang Empat Gramedia, Kota Yogyakarta, Selasa (1/9/2026) tadi malam, berujung gesekan antara massa aksi dan sejumlah warga.
Ketegangan yang terjadi di tengah aksi tersebut menyebabkan sejumlah peserta demonstrasi mengalami luka maupun gangguan kesehatan. Sedikitnya ada enam mahasiswa yang dilaporkan sempat mendapat perawatan di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta.
Informasi mengenai enam mahasiswa yang menjalani perawatan tersebut beredar di media sosial. Mereka disebut mengalami kondisi berbeda-beda, mulai dari trauma dan sesak napas hingga luka robek serta memar di sejumlah bagian tubuh.
Enam mahasiswa tersebut antara lain Naila Arrifqi, mahasiswa Fakultas Hukum UGM angkatan 2024 dilaporkan mengalami trauma dan sesak napas. Kondisi serupa juga dialami Madanastra Mana, mahasiswa Filsafat UGM angkatan 2024 .
Kemudian Muhamad Zaky, mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), dilaporkan mengalami memar pada bagian pelipis. Mega Theresia Narwadan, mahasiswa Filsafat UGM, disebut mengalami luka robek pada bagian jidat. Syarifah Khadizah Al Maghraby, mahasiswa Fisipol UGM 2025, dilaporkan mengalami luka robek pada bibir. Sementara Zidan, mahasiswa Filsafat UGM 2024, disebut mengalami memar pada bagian pelipis, perut, dan kepala belakang.
Penyebab pasti luka yang dialami keenam mahasiswa tersebut belum diketahui. Begitu pula kondisi terakhir mereka setelah mendapatkan penanganan medis masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut dari pihak rumah sakit maupun pihak terkait.
Sebelumnya, aksi demonstrasi yang dimulai sejak sore hari itu berlangsung hingga malam. Sekitar pukul 20.40 WIB, sejumlah warga mendatangi barisan massa dan meminta peserta aksi membubarkan diri karena penutupan jalan dinilai mengganggu aktivitas pengguna jalan serta menyebabkan kemacetan panjang di Kota Yogyakarta.
Namun, massa aksi memilih tetap bertahan dan melanjutkan orasi. Perbedaan sikap tersebut kemudian berkembang menjadi adu mulut hingga terjadi aksi saling dorong antara demonstran dan sejumlah warga.
Massa aksi sempat terdorong mundur ke arah utara menuju Jalan Cik Ditiro. Sementara polisi yang berada di lokasi kemudian membuat penyekatan untuk memisahkan kedua kelompok agar bentrokan tidak meluas.
Dalam situasi tersebut, terdengar seorang peserta aksi meminta bantuan kepada petugas.
"Pak saya dipukul," ujar seorang peserta aksi.
Teriakan lain juga terdengar dari tengah kerumunan yang meminta aparat mengantisipasi warga yang disebut membawa senjata tajam. Namun, informasi mengenai adanya senjata tajam tersebut belum dapat dipastikan kebenarannya.
Tuntutan yang Disuarakan
Dalam aksi tersebut, massa membawa dua tuntutan utama, yakni "turunkan rezim hari ini" dan "tarik mundur kolonialisme Indonesia dari wilayah periferi jajahannya."
Ketua Serikat Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (SEMA UGM), Mesa, mengatakan akar persoalan bangsa saat ini berasal dari kebijakan yang lahir dari kepemimpinan rezim saat ini.
"Banyak permasalahan yang tidak bisa disebutkan satu per satu. Alih-alih kita punya banyak tuntutan, mungkin bisa sampai 200 tuntutan, lebih baik disederhanakan ke akar permasalahannya, yaitu rezim hari ini," ungkap Mesa.
Selain persoalan kepemimpinan, massa menyoroti penanganan bencana, pengelolaan sumber daya alam, anggaran negara, program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga Koperasi Desa Merah Putih. Mereka juga mengkritik sejumlah janji politik pemerintah yang dinilai belum terealisasi, termasuk terkait pendidikan, BBM, dan transportasi publik.
Persoalan penanganan bencana juga menjadi hal yang mereka soroti dalam aksi tersebut. Menurutnya, pemerintah perlu memperbaiki tata kelola penanganan bencana serta menentukan prioritas anggaran yang dinilai lebih berpihak pada kebutuhan masyarakat.
Massa juga menilai besarnya anggaran untuk sejumlah program pemerintah perlu dibandingkan dengan kebutuhan lain, termasuk pendidikan dan penanganan bencana.
"Anggaran kebencanaan masih minim, padahal Indonesia tahun ini mengalami setidaknya empat bencana besar. Subsidi untuk masyarakat yang sebelumnya dijanjikan Prabowo-Gibran, anggaran pendidikan gratis, BBM gratis, transportasi publik gratis, semuanya kebohongan," katanya.

2 hours ago
17

















































