INFO TEMPO - Delapan puluh satu tahun lalu para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan untuk seluruh rakyat. Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih memaknai cara mengisi kemerdekaan dengan berinovasi dan bergotong royong sebagai roh pembangunan daerah berjulukan Bumi Handayani ini. Gotong royong yang tetap lestari di hati masyarakat Gunungkidul sejalan dengan pesan Bung Karno dalam pidato lahirnya Pancasila pada 1 Juni 1945. Gotong royong adalah pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu-membantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua. Keringat semua buat kebahagiaan semua. Holopis kuntul baris buat kepentingan bersama.
"Inovasi Gotong Royong Government sebagai jembatan antara potensi dan kesejahteraan, kolaborasi pemerintah, Tentara Nasional Indonesia, Kepolisian RI, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, kampus, dunia usaha, dan masyarakat," kata Endah. "Inovasi tanpa gotong royong hanyalah proyek; gotong royong tanpa inovasi hanya kerja bakti. Keduanya harus menyatu."
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Gotong Royong Government diterjemahkan melalui tujuh program strategis, yakni Bocah Pinter untuk pendidikan; Warga Sehat untuk kesehatan; Tani Makmur serta Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Berdaya untuk ekonomi; Gunungkidul Berdikari untuk kemandirian ekonomi; Pamong Nglayani dan Ngayomi untuk tata kelola; Warga Gayeng-Guyub untuk sosial budaya; serta Alam Lestari untuk lingkungan.
Program Bocah Pinter melahirkan inovasi Gerakan Berani Sekolah Gunungkidul (Geni Seko Gunung) untuk mendongkrak rata-rata lama sekolah yang sebelumnya 7,64 tahun. Dalam program yang diluncurkan pada 19 Mei 2025 ini, Pemkab Gunungkidul mengalokasikan sekitar Rp 2,2 miliar agar warga berusia di atas 24 tahun bisa kembali bersekolah. Hasilnya, rata-rata lama sekolah tumbuh 3,95 persen, tertinggi di antara semua komponen Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
Tani Makmur dan UMKM Berdaya melahirkan inovasi Kredit Usaha Rakyat Daerah (Kurda), yaitu pembiayaan murah bagi usaha mikro lewat badan usaha milik daerah, ditambah kebijakan bela beli produk lokal yang mewajibkan belanja pemerintah serta BUMD menyerap produk UMKM dan koperasi setempat.
Ada pula transformasi digital pemerintahan dengan Indeks Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) yang bergerak dari 2,49 (2021) ke 3,96 (2024) dan 4,07 (2025). Dampaknya nyata dan terukur. Pertumbuhan ekonomi pada 2025 mencapai 5,47 persen, dengan konsumsi rumah tangga sebagai penyumbang terbesar. Pariwisata kian menguat. Pada semester pertama 2026, jumlah wisatawan menembus 2,9 juta kunjungan yang menghasilkan pendapatan asli daerah wisata Rp 35,8 miliar, hampir menyamai target satu tahun penuh. Angka kemiskinan pun turun 1,03 poin ke 14,15 persen.
Pembenahan tata kelola pemerintahan melalui Pamong Nglayani dan Ngayomi mampu mengubah paradigma birokrasi dari "dilayani" menjadi "melayani". Terdapat berbagai layanan yang mendatangi warga. Inovasi SIAKMADU membawa sidang penetapan akta kematian ke balai kelurahan bersama Pengadilan Negeri Wonosari. Inovasi TANDUKRUSA menerbitkan dokumen kependudukan langsung setelah pasangan menikah lewat kerja sama Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil dengan kantor urusan agama (KUA).
Inovasi BULAN SABIT memastikan semua dokumen kependudukan ibu yang baru melahirkan terbit sekaligus. Juga ada inovasi Gerakan Pambelo Sungkowo (GPS), yakni ketika ada warga meninggal dan dilaporkan, akta kematian dapat langsung diterbitkan dan diserahkan pada hari pemakaman. Juga digitalisasi transaksi keuangan dan layanan melalui pembayaran nontunai untuk perizinan dan retribusi guna menutup celah kebocoran dan meningkatkan akuntabilitas. Pos retribusi wisata diperkuat dengan kamera pengawas (CCTV) dan pengawasan. Gotong Royong Government, menurut Endah, menciptakan budaya kerja pelayanan tidak berhenti di meja birokrasi.
Memasuki usia ke-81 kemerdekaan RI, Endah yakin kemajuan Indonesia tidak ditentukan hanya oleh pesatnya pertumbuhan di satu atau dua daerah. “Indonesia akan maju ketika daerah-daerah seperti Gunungkidul mendapat ruang akselerasi yang setara," ucapnya. “Kontribusi terbesar kami justru lahir dari sikap, bahwa kami tidak menyerah pada keterbatasan."(*)


















































