INFO NASIONAL - Momentum Hari Nelayan Nasional yang diperingati setiap 6 April menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana nelayan di Pulau Obi, Halmahera Selatan, tetap menjalankan aktivitas melaut di tengah dinamika pembangunan industri nikel dan berbagai kekhawatiran yang menyertainya.
Pembangunan industri di wilayah tersebut memang memunculkan berbagai isu di ruang publik, khususnya terkait kondisi lingkungan laut. Namun, di sisi lain, aktivitas dan produktivitas nelayan tetap menjadi gambaran nyata yang tidak bisa diabaikan.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Di Desa Soligi misalnya. Para nelayan yang tergabung dalam kelompok Sentra Usaha Tani Nelayan (SUTAN) tetap rutin melaut dan memperoleh hasil tangkapan yang baik. Salah satu nelayan, Ibrahim, mengatakan bahwa hingga kini aktivitas melaut masih berjalan seperti biasa.
Bahkan, kata dia, kelompok nelayannya telah menjadi pemasok ikan segar untuk kebutuhan konsumsi ribuan pekerja di kawasan industri Harita Nickel, dengan kapasitas suplai mencapai sekitar 1 hingga 2 ton per bulan. Produktivitas tersebut menunjukkan bahwa kualitas lingkungan laut disana masih terjaga. “Kalau laut terganggu, kami pasti yang pertama merasakan. Tapi sampai sekarang, kami masih melaut seperti biasa,” ujarnya.
Produktivitas nelayan yang tetap terjaga di tengah aktivitas industri menjadi indikator bahwa kualitas perairan di wilayah tersebut berhasil dikelola dengan baik. Upaya pengelolaan lingkungan yang dilakukan Harita Nickel pun mendapat perhatian dari tim peneliti Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Khairun (Unkhair) Ternate, yang menyoroti komitmen perusahaan dalam menjaga kondisi laut.
Melalui observasi terhadap operasional perusahaan di Pulau Obi, kajian tersebut menunjukan bahwa kegiatan pertambangan dijalankan dengan mengedepankan prinsip-prinsip pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab. “Hasil visualisasi dan pengukuran lapangan menunjukkan bahwa pengelolaan tambang oleh Harita Nickel dilaksanakan dengan prinsip-prinsip yang bertanggung jawab,” ujar salah satu peneliti, M. Janib Achmad.
Hasil tersebut didasarkan pada kondisi fisik lingkungan pesisir dan laut sekitar area pertambangan. Laporan observasi mencatat bahwa parameter fisik perairan laut, seperti pH, Total Suspended Solids (TSS), Biological Oxygen Demand (BOD), dan kekeruhan, berada dalam standar baku mutu yang mendukung keberlanjutan ekosistem laut. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan pertambangan mendukung kehidupan biota laut.
“Kualitas air yang sesuai dengan baku mutu mendukung pola ekologi yang teratur di perairan tersebut,” katanya. “Laporan ini menjadi bukti nyata komitmen Harita Nickel dalam mengintegrasikan operasi bisnis dengan keberlanjutan lingkungan.”
Di sisi lain, pakar Pencemaran dan Ekotoksikologi dari Manajemen Sumber Daya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Etty Riani melakukan pengujian terhadap sampel yang dikumpulkan untuk mengukur kandungan logam berat, seperti nikel (Ni) dan besi (Fe).
Timnya juga melakukan analisis histomorfologi untuk melihat dampak kontaminasi terhadap organ-organ penting ikan, seperti hati, otot, ginjal, jantung, insang, usus, lambung, pankreas, serta limpa dengan menggunakan ikan-ikan hasil tangkapan pancing dari perairan tersebut.
“Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa kondisi perairan Pulau Obi, baik itu di area pertambangan maupun di luar area pertambangan, memiliki kondisi perairan yang relatif baik. Selain Pulau Obi, kami juga turut menguji di perairan Pulau Bacan dan Kota Ternate,” kata Etty.
Selain aktif mengelola lingkungan demi menjaga ekosistem laut dan mendukung produktivitas nelayan, Harita Nickel juga memberi perhatian langsung kepada para nelayan lewat program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) dengan memberikan fasilitas cold storage untuk membantu nelayan menjaga kualitas hasil tangkap agar tetap memiliki nilai jual yang tinggi.
Harita Nickel juga aktif memberikan pendampingan terkait gangguan kapal dari luar di area penangkapan melalui edukasi aspek hukum serta dukungan advokasi bagi para nelayan.
Berbagai upaya tersebut mencerminkan komitmen kuat Harita Nickel dalam menjaga ekosistem laut dan menaikan ekonomi para nelayan. Di saat yang bersamaan, rangkaian temuan para peneliti menunjukkan bahwa dinamika laut di Obi tidak dapat disederhanakan dalam satu kesimpulan tunggal, melainkan perlu dilihat melalui kombinasi pengalaman nelayan di lapangan dan temuan ilmiah yang terus berkembang. (*)


















































