INFO TEMPO - Peran perempuan dalam pembangunan keluarga semakin mendapat perhatian, termasuk melalui gerakan Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat. Di Pekanbaru, sosok Sulastri menjadi figur penting di balik berbagai program pemberdayaan perempuan, pendidikan anak, serta penguatan literasi keluarga.
Sebagai Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kota Pekanbaru sekaligus istri Wali Kota Agung Nugroho, Sulastri menempatkan pendidikan dan peningkatan kapasitas perempuan sebagai fokus utama dalam menjalankan perannya. Ia percaya kualitas keluarga berpengaruh besar terhadap kualitas generasi mendatang.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Dalam satu tahun terakhir, kiprah Sulastri sebagai Ketua TP PKK Kota Pekanbaru menunjukkan satu hal yang konsisten, yakni bekerja dari bawah, mendengar langsung, lalu bergerak cepat.
Bagi Sulastri, perannya hari ini sebagai pemimpin bukan sekadar posisi formal sebagai istri wali kota. Ia melihat dirinya sebagai pendamping yang aktif, yang punya tanggung jawab untuk ikut menyukseskan amanah kepemimpinan di Kota Pekanbaru.
“Posisi kita ini sebagai apa dulu. Kalau sebagai istri wali kota, artinya kita mendampingi dan membantu. Jadi apa yang saya lakukan hari ini bagaimana bisa membantu menyukseskan amanah yang diberikan selama memimpin,” ucapnya pada Senin, 27 April 2026. Sebelum berada di posisi saat ini, Sulastri memiliki latar belakang sebagai anggota legislatif, baik di tingkat kota maupun Provinsi Riau. Pengalaman ini membentuk cara kerjanya yang terbiasa turun langsung ke masyarakat.
Ia mengaku menyukai aktivitas lapangan, bertemu warga, melihat kondisi nyata, dan memahami persoalan secara langsung tanpa perantara. “Senang bertemu orang, lihat kondisi masyarakat seperti apa. Maunya memang tahu langsung kondisi di lapangan,” ujar Sulastri yang juga menjadi Bunda PAUD dan Ketua Dekranasda ini. Kebiasaan inilah yang kemudian membentuk perannya di PKK: menjadi penghubung antara realitas di lapangan dan pengambilan keputusan di tingkat pemerintah kota.
Dari Temuan Lapangan ke Kebijakan Nyata
Salah satu momen yang paling membekas selama memimpin khususnya di awal-awal ialah saat ia menemukan kasus anak putus sekolah secara langsung di lapangan. Awalnya, kunjungan dilakukan untuk menyalurkan bantuan sembako.
Saat menyalurkan bantuan, perhatian Sulastri justru tertuju pada kerumunan anak di depan rumah penduduk. Setelah ditanya, ia menemukan fakta beberapa dari mereka tidak bersekolah, bahkan dalam satu keluarga terdapat tiga sampai empat anak yang putus sekolah.
Sulastri langsung menyampaikan kondisi tersebut kepada wal ikota dan mendorong agar masalah ini ditangani secara serius. Persoalan ini tidak sederhana, sehingga perlu dicari solusi bersama.
Gerakan pun dilakukan secara cepat. Ribuan kader posyandu dikerahkan untuk melakukan pendataan ulang di seluruh wilayah. Hasilnya, sekitar 1.700 anak teridentifikasi putus sekolah. “Targetnya bagaimana Kota Pekanbaru itu zero anak putus sekolah,” jelasnya.
Penanganannya pun disesuaikan dengan kondisi masing-masing anak. “Ada yang kembali ke sekolah formal, ada pula yang diarahkan ke pendidikan paket bagi yang sudah melewati usia sekolah. Program ini masih terus berjalan hingga sekarang, dengan komitmen agar tidak ada lagi anak yang tertinggal dari akses Pendidikan,” ucapnya.
Program Harus Nyata, Bukan Seremonial
Sulastri tidak melihat jabatan sebagai sesuatu yang berat. Ia memilih menjalani semua proses dengan rasa syukur. “Tantangannya, bagaimana program yang kita jalankan jangan sampai hanya perayaan atau gimmick. Harus benar-benar bermanfaat,” katanya.
Hal ini juga terlihat saat ia menangani isu stunting. Ia menganggap data yang ada tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi di lapangan. Dari laporan awal yang hanya sekitar 200 kasus, dan itu tidak logis.
Pendataan ulang dilakukan melalui kader posyandu, dan hasilnya menunjukkan jumlah yang jauh lebih besar, mencapai sekitar seribuan anak. Langkah ini menunjukkan pendekatan kepemimpinannya: tidak hanya menerima data, tetapi menguji dan memastikan kebenarannya di lapangan.
Dari Literasi hingga Penguatan Kader Posyandu
Dalam satu tahun, berbagai program telah dijalankan dengan fokus pada pemberdayaan masyarakat. Di bidang literasi, ia mendorong penerbitan buku anak yang relevan dengan konteks lokal. Buku-buku ini kemudian digunakan dalam kegiatan PAUD dan posyandu sebagai media edukasi dan storytelling.
Dalam prosesnya, TP PKK Pekanbaru juga menggandeng pihak penerbit untuk memastikan kualitas buku yang dihasilkan. Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa penguatan literasi membutuhkan sinergi dari berbagai pihak.
Tak hanya itu, program literasi juga diintegrasikan dengan layanan dasar di Posyandu, termasuk pendidikan anak usia dini. Dengan demikian, literasi menjadi bagian dari sistem pembinaan generasi sejak dini.
Sulastri juga menaruh perhatian besar pada penguatan kader, terutama posyandu. Sebanyak 3.500 kader telah mendapatkan pelatihan intensif langsung dari tingkat pusat.
Menurut dia, pelayanan kepada masyarakat harus didukung dengan pengetahuan yang cukup. Tidak cukup hanya bergerak, tetapi juga harus paham. “Jangan kita turunkan mereka tanpa dibekali ilmu dulu,” tegasnya.
Menuju Empat Tahun ke Depan
Dengan masa jabatan yang masih panjang, Sulastri berkomitmen melanjutkan program-program yang sudah berjalan sekaligus memperkuat dampaknya. Fokus ke depan tetap pada pendidikan, literasi, pemberdayaan perempuan, dan penguatan ekonomi keluarga.
"Kami terus memastikan agar setiap program benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat," ucapnya.
Melalui berbagai program yang dijalankan, Sulastri menegaskan pentingnya peran keluarga sebagai fondasi pembangunan bangsa. Ia percaya bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam menciptakan lingkungan yang sehat, harmonis, dan edukatif bagi anak-anak..
Dengan penguatan literasi keluarga, pendidikan anak usia dini, serta peningkatan kapasitas perempuan, Sulastri berharap masyarakat Pekanbaru dapat semakin siap menghadapi tantangan masa depan. Baginya, pembangunan tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga tentang membangun manusia yang memiliki karakter, pengetahuan, dan kepedulian sosial.(*)


















































