PRESIDEN Prabowo Subianto mengusulkan penggabungan Partai NasDem dan Gerindra saat menerima Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh di kediamannya di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, pada Februari 2026.
Pertemuan itu diulas dalam berita Mingguan Tempo dengan judul “Di Balik Ide Prabowo-Surya Paloh Menyatukan Gerindra-Nasdem” yang terbit pada 12 April 2026. Dalam laporan Tempo, persamuhan keduanya terjadi sebelum Prabowo bertolak ke Washington DC, Amerika Serikat.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Ini adalah pertemuan empat mata pertama Surya Paloh dengan Prabowo sejak Ketua Umum Partai Gerindra tersebut dilantik sebagai presiden pada 20 Oktober 2024. Pertemuan terakhir keduanya terjadi kala Prabowo masih berstatus presiden terpilih saat menyambangi kantor NasDem di Gondangdia, Jakarta Pusat, pada Maret 2024.
Surya menbawa rombongan terbatas saat pertemuan di Hambalang. Berbeda dengan pertemuan Prabowo dengan ketua umum partai politik seperti biasanya, pertemuan ini dilakukan tertutup.
Surya dan Prabowo berbicara empat mata selama lebih dari satu jam. Pertemuan keduanya dikonfirmasi okeh Ketua Harian Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad. "Benar bahwa keduanya sempat bertemu," ujar Sufmi Dasco Ahmad ketika dimintai tanggapan pada Rabu, 8 April 2026.
Tiga politikus yang dekat dengan Surya dan seorang pengurus Gerindra bercerita, pertemuan itu mulanya membahas ambang batas parlemen. Sebab, pada Februari 2024, Mahkamah Konstitusi membuat putusan yang memerintahkan Dewan Perwakilan Rakyat menghitung ulang ambang batas perolehan suara partai sebagai syarat masuk Senayan.
Surya pun mengusulkan ambang batas parlemen naik dari 4 persen menjadi 8 persen kepada Prabowo. Namun Prabowo meyakini, kalau syarat masuk DPR dinaikkan, partai kelas menengah dan kecil seperti NasDem bisa rontok pada pemilihan legislatif.
NasDem hanya mendapat perolehan suara 6-9 persen setelah mengikuti tiga kali pemilu sejak 2014.
Menurut pengurus NasDem yang mendengar cerita dari Surya, Prabowo kemudian melontarkan gagasan menggabungkan Gerindra dengan NasDem. Gabungan dua partai itu akan mengumpulkan hampir 35 juta suara nasional atau sekitar 23 persen-berdasarkan hasil Pemilu 2024.
Namun tiga pejabat teras NasDem mengatakan, Surya tak melihat skema merger partai itu bakal memberi manfaat kepada NasDem. Tiga narasumber itu juga bercerita, Surya juga belum rela melepas partai yang dirintisnya sejak berbentuk organisasi kemasyarakatan itu. NasDem memilih tetap menjalani perannya di pemerintahan Prabowo sebagai pendukung pemerintahan meski tak mendapatkan kursi menteri di Kabinet Merah Putih.
Tiga pejabat teras NasDem menjelaskan skema penggabungan partai tak realistis karena NasDem konsisten berada di peringkat kelima dalam dua kali pemilihan legislatif. Lain persoalan jika NasDem tertatih-tatih lolos dari ambang batas parlemen.
Cerita berbeda datang dari lingkaran dekat Prabowo. Seorang kolega Prabowo yang intens berkomunikasi dengan NasDem mengatakan, ide penggabungan NasDem dengan Gerindra justru datang dari Surya. Alasan yang disebut Surya kepada narasumber ini adalah skema merger bisa menjadi cara menyederhanakan jumlah partai di Indonesia.
Orang dekat Prabowo ini mengungkapkan, penggabungan partai justru menimbulkan kerumitan di lapangan. Dia mencontohkan calon legislator dan daerah pemilihan bisa bertubrukan di wilayah yang selama ini dikuasai NasDem dan Gerindra. Pengurus Gerindra ini justru memprediksi merger bisa membuat perolehan suara partai baru jeblok, alih-alih meroket.
Narasumber ini menyarankan Gerindra dan NasDem berjuang untuk lolos ambang batas parlemen dengan usaha masing-masing.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi belum merespons permintaan wawancara Tempo untuk mengkonfirmasi informasi ini hingga Sabtu, 11 April 2026.
















































