Review Star Wars: The Mandalorian and Grogu

3 hours ago 6

HUBUNGAN antara Din Djarin (Mandalorian) dan Grogu selalu menjadi nyawa utama dalam serial Star Wars. Lewat film terbaru mereka, Star Wars: The Mandalorian and Grogu, duet ayah dan anak angkat ini kembali diuji melalui petualangan yang penuh intrik politik, jebakan, hingga duel gladiator.

Film yang tayang di bioskop Indonesia mulai Rabu, 20 Mei 2026 ini tidak hanya menjual aksi laga galaksi, tetapi juga membongkar sisi lain klan kriminal legendaris yang paling ditakuti seantero galaksi: The Hutt.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Pilihan Editor: Rekomendasi Film: Kembalinya Iblis Berjubah Prada

Misi Baru di Tengah Aliansi yang Rapuh

Cerita dimulai ketika Mando mendapatkan misi dari New Republic yang sedang membangun aliansi rapuh dengan klan The Hut demi menjaga perdamaian galaksi. Mando dikirim untuk menyelamatkan Rota, anak gembong kriminal legendaris Jabba The Hutt, sekaligus keponakan dari penguasa Hutt kembar yang licik. Pencarian ini membawa Mando dan Grogu ke sebuah planet asing tempat Rota disekap oleh penjahat bernama Lord Janu di area gladiator. 

Pada paruh awal ini, penonton langsung disuguhi lompatan visual yang memukau. Efek CGI yang terasa hidup dengan kedalaman visual alat format 3D membuat pengalaman menonton terasa lebih nyata. Detail baju zirah beskar milik Mando hingga pemandangan lanskap planet asing terlihat sangat nyata, ditambah dengan permainan color grading yang pas di mata.

Din Djarin dan Grogu dalam The Mandalorian. Dok. Star Wars

Dekonstruksi Karakter di Arena Gladiator

Pertengahan cerita, penonton akan melihat pertarungan gladiator Mando dan  Rota yang dijebak oleh Janu. Sampai pada akhirnya Rota berhasil menghancurkan sistem keamanan dan menangkap Lord Janu untuk diserahkan ke New Republic. Namun, plot menjadi semakin menarik saat Rota menceritakan kebenaran bahwa ia sebenarnya sengaja melarikan diri.

Rota tahu bahwa paman dan bibinya sendiri berniat membunuhnya demi memutus trah Jabba. Di sini dekonstruksi karakternya terasa sangat kuat dan emosional. Alih-alih menjadi penjahat kejam seperti ayahnya, Rota justru digambarkan sebagai sosok mandiri yang berhati lembut dan tidak ingin hidup di bawah bayang-bayang nama besar Jabba.

Pembalikan Peran dan Babak Bertahan Hidup

Ketegangan semakin seru di paruh kedua film yang berubah menjadi babak bertahan hidup di tengah hutan. Mando sempat tertangkap pemburu bayaran dan terkena gigitan ular air beracun hingga sekarat. Di momen kritis inilah terjadi pembalikan peran yang menarik. Kali ini giliran si kecil Grogu yang merawat dan melindungi Mando. Grogu dengan telaten mengurus Mando, menyembunyikannya dari kejaran pemburu dan anjing pelacaknya yang bernama Keibu, bahkan sampai harus mencuri ikan dari makhluk lokal berwujud naga demi bertahan hidup bersama sang ayah.

Sisi audio di babak ini juga otentik, terutama dengan kembalinya musik instrumen khas The Mandalorian yang sukses memicu nostalgia penonton. Beruntung, makhluk naga tersebut baik hati dan meracik obat untuk menyembuhkan Mando. Begitu kesadarannya kembali, berkat dorongan kuat dari Grogu, Mando akhirnya memilih bertarung total daripada melarikan diri menggunakan kapal angkasa yang rusak.

Puncak film ini menyajikan aksi tempur yang memuaskan. Mando mengepung markas Hutt kembar, sementara Grogu menggunakan kekuatan The Force untuk membebaskan Rota dari jebakan. Ketegangan juga memuncak saat Mando berduel sengit dengan pemburu bayaran dan Hutt yang saling bergelut di atas sarang ular air.

Jajaran Pemeran

Pedro Pascal sebagai Din Djarin dalam film Star Wars: The Mandalorian and Grogu. Dok. Lucasfilm/Disney

Pedro Pascal kembali memerankan Din Djarin dengan baik. Meskipun wajahnya hampir sepanjang film tertutup helm zirah beskar, Pascal tetap mampu memerankan karakter Mando yang tegas sekaligus protektif sebagai seorang ayah lewat intonasi suaranya. Uniknya, dalam film ini, penonton bisa melihat wajah asli Pascal ketika adegan helm Mando diambil paksa oleh klan The Hutt saat ia tertangkap.

Kerentanan karakter Din Djarin tanpa helmnya ini memberikan dimensi emosional yang pas, sebelum akhirnya ia berhasil memakai kembali pelindung kepala tersebut setelah dibantu oleh aksi penyelamatan nekat dari Grogu. Untuk adegan aksi fisik di lokasi syuting, performa Pascal juga didukung penuh oleh dua pemeran penggantinya, Brendan Wayne dan Lateef Crowder.

Karakter Rota the Hutt sendiri mencuri perhatian berkat pengisi suaranya, Jeremy Allen White. White berhasil memberikan dimensi baru pada trah Hutt dengan mengisi suara Rota lewat perpaduan bahasa Galastic Basic dan Huttese yang emosional.

Karakter lainnya diperankan oleh Sigourney Weaver yang tampil karismatik sebagai Colonel Ward, pemimpin tegas dari Adelphi Rangers New Republic. Sementara itu, karakter utama Lord Janu diperankan secara dingin oleh Jonny Coyne. Film ini juga menghadirkan beberapa kejutan audio bagi penggemar, seperti cameo sutradara Martin Scorsese sebagai pengisi suara alien penjual rroti bernama Hugo, serta kembalinya Steve Blum sebagai pengisi suara Zeb Orrelios.

Alien mungil berwarna hijau imut bernama Grogu juga kembali menjadi bintang utama yang membuat penonton gemas lewat tingkah lakunya, sekaligus menjadi perekat emosi di sepanjang film. The Mandalorian and Grogu berhasil menjadi tontonan seimbang yang menghadirkan kemegahan audio-visual dan petualangan seru tetapi tetap terasa hangat. Lewat keputusan Rota untuk menetap di New Republic demi merajut takdirnya sendiri, film ini menjelma menjadi sebuah refleksi tentang bagaimana seseorang bisa memilih jalannya sendiri, lepas dari belenggu masa lalu dan bayang-bayang kelam.

IMANDA ZAHWA

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |